{"id":27703,"date":"2022-10-30T10:52:45","date_gmt":"2022-10-30T03:52:45","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27703"},"modified":"2022-10-30T10:52:46","modified_gmt":"2022-10-30T03:52:46","slug":"minggu-30-oktober-2022-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27703","title":{"rendered":"Minggu, 30 Oktober 2022"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sabda Kehidupan<br>Minggu 30 Oktober 2022<br>Lukas 19:2-4 (Luk 19:1-10)<br>Ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa Zakheus ingin berjumpa dengan Yesus? Mari kita bayangkan suasana batin Zakheus. Ia kepala pemungut cukai kota Yerikho. Kota Yerikho adalah kota besar, kota bersejarah, kota yang temboknya diruntuhkan Allah melalui Yosua, saat umat Israel masuk tanah terjanji. Kekuasaan Zakheus sangatlah besar. Ia kaya karena hasil korupsi. Ia juga kepala preman karena punya kaki tangan dan suka memeras orang. Ia disebut pengkhianat bangsa Israel karena bersekongkol dengan penguasa Roma dan menindas bangsa sendiri. Hati nurani Zakheus sedang menjerit karena dosanya yang bertimbun. Sekian lama berkubang dalam lumpur dosa membuatnya terus menerus dihantui rasa bersalah. Ia ingin punya hati yang damai. Samar-samar ia mendengar tentang Yesus yang penuh belas kasih dan atas nama Allah mengampuni dosa. Betapa hatinya rindu bertemu Yesus. Ia telah punya niat bertobat, berubah dan hidup sesuai nama yang disandangnya (Zacheus berarti \u2018yang murni dan saleh\u2019). Ia orang Yahudi, anak Abraham, anak Allah.<br><em>Yesus, yang datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, hatinya terpaut dengan kerinduan hati Zakheus untuk berjumpa dan bertobat. Jangan heran bila Yesus tahu ada yang rindu bertemu denganNya tapi berada di tempat tersembunyi, di atas pohon. Yesuspun berhenti dan menyapa Zakheus dengan namanya, padahal Yesus belum pernah bertemu dengannya. Yesus menyebut namanya dan menawarkan tinggal di rumahnya. Zakheus mengalami keselamatan oleh kehadiran Yesus dalam hidupnya.<\/em><br>Demikian halnya dengan kita. Bila hati kita rindu berjumpa dengan Yesus, penuh beban dosa dan kesalahan masa lalu, maka Yesus yang akan datang menemui kita. Rindukanlah Ia selalu dalam hidup, undanglah Dia tinggal di rumah hati kita dan biarlah Yesus memulihkan hidup kita, mengembalikan martabat kita sebagai anak yang dikasihi Bapa surgawi. Selalu ada tempat di hati Bapa bagi anakNya yang kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selamat Hari Minggu, selamat beribadah, damai di hati.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br>Ps Revi Tanod Pr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda KehidupanMinggu 30 Oktober 2022Lukas 19:2-4 (Luk 19:1-10)Ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-27703","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27703","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27703"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27703\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27704,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27703\/revisions\/27704"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27703"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27703"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27703"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}