{"id":27,"date":"2013-12-05T10:53:45","date_gmt":"2013-12-05T03:53:45","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27"},"modified":"2013-12-05T10:53:45","modified_gmt":"2013-12-05T03:53:45","slug":"menghibur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=27","title":{"rendered":"Menghibur"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6362\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6365\"><span id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6364\" style=\"text-decoration: underline;\">MENGHIBUR<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6357\" align=\"center\">( M\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0o\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0t\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0i\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0v\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0a\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0s\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0i )<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6355\" align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6354\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Suatu kali saya mengikuti kebaktian atau\u00a0\u00a0<i>sembahyangan<\/i>\u00a0\u00a0pada keluarga yang berduka. Tiga hari yang lalu, salah satu anggota keluarganya dipanggil Tuhan.\u00a0\u00a0Semua anggota keluarga masih mengenakan pakaian berkabung yakni warna hitam. Namun suasana ini menjadi cair, ketika umat yang hadir di situ diminta untuk bergiliran menyanyikan lagu, bahkan ada yang berkelakar, sehingga keluarga yang berduka merasa terhibur.<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6349\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Orang yang berduka tentu ingin memiliki sahabat yang rela \u201cmendengarkan\u201d apa yang dirasakan.\u00a0\u00a0Di sinilah kita dapat menyimak apa yang ditulis penginjil, \u201cKami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis\u201d (Luk. 7: 32).\u00a0\u00a0Orang yang \u201cmenyanyikan kidung duka\u201d itu berharap bahwa ada yang sehati-seperasaan dengannya.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Harold S. Kushner dalam\u00a0\u00a0<i>Derita, Kutuk atau Rahmat\u00a0<\/i>\u00a0menulis, \u201cAda suatu kebiasaan yang elok dalam ibadat duka orang Yahudi yang disebut\u00a0<i>se\u2019udat havra\u2019ah<\/i>\u00a0\u00a0\u00a0yakni makan sebagai lambang pemenuhan. Sepulang dari makam, keluarga yang sedang berduka tidak dibenarkan mengambil makan sendiri (atau melayani orang lain). Orang-orang lain harus menyuapinya, melambangkan betapa masyarakat berhimpun di sekeliling mereka untuk memberikan dukungan dan mencoba mengisi kekosongan dalam dunia mereka\u201d (hlm. 143).<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6371\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Suasana seperti ini, sudah biasa dalam lingkungan kita. Ketika musibah menimpa salah satu anggota kampung, masyarakat, desa, maka orang-orang berbondong-bondong untuk ikut berduka. Mereka\u00a0<i>gotong royong<\/i>\u00a0atau<i>mapalus\u00a0\u00a0<\/i>(Bhs. Manado)<i>\u00a0<\/i>menyiapkan apa yang diperlukan bagi keluarga yang sedang berduka<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6373\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Pasti di antara kita pernah mendengar nama Ayub.\u00a0\u00a0Ketika menderita ia butuh teman-teman yang akan membiarkannya melampiaskan amarahnya, menangis dan meraung-raung. Ia tidak butuh teman yang mendorong-dorongnya agar menjadi teladan dalam hal kesabaran dan kesalehan bagi orang lain. Ia butuh orang lain yang\u00a0\u00a0berkata, \u201cBenar, yang terjadi atas dirimu sungguh-sungguh mengerikan dan tidak masuk akal,\u201d bukan orang yang berkata, \u201cBangkitlah, Ayub, kejadian itu belum seberapa.\u201d\u00a0\u00a0\u00a0Orang yang menghibur bukan menggurui maupun menasihati.\u00a0\u00a0Ia hanya perlu menjadi pendengar yang setia. Itu sudah lebih dari\u00a0\u00a0cukup.<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6375\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Suatu kali, ada seorang pastor yang mengunjungi umatnya yang sakit di Rumah Sakit. Ketika masuk di\u00a0<i>sal<\/i>, pastor ini hanya diam di samping umatnya selama 30 menit. Ia tidak bicara apa-apa, kemudian berpamitan\u00a0\u00a0untuk melanjutkan tugasnya yang berikut.\u00a0\u00a0Ketika orang yang sakit itu sembuh, ia mengucap terima kasih kepada pastor, katanya, \u201cKehadiran pastor selama saya sakit sungguh-sungguh luar biasa. Saya merasa bahwa keberadaan pastor pada waktu itu sangat menguatkanku. Terima kasih karena sekarang saya sudah sembuh!\u201d\u00a0\u00a0Penghiburan bagi orang yang sakit dan menderita adalah menjadi pendengar yang setia.<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6377\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Henri Nouwen (1932 \u2013 1996)\u00a0\u00a0dalam\u00a0\u00a0<i>Yang Terluka Yang Menyembuhkan<\/i>\u00a0menuis, \u201c\u2026. Kalau seorang wanita menderita karena kehilangan anaknya, pelayan Kristen tidak dipanggil untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia masih mempunyai dua anak lain yang tampan dan sehat di rumah. Ia ditantang untuk membantunya menyadari bahwa kematian anaknya menyatakan kebenaran bahwa ia sendiri juga dapat mati: kebenaran manusiawai yang juga berlaku bagi orang lain\u201d (hlm. 88).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Menghibur orang yang susah bukan berteori, namun terlebih mampu memahami apa yang dirasakannya (belarasa,\u00a0\u00a0<i>compassion<\/i>\u00a0\u00a0atau sehati seperasaan).\u00a0\u00a0Tidak ada hal yang membahagiaan bagi orang dimengerti dan dipahami orang lain ketika mengalami susah-derita atau berduka.<\/div>\n<div><i>Senin, 03 Desember 2013\u00a0\u00a0\u00a0<\/i><b>Rm. Markus Marlon MSC<br \/>\n<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6378\"><b>\u00a0<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6388\"><b id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6390\">Tulisan-tulisan Motivasi ini\u00a0\u00a0sudah dibukukan yang terbit\u00a0\u00a02\u00a0\u00a0bulan sekali. Sekarang sudah terbit edisi ke-4. Setiap Edisi ada 10 \u2013 12\u00a0tulisan dan terbit 40 halaman.<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6382\"><b id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6381\">Yang ingin mendapatkan buku-buku tersebut bisa hub:<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6383\"><b>E-mail:\u00a0<\/b><a href=\"mailto:zahir.5561@gmail.com\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow\" data-rapid_p=\"66\"><b>zahir.5561@gmail.com<\/b><\/a><b><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6386\"><b id=\"yui_3_10_3_1_1386213497727_6385\">Atau no HP: 0852.83.9955.61 atau 08964.8941.026<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGHIBUR ( M\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0o\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0t\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0i\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0v\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0a\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0s\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0i ) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Suatu kali saya mengikuti kebaktian atau\u00a0\u00a0sembahyangan\u00a0\u00a0pada keluarga yang berduka. Tiga hari yang lalu, salah satu anggota keluarganya dipanggil Tuhan.\u00a0\u00a0Semua anggota keluarga masih mengenakan pakaian berkabung yakni warna hitam. Namun suasana&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-27","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions\/28"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}