{"id":26952,"date":"2022-08-05T11:44:26","date_gmt":"2022-08-05T04:44:26","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=26952"},"modified":"2022-08-06T13:17:03","modified_gmt":"2022-08-06T06:17:03","slug":"jumat-05-agustus-2022-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=26952","title":{"rendered":"Jumat, 05 Agustus 2022"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sabda Kehidupan<br>Jumat 05 Agustus 2022<br>Matius 16:24-25 (Mat 16:24-28)<br>Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: &#8220;Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sudah menjadi kecenderungan diri manusia untuk mencari hal yang menyenangkan, mengejar kenikmatan dan menghindari derita. Sayang sekali gaya hidup egois atau hanya cinta diri ini ujungnya adalah kehampaan, hidup tanpa makna, atau kata Pengkotbah: kesia-siaan belaka (Pkb 1:2). Hidup tanpa makna adalah sama dengan kehilangan nyawa, sekalipun ia masih hidup. Yesus mengajak kita untuk mengikutiNya, jangan mengikuti dunia. Itu berarti kita dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, hidup untuk tujuan Tuhan, menempatkan kehendak Tuhan di atas kemauan diri sendiri, dan hidup bagi orang lain. Menyangkal diri dan memikul salib. Pengikut Yesus menjadi bagaikan sebuah lilin yang bercahaya bukan untuk diri sendiri serta siap lebur dan habis untuk menjadi terang. Ia memberi diri dengan menyalakan lilin yang lain, tapi anehnya ia sendiri tidak kehilangan nyala apinya. Menjadi seperti lilin ini kiranya menjadi perlambang menyangkal diri dan memikul salib. Saat tubuh dan jiwa terasa begitu lelah memikul salib pengorbanan, hati seakan hancur berbeban derita demi kebaikan sesama, datanglah kebahagiaan yang tak terperikan. Hidup menjadi penuh arti dan tak sia-sia. Memikul salib, menyangkal diri, rela kehilangan nyawa karena cinta, pada hakekatnya adalah kemuliaan Tuhan yang dianugerahkan pada setiap orang yang menjalaninya. Itulah hidup Yesus yang rela mengosongkan diri, menanggung sengsara dan memikul salib serta mati bagi semua orang. Itulah hidup yang paling membahagiakan karena menjadi seperti Kristus. Kini \u201cbukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.&#8221; (Gal 2:20).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selamat berbahagia memberi diri untuk misi Tuhan.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br>Ps Revi Tanod Pr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda KehidupanJumat 05 Agustus 2022Matius 16:24-25 (Mat 16:24-28)Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: &#8220;Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20,19],"tags":[],"class_list":["post-26952","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text","category-renungan-video","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26952","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26952"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26952\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26953,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26952\/revisions\/26953"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26952"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26952"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26952"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}