{"id":27514,"date":"2022-10-10T13:51:59","date_gmt":"2022-10-10T06:51:59","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27514"},"modified":"2022-10-10T13:52:01","modified_gmt":"2022-10-10T06:52:01","slug":"senin-10-oktober-2022-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27514","title":{"rendered":"Senin, 10 Oktober 2022"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RENUNGAN HARIAN EMBUN SABDA, 10 Oktober 2022<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Senin Pekan Biasa XXVIII<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warna Liturgi: Hijau<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bacaan I<br>Gal 4:22-24.26-27.31-5:1<br>Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudara,<br>ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua orang anak,<br>seorang dari wanita yang menjadi hambanya dan seorang dari wanita yang merdeka. Tetapi anak dari wanita yang menjadi hambanya itu<br>diperanakkan menurut daging, dan anak dari wanita yang merdeka itu oleh karena janji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah suatu kiasan.<br>Sebab kedua wanita itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, yaitu Hagar. Tetapi yang lain adalah Yerusalem surgawi, yaitu wanita yang merdeka, ibu kita.<br>Karena ada tertulis,<br>&#8220;Bersukacitalah, hai wanita mandul yang tidak pernah melahirkan!<br>Bergembira dan bersorak-sorailah,<br>hai wanita yang tidak pernah menderita sakit bersalin!<br>Sebab wanita yang ditinggalkan suaminya<br>akan mempunyai anak lebih banyak daripada yang bersuami.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, saudara-saudara,<br>kita bukanlah anak-anak wanita hamba melainkan anak-anak dari wanita yang merdeka.<br>Sebab Kristus telah memerdekakan kita,<br>supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan tunduk lagi di bawah perhambaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikianlah sabda Tuhan!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bacaan Injil<br>Luk 11:29-32<br>Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekali peristiwa<br>Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia,<br>&#8220;Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.<br>Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe,<br>demikian pulalah<br>Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman<br>ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini<br>dan ia akan menghukum mereka.<br>Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih dari pada Salomo!<br>Pada waktu penghakiman<br>orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya.<br>Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat<br>waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus,<br>dan sungguh, yang ada di sini lebih dari pada Yunus!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikianlah sabda Tuhan!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">EMBUN SABDA:<br>&#8220;TANDA NABI YUNUS&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shalom salam damai sejahtera saudara dan saudariku terkasih dalam Kristus, senang berjumpa kembali dengan anda dalam permenungan Harian Sabda Tuhan, Embun Sabda, Senin, 10 Oktober 2022. Semoga anda sehat, tetap semangat, tetap tersenyum dan tetap berpengharapan pada Yesus. Anda selalu dalam lindungan kasih Tuhan. Buat saudara dan saudariku yang sakit, saya berdoa, dalam Nama Tuhan Yesus, anda sembuh. Saya ajak anda merenungkan:<br>&#8220;Tanda Nabi Yunus&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara dan saudariku terkasih dalam Kristus, kita, bangsa indonesia, masih dalam suasana duka setelah kejadian diStadion Kanjuruhan, Malang, yang menelan korban ratusan lebih. Kita menyesali apa yang terjadi ini. Kita mengutuknya. Lebih dari itu, tragedi sepakbola ini boleh dikatakan adalah tanda bahwa ada yang salah dalam pegelaran sepak bola dinegara ini, bukan soal bagaimana para pemain bermain, tetapi lebih soal hal hal teknis, misalnya: soal keamanan dalam pertandingan dan soal penyiaran TV. Dan juga tentunya soal kedewasaan dalam menyaksikan pertandingan secara langsung. Tanda ini kemudian menuntut perubahan, menuntut transformasi. Tanda ini tentunya menuntut &#8220;pertobatan&#8221;. Tentunya untuk keadilan, semua yang bertanggung jawab atas kejadian ini harus bertanggung jawab secara hukum. Terlepas dari itu, sekali lagi ini adalah tanda, kita harus berbenah, berbenah dan berbenah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara dan saudariku terkasih, nabi Yunus menjadi tanda bagi bangsa Niniwe. Nabi Yunus menjadi tanda dari Allah bahwa orang orang Niniwe harus segera bertobat. Mereka harus segera berbenah kalau mereka tidak mau mengalami murka Tuhan. Dan kita tahu, orang orang Niniwe bertobat. Mereka berhasil menang atas diri mereka sendiri, ketika mereka berani untuk mengambil langkah pertobatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara dan saudariku terkasih dalam Kristus, demikian pun Yesus adalah tanda dari Allah. Yesus adalah tanda Cinta dari Allah. Yesus adalah kasih Allah yang mengajak dan mengundang semua orang yang salah jalan, untuk kembali pada Allah. Yesus adalah tanda yang membawa keselamatan. Tetapi seperti kita dengar dalam Injil, bahwa sayangnya orang orang jaman itu banyak yang tidak menghiraukan itu atau dalam bahasa injil adalah angkatan yang jahat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara dan saudariku terkasih, setiap hari ada begitu banyak tanda kasih Tuhan bagi kita. Setiap hari kita mengalami tanda dari Tuhan. Sudahkah kita mengerti akan tanda tanda dari Tuhan? Sudahkah kita mengambil langkah transformasi bagi diri kita sendiri? Sudahkah kita memperbaharui diri? Sudahkah kita bertobat?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga kita sungguh sungguh menjadi anak anak yang sudah dimerdekakan Kristus, seperti kata Rasul Paulus, yang kita dengar dalam bacaan pertama. Kita tidak boleh lagi tunduk dibawah perhambaan dosa. Semoga. Amin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih karuniaMu. Ampunilah segala dosa dan salah kami, kelalaian kami. Bantulah kami agar kami terus berjuang untuk setia dan berkomitmen dalam mengikuti jalanMu. Tuhan, tolonglah kami. Amin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga kita semua, semua orang yang kita sayangi dan kasihi, segala usaha dan karya kita, dibimbing, dilindungi dan diberkati Allah yang Mahakuasa, Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salam dalam Sang Sabda,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP. Lukas Gewa Tiala (Adi), SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RENUNGAN HARIAN EMBUN SABDA, 10 Oktober 2022 Senin Pekan Biasa XXVIII Warna Liturgi: Hijau Bacaan IGal 4:22-24.26-27.31-5:1Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka. Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20,19],"tags":[],"class_list":["post-27514","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text","category-renungan-video","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27514"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27515,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27514\/revisions\/27515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}