{"id":26999,"date":"2022-08-10T21:10:24","date_gmt":"2022-08-10T14:10:24","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=26999"},"modified":"2022-08-10T21:10:25","modified_gmt":"2022-08-10T14:10:25","slug":"kamis-11-agustus-2022-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=26999","title":{"rendered":"Kamis, 11 Agustus 2022"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Inilah perawan yang budiman, yang keluar menyongsong Kristus&nbsp;dengan pelita yang bernyala.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kata-kata terakhir seseorang yang mau meninggal selalu dicatat, diingat-ingat sebagai wasiat. Biasanya memang mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam. \u201cTuhan, betapa bahagia aku Kauciptakan!\u201d demikianlah ucapan Klara, yang berasal dari Assisi, pada akhir hidupnya sebagai biarawati. Rasa syukur atas hidup yang segar ini sekaligus mengungkapkan jalan hidupnya. Pada umur 18 tahun ia tertarik pada cara hidup Fransiskus dan lari dari rumah. Dialah Fransiskanes pertama dan pemimpin biara pertama Santa Klara di Assisi.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa yang penuh belas kaslih,&nbsp;dalam diri Santa Klara Engkau telah menumbuhkan cinta akan kemiskinan.&nbsp;Semoga berkat doanya kami mengikuti Kristus dengan semangat kemiskinan, supaya layak memandang Engkau dalam kerajaan surga.&nbsp;Demi Yesus Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yehezkiel 12:1-2<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cBerjalanlah seperti orang buangan di depan mereka pada siang hari.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tuhan bersabda kepadaku, \u201cHai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar, sebab mereka itu kaum pemberontak. Maka engkau, hai anak manusia, siapkanlah bagimu barang-barang seperti seorang buangan, dan berjalanlah seperti orang buangan di hadapan mereka pada siang hari. Berangkatlah dari tempatmu sekarang ini ke tempat lain seperti seorang buangan di depan mata mereka. Barangkali mereka akan insyaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak. Bawalah barang-barangmu itu ke luar seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari di depan mata mereka. Dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari di depan mata mereka, seperti seseorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan. Di depan mata mereka buatlah sebuah lubang, dan keluarlah dari situ. Di depan mata mereka taruhlah barang-barangmu di atas bahumu, dan bawalah itu ke luar pada malam gelap. Engkau harus menutupi mukamu, sehingga engkau tidak melihat tanah. Sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel.\u201d Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku: Aku membawa pada siang hari barang-barang seperti perlengkapan seorang buangan, dan pada malam hari aku membuat lubang di tembok dengan tanganku; pada malam gelap aku ke luar dan di hadapan mata mereka aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku. Keesokan harinya turunlah sabda Tuhan kepadaku, \u201cHai anak manusia, bukankah kaum Israel, kaum pemberontak itu bertanya kepadamu, \u2018Apakah yang kaulakukan ini?\u2019 Katakanlah kepada mereka, beginilah sabda Tuhan Allah, \u2018Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana\u2019. Katakanlah, \u2018Aku menjadi lambang bagimu. Seperti yang Kulakukan ini, begitulah akan berlaku bagi mereka; sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan. Dan raja mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap, dan akan pergi ke luar. Orang akan membuat sebuah lubang di tembok supaya baginya ada jalan ke luar, ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak melihat tanah itu\u2019.\u201d<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 78:56-57.58-59.61-62<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Ref.<\/em><em>&nbsp;Janganlah kita melupakan karya-karya Allah.<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, mereka murtad dan berkhianat seperti moyang mereka, mereka menyimpang seperti busur yang tak dapat dipercaya.<\/li><li>Mereka menyakiti hati Allah dengan mendirikan bukit-bukit pengurbanan, membuat Dia cemburu karena patung-patung pujaan mereka. Mendengar hal itu, Allah menjadi geram, Ia menolak Israel sama sekali.<\/li><li>Ia membiarkan andalan-Nya tertawan, membiarkan kebanggaan-Nya jatuh ke tangan lawan; Ia membiarkan umat-Nya dimangsa pedang, dan murkalah Ia terhadap milik pusaka-Nya.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :<em>&nbsp;Alleluya, alleluya<\/em><br>S : (Mzm 119:135)&nbsp;&nbsp;<em>Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 18:21 \u2013 19:1<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cAku berkata kepadamu, \u2018Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, \u201cTuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kalikah?\u201d Yesus menjawab, \u201cBukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.\u201d Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya, raja lalu memerintahkan supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual untuk membayar utangnya. Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya, \u201cSabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.