{"id":25368,"date":"2021-11-16T21:49:52","date_gmt":"2021-11-16T14:49:52","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=25368"},"modified":"2021-11-16T21:49:54","modified_gmt":"2021-11-16T14:49:54","slug":"rabu-17-november-2021-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=25368","title":{"rendered":"Rabu, 17 November 2021"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Mat 25:34.36.40<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Sebab Aku sakit dan kalian mengunjungi Aku.&nbsp;Sungguh Aku bersabda kepadamu: Apa saja yang kalian lakukan bagi saudara-Ku yang terhina sekalipun, itu kalian lakukan bagi-Ku.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah berkeluarga dalam waktu singkat, Elisabet kehilangan suaminya, yaitu seorang hertog di Turingen. Kematian suami itu menjadi permulaan jalan salibnya. Ia diusir dari istana dan tiga orang anaknya dirampas orang. Tetapi dengan tabah perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterimanya. Kekayaan yang masih ada padanya dibagi-bagikannya kepada orang miskin. Ia menjadi anggota Ordo ketiga Santo Fransiskus dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa para yatim piatu,&nbsp;Santa Elisabet melihat dan menghormati Kristus dalam diri kaum miskin. Semoga karena doa dan teladannya kami pun melayani orang malang dan papa dengan cinta kasih sejati.&nbsp;Demi Yesus Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan<\/strong><strong>&nbsp;dari Kitab Kedua Makabe 7:1.20-31<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cPencipta alam semesta akan memberi kembali roh dan hidup kepadamu.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka dipaksa oleh Raja Antiokhus Epifanes untuk makan daging babi yang haram. Ibu itu sungguh mengagumkan secara luar biasa. Ia layak dikenang baik-baik. Ia harus menyaksikan ketujuh anaknya mati dalam tempo satu hari saja. Namun demikian ia tetap menanggungnya dengan tabah dan besar hati karena harapannya kepada Tuhan. Dengan rasa hati yang luhur ia menghibur anaknya masing-masing dalam bahasanya sendiri penuh dengan semangat hukum. Dengan semangat jantan dikuatkannya tabiat kewanitaannya, lalu berkatalah ia kepada anak-anaknya, \u201cAku tidak tahu bagaimana kalian muncul dalam kandunganku. Bukan akulah yang memberi kalian nafas dan hidup atau menyusun anggota-anggota badanmu satu per satu, melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasih Tuhan akan memberi kembali roh dan hidup kepadamu, justru karena kini kalian memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya.\u201d Adapun Raja Antiokhus mengira, bahwa ibu itu menghina dirinya, dan ia menganggap bicaranya suatu penistaan. Anak bungsu yang masih hidup tidak hanya dibujuk dengan kata-kata, tetapi raja juga menjanjikan dengan angkat sumpah bahwa si bungsu akan dijadikannya kaya dan bahagia, asal saja ia mau meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya. Bahkan ia akan dijadikan sahabat raja, dan kepadanya akan dipercayakan pelbagai jabatan Negara. Oleh karena pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali, maka raja memanggil ibunya dan mendesak, supaya ia menasihati anaknya demi keselamatan hidupnya. Sesudah lama didesak barulah ibu itu menyanggupi untuk meyakinkan anaknya. Kemudian ia membungkuk kepada anaknya lalu dengan mencemoohkan penguasa yang bengis itu ia berkata dalam bahasanya sendiri, \u201cAnakku, kasihanilah aku yang sembilan bulan lamanya mengandungmu dan tiga tahun lamanya menyusui engkau. Aku pun sudah mengasuhmu dan membesarkanmu hingga umurku sekarang ini dan terus memliharamu. Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatu yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah menjadikan semuanya itu bukan dari barang yang sudah ada. Demikianlah bangsa manusia juga dijadikan. Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu dan terimalah maut itu, supaya aku mendapat kembali engkau bersama kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak.\u201d Belum lagi ibu itu mengakhiri ucapannya berkatalah pemuda itu, \u201cKalian menunggu siapa? Aku tidak akan taat kepada penetapan raja. Sebaliknya aku taat kepada segala ketetapan Taurat yang sudah diberikan oleh Musa kepada nenek moyang kami. Tetapi Baginda, yang menjadi asal usul segala malapetaka yang menimpa orang-orang Ibrani, pasti tidak akan luput dari tangan Allah.\u201d<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 17:1.5-6.8b.15<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Ref. Pada waktu bangun aku menjadi puas dengan hadirat-Mu, ya Tuhan.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Dengarkanlah Tuhan, pengaduan yang jujur, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, doa dari bibir yang tidak menipu.<\/li><li>Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidaklah goyah. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.<\/li><li>Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :<em>&nbsp;Alleluya<\/em><br>S : (Yoh 15:16)&nbsp;<em>Aku telah menetapkan kalian supaya kalian pergi dan menghasilkan buah yang takkan binasa, sabda Tuhan<\/em>. Alleluya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 19:11-28<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cMengapa uangku tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang?\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada waktu Yesus sudah dekat Yerusalem, orang menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera nampak. Maka Yesus berkata, \u201cAda seorang bangsawan berangkat ke negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja. Sesudah itu baru ia akan kembali. Maka ia memanggil sepuluh orang hambanya, dan memberi mereka sepuluh mina, katanya, \u2018Pakailah ini untuk berdagang sampai aku kembali\u2019. Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan, \u2018Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami\u2019. Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Yang pertama datang dan berkata, \u2018Tuan, mina Tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina\u2019. Katanya kepada hamba itu, \u2018Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik. Engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.