{"id":27269,"date":"2022-09-11T21:02:33","date_gmt":"2022-09-11T14:02:33","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27269"},"modified":"2022-09-11T21:02:42","modified_gmt":"2022-09-11T14:02:42","slug":"27269","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27269","title":{"rendered":"Minggu, 11 September 2022"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">===============<br>HARI MINGGU BIASA XXIV<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Minggu, 11 September 2022<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">===============<br>BACAAN PERTAMA:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">YEHEZKIEL<br>32: 7 &#8211; 11. 13-14<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BACAAN KEDUA<br>1 TIMOTIUS<br>1: 12 &#8211; 17<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">INJIL LUKAS<br>15: 1 &#8211; 32<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: &#8220;Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.&#8221; Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: &#8220;Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.&#8221; &#8220;Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.&#8221; Yesus berkata lagi: &#8220;Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demikianlah Sabda Tuhan<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">U: Terpujilah Kristus<\/h1>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SIRAMAN ROHANI<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MINGGU, 11 SEPTEMBER 2022<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RP FREDY JEHADIN, SVD<br>&nbsp;<br>Tema:<br>Kembalilah Kepada Tuhan, Ia sangat Mencintai Kita!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lukas 15:1- 32<br>&nbsp;<br>Saudara-saudari\u2026 Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang dibenci para ahli Taurat dan orang \u2013 orang Farisi. Alasan kebencian mereka adalah karena Yesus begitu dekat dengan orang berdosa, makan bersama orang berdosa, dekat dengan pemungut cukai dan orang-orang yang secara social disingkirkan. Yesus adalah sahabat orang yang terpinggirkan dan mereka yang dibenci. Sikap Yesus ini sungguh bertentangan dengan sikap pemuka agama, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menjauhi para pendosa dan pemungut cukai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menanggapi kemarahan orang Farisi dan ahli Taurat ini, Yesus menampilkan perumpamaan domba, dirham dan anak yang hilang. Barang yang hilang ini dianggap sangat-sangat bernilai bagi pemiliknya. Karena sangat \u2013sangat bernilai makanya ia berkerja keras mencarinya sampai menemukannya kembali. Dan sesudah menemukannya, ia mengajak tetangganya untuk bersukacita bersama dia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari\u2026 Perumpamaan ini sesungguhnya mau melukiskan betapa besarnya cinta Tuhan kepada manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Ia diciptakan sesuai dengan gambaranNya sendiri. Karena itu manusia dianggapNya sebagai ciptaan yang sangat-sangat bernilai di mata Tuhan. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Tuhan sungguh merasa kehilangan besar. Sejak waktu itulah, Tuhan sudah merencanakan untuk menyelamatkan manusia. Puncak dari perwujudan rencana penyelamatan manusia itu, terjadi di saat PuteraNya, Yesus Kristus, dilahirkan ke dunia. Ia datang mencari manusia yang hilang dan membawanya pulang kepada Bapa.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara-saudari\u2026Dua poin penting yang harus kita ingat dan pelajari dari Yesus hari ini adalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1) Tuhan datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Dia datang mencari kita. Dia datang mau membawa kita kembali kepada Bapa. Kita semua berharga di mata Tuhan. Bersediakah kita untuk kembali memberi diri kepadaNya kalau kita sungguh sadar bahwa kita selalu hilang dari padaNya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2) Pengadilan Tuhan sangat berbeda dengan pengadilan duniawi. Pengadilan Tuhan sangat adil dan tepat. Dia mengadili kita atas dasar kasih. Di saat Dia menemukan kita dan kita memberi diri kepadaNya, Dia sungguh sangat bahagia, Dia merangkul kita, memangku kita. Dia tidak menghukum kita. Beda dengan pengadilan dunia. Di saat buronan ditemukan, maka dia diadili, disengsarakan, dihukum. Apakah kita mampu menerima sesama yang bersalah kepada kita dengan penuh kasih, memaafkannya?<br>&nbsp;<br>Marilah saudara-saudari\u2026. Kembalilah kepada Tuhan, kalau kita merasa diri sudah menjauh dari padaNya. Pertobatan kita mendatangkan sukacita yang sangat luar biasa bagi Tuhan. Ia sangat mencintai kita dan tidak menghendaki kita, ciptaanNya menghilang dari padaNya.<br>&nbsp;<br>Kita berdoa semoga kita selalu sadar akan keadaan kita di hadapa Tuhan, sesama dan diri sendiri dan secepat mungkin kembali kepada Tuhan kalau kita merasa sudah menjauh dari Tuhan karena dosa dan kesalahan kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>===============HARI MINGGU BIASA XXIV Minggu, 11 September 2022 Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD ===============BACAAN PERTAMA: YEHEZKIEL32: 7 &#8211; 11. 13-14 BACAAN KEDUA1 TIMOTIUS1: 12 &#8211; 17 INJIL LUKAS15: 1 &#8211; 32 Para pemungut cukai dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20,19],"tags":[],"class_list":["post-27269","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text","category-renungan-video","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27269"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27271,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27269\/revisions\/27271"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}