\u201d Tergeraklah hati raja oleh belas kasih akan hamba itu sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapusnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya, \u201cBayarlah utangmu!\u201d Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya, \u201cSabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.\u201d Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai semua utangnya ia lunasi. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu dan berkata kepadanya, \u201cHai hamba jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan oleh karena engkau memohonnya. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?\u201d Maka marahlah tuannya dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya. Demikian pula Bapa-Ku di surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu. Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya berangkatlah Ia dari Galilea, dan tiba di daerah Yudea, di seberang Sungai Yordan.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Demikianlah Sabda Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWALAN OLEH Rm. Benediktus Mulyono SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Salam Jumpa Saudara-Saudari, bersama saya Rm Benediktus Mulyono SCJ dari Resistencia, Argentina dalam&nbsp;<strong>RESI<\/strong>&nbsp;(Renungan Singkat) Dehonian: Kamis, 11 Agustus 2022.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-Saudariku Yang Terkasih, Pertanyaan Petrus apakah mengampuni itu cukup sampai tujuh kali, menggambarkan pertanyaan dan masalah yang sering kita hadapi. Kita seperti Petrus memiliki konsep bahwa kesabaran itu ada batasnya, mengampuni ada syaratnya; bahkan tak jarang kita mengalami betapa sulit untuk mengampuni kesalahan kecil sekalipun yang dilakukan orang lain. Yesus menuntut kita para murid-Nya untuk mengampuni tanpa batas, tanpa syarat (tujuhpuluh kali tujuh kali). Lalu apakah hal itu mungkin untuk kita lakukan? Tentu saja mungkin bagi orang yang sungguh percaya dan mengasihi Yesus, seperti Yesus mengasihi kita orang berdosa.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-Saudariku Ytk, mengampuni adalah proses perjalanan hidup rohani seseorang yang sangat ditentukan oleh kedalaman relasinya dengan Yesus sendiri. Semakin kita merasakan secara pribadi bahwa Yesus sungguh-sungguh mencintaiku apa adanya; semakin bersyukur bahwa kita hidup dalam rengkuhan kerahiman belas kasih-Nya;&nbsp;<strong>mengampuni adalah hal yang sangat mungkin<\/strong>. Yesus memberi teladan bahwa IA mencintai orang berdosa, bahwa IA mengampuni orang yang menyalibkan tanpa orang itu meminta kepada-Nya. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kepenuhan kasih Allah dalam Diri-Nya telah menjadikan-Nya pribadi yang membawa pengampunan, membawa damai; bahkan keselamatan. Dengan demikian, mengampuni adalah sebuah pilihan bebas pribadi kita dari hati yang terdalam. Kemampuan seseorang mengampuni mengungkapkan tanda bahwa ia sungguh-sungguh hidup dalam kasih Allah; ia mengalami belas kasih kerahiman Tuhan secara nyata. Ia mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap konflik, salah paham, pertengkaran dan berbagai macam persoalan menyangkut relasi dengan orang lain.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-Saudariku Ytk, Mari kita menapaki perjalanan panjang perziarahan rohani hidup kita dengan selalu memohon Rahmat Roh Kudus agar memampukan kita untuk mencintai dan mengampuni. Yesus sudah sejak awal juga mengingatkan: \u201cJ<em>ikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Surga juga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu<\/em>\u201d (Mat 6:14-15).&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">\u201c<em>Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami, seperti Hati-Mu!\u201d&nbsp;<\/em>Berkat Allah menyertai kita semua: Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.&nbsp;Rm. Benediktus Mulyono SCJ&nbsp; (Komunitas SCJ, Resistencia, Provinsi Chaco \u2013 Argentina).<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang mahamurah,&nbsp;dalam diri Santa Klara Kaulebur manusia lama dan Kauciptakan manusia baru menurut citra-Mu.&nbsp;Semoga kami pun Kauperbaharui sehingga Engkau berkenan menerima kurban perdamaian yang kami rayakan ini.&nbsp;Demi Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 Lih. Matius 19:27-29.<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kalian telah meninggalkan segalanya dan mengikuti Aku. Kalian akan menerima ganjaran seratus kali lipat dan mewarisi hidup abadi.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa yang mahakuasa dan mahamulia,&nbsp;semoga berkat kekuatan sakramen ini kami belajar dari teladan Santa Klara.&nbsp;Kiranya kami mengutamakan Dikau di atas segala-galanya dan di dunia ini sudah hidup sebagai manusia baru.&nbsp;Demi Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3\">Resi-Kamis 11 Agustus 2022 oleh Rm. Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas Resistencia, Provinsi Chaco \u2013 Argentina \u2013 Argentina<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2022\/08\/10\/kamis-11-agustus-2022-peringatan-wajib-sta-klara-perawan\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=26999-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>St. Klara dari Asisi, Perawan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Klara dilahirkan sekitar tahun 1193 di Assisi, Italia. Ia hidup pada jaman St. Fransiskus dari Assisi. Klara menjadi pendiri suatu ordo religius para biarawati yang disebut \u201cOrdo Santa Klara (Klaris), OSCl\u201d Ketika Klara berusia delapan belas tahun, ia mendengarkan khotbah St. Fransiskus. Hatinya berkobar dengan suatu hasrat yang kuat untuk meneladaninya. Ia juga ingin hidup miskin serta rendah hati demi Yesus. Jadi suatu malam, ia melarikan diri dari rumahnya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Di sebuah kapel kecil di luar kota Assisi, Klara mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. St. Fransiskus menggunting rambutnya dan memberinya sehelai jubah coklat kasar untuk dikenakannya. Untuk sementara waktu, Klara tinggal bersama para biarawati&nbsp;<a href=\"https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/tag\/Benediktin.html\">Benediktin<\/a>&nbsp;hingga biarawati lainnya bergabung dengannya. Orangtua Klara mengupayakan segala usaha untuk membawanya pulang ke rumah, tetapi Klara tidak mau kembali. Tak lama kemudian Agnes, adiknya yang berusia lima belas tahun, bergabung dengannya. Para gadis yang lain pun ingin pula menjadi pengantin Kristus. Jadi, sebentar saja sudah terbentuklah suatu komunitas religius kecil.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St.Klara dan para biarawatinya menjalani pola hidup asketis yang ketat. Mereka tidak mengenakan sepatu, tidak pernah makan daging, tinggal di sebuah rumah sederhana dan hidup dalam keheningan dan tidak berbicara hampir sepanjang waktu. Namun demikian, para biarawati itu amat bahagia karena mereka merasa Yesus dekat dengan mereka.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Suatu ketika sepasukan tentara yang beringas datang untuk menyerang Kota Assisi. Mereka telah merencanakan untuk menyerang biara terlebih dahulu. Meskipun sedang sakit parah, St. Klara minta untuk dibopong ke altar. Ia menempatkan Sakramen Mahakudus di tempat di mana para prajurit dapat melihat-Nya. Kemudian Klara berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan para biarawati. \u201cYa Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi,\u201d doanya. Suatu suara dari hatinya terdengar berbicara: \u201cAku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku.\u201d Bersamaan dengan itu, suatu kegentaran hebat meliputi para prajurit dan mereka segera lari pontang-panting.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St. Klara menjadi priorin (=pemimpin) di biaranya selama empatpuluh tahun. Duapuluh sembilan tahun dari masa itu dilewatkannya dengan menderita sakit. Meskipun demikian, St. Klara mengatakan bahwa ia penuh sukacita sebab ia melayani Tuhan. Sebagian orang khawatir para biarawati tersebut menderita sebab mereka teramat miskin.<strong>&nbsp;\u201cKata mereka kita ini terlalu miskin, tetapi dapatkah suatu hati yang memiliki Allah yang Mahakuasa sungguh-sungguh miskin?\u201d<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St. Klara wafat pada tanggal 11 Agustus 1253. Hanya dua tahun kemudian ia dinyatakan kudus oleh&nbsp;<a href=\"https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/tag\/Paus.html\">Paus<\/a>&nbsp;Alexander IV.&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Arti Nama<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Berasal dari kata Latin&nbsp;<strong>\u201cClarus\u201d<\/strong>&nbsp;yang berarti&nbsp;<strong>\u201cTerang, Bercahaya, Terkenal\u201d<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Variasi Nama<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Clare, Claire, Clara, Kiara (English), Clara (Catalan), Klara (Croatian), Kl\u00e1ra (Czech), Klara (Danish), Claire, Clarisse (French), Clara, Klara (German), Kl\u00e1ra (Hungarian), Chiara, Clara, Clarissa, Chiarina, Claretta (Italian), Clara, Claritia (Late Roman), Kl\u0101ra (Latvian), Klara (Norwegian), Klara (Polish), Clara, Clarissa (Portuguese), Clara (Romanian), Klara (Russian), Kl\u00e1ra (Slovak), Klara (Slovene), Clara, Clarisa (Spanish), Klara (Swedish), Klara (Ukrainian)<\/h4>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_1927\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-26999-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=26999-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Kamis-11-Agustus-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA: Inilah perawan yang budiman, yang keluar menyongsong Kristus&nbsp;dengan pelita yang bernyala. PENGANTAR: Kata-kata terakhir seseorang yang mau meninggal selalu dicatat, diingat-ingat sebagai wasiat. Biasanya memang mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam. \u201cTuhan,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-26999","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26999","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26999"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26999\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27000,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26999\/revisions\/27000"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26999"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26999"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26999"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}