{"id":29527,"date":"2023-03-27T08:37:49","date_gmt":"2023-03-27T01:37:49","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=29527"},"modified":"2023-03-27T08:37:52","modified_gmt":"2023-03-27T01:37:52","slug":"senin-27-maret-2023-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=29527","title":{"rendered":"Senin, 27 Maret 2023"},"content":{"rendered":"\n<p>Sabda Kehidupan<br>Senin 27 Maret 2023<br>Yohanes 8:7b (Yoh 8:1-11)<br>\u201dBarangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes mengangkat kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawa ke hadapan Yesus untuk dimintai pendapatNya. Menurut Hukum Taurat hukumannya sudah jelas: seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah harus dilempari dengan batu sampai mati! (Ulangan 22:22-24). Tapi betapa dilematis bagi Yesus. Perempuan itu dibawa kepadaNya oleh para ahli Taurat dan orang Farisi untuk menjebak Yesus agar dapat menyalahkanNya. Bila Yesus mengatakan \u2018ya silahkan merajam dia\u2019 itu berarti Yesus setuju dengan pembunuhan dan Ia melawan hukum Romawi, penguasa Israel yang berwenang menjatuhkan hukuman. Bila Yesus mengatakan tidak boleh merajam perempuan itu, berarti Ia melawan hukum Taurat Musa.<br>Namun betapa agung kebijkasanaan Yesus menghadapi dilema ini. Ia tidak mengatakan ya atau tidak, tapi Ia mengetuk hati nurani orang-orang yang sudah siap dengan batu di tangan untuk dilemparkan. \u2018Coba lihatlah ke dalam diri, apakah engkau lebih suci, lebih benar, lebih baik dari perempuan itu.\u2019 Kesadaran diri ketika menghakimi orang lain, sangatlah penting dan mendasar, jangan sampai jatuh pada kesombongan rohani, merasa lebih suci dari yang lain. Malah, hukumannya akan berbalik saat hati nurani berbicara jujur bahwa ternyata sayapun tidak lebih baik dari orang lain.<br>Yesus sangat tidak kompromi dengan dosa. Ia membenci dosa tapi tetap mencintai si pendosa. Ada kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Yesus mengampuni perempuan itu dengan permintaan yang tegas: \u201cAkupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.&#8221; (Ayat 11).<br>Belaskasih dan pengampunan adalah isi hati Yesus, biarlah penyesalan dan pertobatan menjadi isi hati kita.<br>\u201dYa Yesus, bantu kami dengan Roh KudusMu menyadari kedosaan kami yang suka menghakimi dan merasa diri benar. Ampunilah kami. Biarlah teguranMu bagi orang Farisi dan ahli Taurat menjadi pengingat bagi kami untuk masuk ke dalam hati nurani, memeriksa batin sebelum memandang kedosaan orang lain.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Semangat Senin! Semangat baru membaharui diri&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br>Ps Revi Tanod Pr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda KehidupanSenin 27 Maret 2023Yohanes 8:7b (Yoh 8:1-11)\u201dBarangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.&#8221; Yohanes mengangkat kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawa ke hadapan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-29527","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/app-2023-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29527","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=29527"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29527\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29528,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29527\/revisions\/29528"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=29527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=29527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=29527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}