\u2019 Datanglah yang kedua dan berkata, \u201cTuan, mina Tuan telah menghasilkan lima mina\u2019. Katanya kepada orang kedua itu, \u2018Dan engkau, kuasailah lima kota\u2019. Dan hamba yang ketiga datang dan berkata, \u2018Tuan, inilah mina Tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan Tuan, karena Tuan adalah manusia yang keras. Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh, dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur\u2019. Kata bangsawan itu, \u2018Hai hamba yang jahat! Aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tau, aku ini orang yang keras. Aku mengambil apa yang tidak pernah kutaruh dan menuai apa yang tidak kutabur. Jika demikian mengapa uangku tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya\u2019. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ, \u2018Ambillah mina yang satu itu dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu\u2019. Kata mereka kepadanya, \u2018Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina\u2019. Ia menjawab, \u2018Aku berkata kepadamu, setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku\u2019.\u201d Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.<br>Demikianlah Injil Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Br. Markus Triyono Yulianto SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bapak ibu dan saudara saudari sahabat renungan singkat Dehonian yang diberkati Tuhan, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk hening merenungkan Injil yang baru saja kita dengarkan. Injil pada hari ini berbicara apa untuk kita dan pesan apa yang dapat kita petik untuk iman dan hidup kita.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bapak ibu dan saudara saudari sahabat renungan singkat Dehonian yang diberkati Tuhan, pada pekan ini dalam liturgi gereja memasuki minggu ke 33. Bacaan-bacaan Injil yang kita dengarkan berkaitan dengan akhir jaman. Begitu juga dengan bacaan Injil hari ini Rabu 17 November ini. Injil yang kita dengarkan pada hari ini yaitu perumpanaan yang disampaikan Yesus tentang seseorang yang akan dinobatkan sebagai seorang raja. Sebelum berangkat bangsawan tersebut memberikan mina kepada hamba-hambanya dan setelah sekembalinya, setelah menjadi raja akan mengadakan perhitungan kepada hamba-hambanya tersebut.&nbsp;Dalam perumpamaan tersebut, bangsawan yang akan pergi untuk dimobatkan sebagai raja adalah Yesus sendiri. Mina yang diberikan kepada hamba-hambanya adalah talenta atau anugerah yang Yesus berikan kepada manusia. Dan setelah menjadi Raja Yesus akan datang kedua kalinya di akhir jaman untuk mengadakan perhitungan kepada para hamba-hambanya yang telah diberi-Nya talenta atau rahmat dari Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bapak ibu dan saudara saudari sahabat renungan singkat Dehonian yang diberkati Tuhan, sebagai umat beriman Kristiani kita mengenal bahwa Yesus adalah Raja semesta Alam, Hakim yang adil yang setelah kenaikan-Nya ke surga akan datang kembali untuk mengadili umat manusia.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Apa yang dapat kita renungkan melalui perikopa tersebut? Kita sebagai umat Kristiani merupakan hamba-hamba Yesus yang menerima anugerah atau talenta dari-Nya. kita diberikan kebebasan dalam mengembangkan talenta atau anugerah yang Yesus anugerahkan dengan Cuma-Cuma kepada kita. Tetapi perlu diingat bahwa diakhir jaman Yesus akan datang sebagai Raja yang akan menghakimi manusia dengan mengadakan perhitungan atas iman, dan perbuatan kita. Bukan kita tidak percaya akan karya keselamatan dan kerahiman Allah kepada manusia tetapi pertama-tama kita diajak untuk mewujudkan iman kita dengan perbuatan-perbuatan kasih kepada sesama seperti yang dianugerahkan Allah kepada kita. Dan marilah kita mengembangkan rahmat yang dianugerahkan kepada kita masing-masing sehingga semakin banyak orang mengalami kasih Allah dan dibawa pada karya keselamatan Allah.&nbsp;Tuhan memberkati. Amin.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang mahamurah,&nbsp;terimalah kiranya persembahan umat-Mu yang mengenangkan karya cinta kasih Putera-Mu, yang dilanjutkan oleh Santa Elisabet dengan setia. Semoga hati kami Kaukobarkan dengan cinta kasih, sehingga karya-Mu dewasa ini tetap berlangsung.&nbsp;Demi Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 Yoh 15:13<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tiada cinta kasih yang lebih besar daripada cinta kasih orang,&nbsp;yang menyerahkan nyawanya untuk sahabatnya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa maha pengasih,&nbsp;semoga berkat kekuatan santapan suci ini kami dapat mengikuti tel adan Santa Elisabet. Ia mengabdi Engkau tanpa kenal lelah dan menanamkan cinta kasih nyata di tengah umat-Mu.&nbsp;Demi Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<p>Resi-Rabu 17 November 2021 oleh Br. Markus Triyono Yulianto SCJ dari Komunitas SCJ Postulat-Novisiat Gisting Lampung Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2021\/11\/16\/rabu-17-november-2021-peringatan-wajib-sta-elisabeth-dari-hungaria\/<\/p>\n\n\n\n<p>Link Audio http:\/\/katolikindonesia.com\/2021\/11\/16\/rabu-17-november-2021\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=25368-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_7368\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-25368-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3\">http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=25368-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"KI-2021-11-17-Br-Markus-Triyono-Yulianto-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Postulat-Novisiat-Gisting-Lampung-Indonesia.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Mat 25:34.36.40 Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Sebab Aku sakit dan kalian mengunjungi Aku.&nbsp;Sungguh Aku bersabda kepadamu: Apa saja yang kalian lakukan bagi saudara-Ku yang terhina sekalipun, itu kalian lakukan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1],"tags":[],"class_list":["post-25368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=25368"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25369,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25368\/revisions\/25369"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=25368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=25368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=25368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}