{"id":28763,"date":"2023-02-03T08:41:37","date_gmt":"2023-02-03T01:41:37","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=28763"},"modified":"2023-02-03T08:41:44","modified_gmt":"2023-02-03T01:41:44","slug":"jumat-03-februari-2023-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=28763","title":{"rendered":"Jumat, 03 Februari 2023"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SIRAMAN ROHANI<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pekan Biasa IV<br>Jumat, 03 Februari 2023<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BACAAN PERTAMA<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">IBRANI<br>13: 1 &#8211; 8<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">INJIL MARKUS<br>6: 14 &#8211; 29<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab namaNya sudah terkenal dan orang mengatakan: &#8220;Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.&#8221; Yang lain mengatakan: &#8220;Dia itu Elia!&#8221; Yang lain lagi mengatakan: &#8220;Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.&#8221; Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: &#8220;Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.&#8221; Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: &#8220;Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!&#8221; Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: &#8220;Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!&#8221;, lalu bersumpah kepadanya: &#8220;Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!&#8221; Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: &#8220;Apa yang harus kuminta?&#8221; Jawabnya: &#8220;Kepala Yohanes Pembaptis!&#8221; Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: &#8220;Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!&#8221; Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikianlah Sabda Tuhan<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">U: Terpujilah Kristus<\/h1>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SIRAMAN ROHANI<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pekan Biasa IV<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jumat, 03 Februari 2023<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP Fredy Jehadin, SVD<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tema:<br>Melakukan Kejahatan Fatal Kepada Orang Tidak Bersalah Selalu Menghantui Pikiran Dan Perasaan!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Markus 6:14 \u2013 29<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari\u2026 Saya yakin kita semua sudah mengalami rasa takut. Entah merasa takut kepada orang yang kita anggap musuh atau takut kepada orang yang pernah kita sakiti hatinya, atau takut kepada atasan yang sangat otoriter atau takut jalan sendirian di malam hari. Di saat kita mengalami rasa takut, maka reaksi tubuh kita pun bermacam-macam, ada yang berkeringat dingin, ada yang merasa lemas, ada yang merasa tubuhnya tegang, ada yang merasa tak-berdaya. Perbuatan jahat yang sangat fatal selalu menghatui pikiran dan perasaan kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari\u2026 Hari ini kita mendengar bahwa Herodes merasa sangat takut sesudah mendengar tentang Yesus. Orang mengira bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, yang sudah bangkit dari antara orang mati. Karena kebangkitan itu maka dia memiliki kekuatan dan kuasa melakukan mujizat. Orang lain mengatakan bahwa Yesus adalah Elia! Yang lain lagi mengatakan: \u201cDia seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.\u201d Mrk 6: 15 Tetapi menurut Herodes: \u201cDia adalah Yohanes yang sudah ia penggal kepalanya, dan kini bangkit kembali.\u201d Mrk 6: 16<br>Perbuatan jahat yang sangat fatal dari Herodes &#8211; memenggal kepada Yohanes &#8211; di masa lampau itu selalu menghantui pikiran dan perasaannya. Bathinnya selalu merasa tidak nyaman; selalu takut kepada apa atau siapa saja. Dia malah memperbenarkan apa yang dipikirkannya sendiri, bahwa Yesus adalah Yohanes yang bangkit dari kematian, walaupun hal itu samasekali tidak benar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari.. Lewat Injil hari ini kita mendengar bagaimana Herodes dengan sangat yakin katakan kepada orang lain: \u201cBukan\u2026 Dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan kini bangkit kembali.\u201d Markus 6:16. Pikiran itu muncul karena pengaruh rasa takut yang berlebihan. Kejahatan yang dilakukannya selalu menghatui pikiran dan perasaannya. Ketakutkan sudah melumpuhkan pikiran sehat Herodes. Dia takut, jangan-jangan \u2018Yohanes yang kini hidup kembali\u2019 akan membalas dendam dan membunuh dia; atau dia takut jangan-jangan Yesus &#8211; yang dianggapnya Yohanes itu &#8211; menjadi semakin terkenal dan memimpin partai politik untuk melawan kekuatan politiknya. Semua pikiran negatip ini keluar dari rasa takut yang berlebihan, yang dalam kenyataan sebenarnya bukanlah seperti yang dipikirkannya. Yesus Kristus adalah pribadi yang sangat berbeda dari Yohanes Pembaptis. Yesus Kristus adalah Mesias, sementara Yohanes adalah penyiap jalan bagi kedatangan Yesus Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari\u2026 Apakah kita juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Herodes? Apakah kita selalu memikul perasaan bersalah yang berlebihan sampai pikiran dan perasaan sehat kita pun menjadi lumpuh?<br>Marilah saudara-saudari, kalau kita pernah melakukan kesalahan terhadap sesama, carilah kesempatan untuk berdamai kembali agar kita boleh hidup aman. Janganlah biarkan kesalahan dan kebencian bersarang dalam perasaan dan pikiran kita. Semakin kita membiarkan kesalahan dan kebencian bersarang dalam diri kita, maka hidup kita tidak akan menjadi nyaman lagi, semangat hidup kita akan menjadi lumpuh, dan perasaan dan pikiran kita akan selalu dihantui oleh ketakutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita berdoa semoga Tuhan selalu menyadarkan kita untuk secepatnya berdamai dengan sesama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita memohon Bunda Maria, Ratu Damai untuk selalu mendoakan kita. Amen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIRAMAN ROHANI Pekan Biasa IVJumat, 03 Februari 2023 Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD BACAAN PERTAMA IBRANI13: 1 &#8211; 8 INJIL MARKUS6: 14 &#8211; 29 Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab namaNya sudah terkenal dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-28763","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28763"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28763\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28764,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28763\/revisions\/28764"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}