{"id":2520,"date":"2014-09-08T22:56:53","date_gmt":"2014-09-08T15:56:53","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=2520"},"modified":"2014-09-08T22:56:53","modified_gmt":"2014-09-08T15:56:53","slug":"selasa-9-september-2014","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=2520","title":{"rendered":"Selasa, 9 September 2014"},"content":{"rendered":"<div>Petrus Klaver, Frederik Ozanam<\/div>\n<div><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Kor6:1-11;\" target=\"_blank\">1Kor. 6:1-11<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm149:1-2;Mzm149:3-4;Mzm149:5-6;Mzm149:9;\" target=\"_blank\">Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Luk6:12-19;\" target=\"_blank\">Luk. 6:12-19<\/a>.<br \/>\nBcO\u00a0<a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=2Ptr2:1-8;\" target=\"_blank\">2Ptr. 2:1-8<\/a><\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/?powerpress_pinw=3739-podcast&amp;powerpress_player=default\" height=\"50\" width=\"320\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/div>\n<div>\n<p align=\"justify\">Santo Petrus Klever, Pengaku Iman<\/p>\n<p align=\"justify\">Imam Yesuit dari Spanyol ini lahir di Verdu, Katalonia pada tahun 1581. Selama 40 tahun ia berkarya sebagai misionaris di antara pada budak belian Negro di Kartagena, Kolumbia. Semasa mudanya, ia belajar di Universitas Barcelona. Disini ia berkenalan dengan imam \u2013 imam Serikat Yesus dan mulai tertarik dengan cara hidup mereka. Setelah menyelesaikan studinya di Barcelona, ia masuk novisiat Serikat Yesus di Tarragona pada tahun 1601. Dari sana ia dikirim pembesarnya ke kolose Montesione di Palma Mayorca. Di kolose ini ia bertemu dan bersahabat dengan bruder Alphonsus Rodriquez, penjaga pintu kolose. Bruder inilah yang membimbing dia tentang cara hidup penyangkalan dan penyerahan diri semata \u2013 mata kepada Tuhan. Alphonsus jugalah yang mendorong dan menyemangati dia untuk menjadi rasul bagi para budak Negro di Amerika Selatan.<\/p>\n<p align=\"justify\">Pada tahun 1610 selagi masih belajar di Seminari, atas permintaannya sendiri Petrus Klever dikirim ke Kartagena, Kolumbia, pantai Utara Amerika Selatan. Kartagena adalah kota pelabuhan yang sangat ramai dan merupakan pintu gerbang masuknya para budak Negro yang didatangkan dari Afrika. Dikota inilah Petrus mengabdikan seluruh hidupnya demi keselamatan para budak Negro yang malang itu.<\/p>\n<p align=\"justify\">Di kota Kartagena, Petrus ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1616, disusul kemudian dengan pengikraran kaul kekalnya. Ketika mengucapkan kaul kekalnya, ia menambahkan sebagai kaul keempat suatu janji untuk bekerja semata \u2013 mata bagi orang \u2013 orang Negro yang dipekerjakan di tambang \u2013 tambang emas Kartagena. Dia minta dengan sangat agar tidak dipindahkan ke tempat lain. Sejak saat itu Petrus menjadi \u201cbudak para budak\u201d demi keselamatan mereka. Petrus mengabdikan dirinya baik di bidang perawatan kesehatan jasmani maupun jiwanya.<\/p>\n<p align=\"justify\">Ia mewartakan Injil dan mengajar mereka tetang kasih Kristus. Dalam 40 tahun karyanya, ia berhasil mempermandikan 300.000, tidak hanya orang \u2013 orang Negro tetapi juga para pelaut, pedagang dan para pemimpin \u2013 pemimpin kota itu.<\/p>\n<p align=\"justify\">Bagi orang \u2013 orang yang sakit dan miskin, ia menyediakan obat \u2013 obat, makanan dan pakaian. Banyak mukzijat dilakukannya terutama untuk menyembuhkan orang \u2013 orang sakit. Mantelnya yang dikenakannya pada sisakit selalu menyemburkan bau harum semerbak dan dapat menyembuhkan mereka.<\/p>\n<p align=\"justify\">Tuhan menyertai dan memberkati Petrus dan karyanya. Kesuciannya lambat laun diketahui seluruh penduduk kota. Para pemimpin masyarakat yang semula tidak senang padanya karena usahanya membela para budak itu, mulai tertarik dan mengaguminya. Petrus kemudian jatuh sakit keras selama 4 tahun dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 8 September 1654, tepat dengan pesta kelahiran Santa Perawan Maria. Para pemimpin kota memerintahkan agar Petrus Klaver dimakamkan secara meriah atas biaya mereka sendiri.Oleh Paus Leo XIII, Klaver dinyatakan sebagai kudus pada tahun 1888, dan diangkat sebagai pelindung karya misi ditengah dunia Negro.<\/p>\n<p>Sumber<br \/>\nhttp:\/\/imankatolik.or.id\/kalender\/9Sep.html<br \/>\n<audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-2520-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/FJ2014-09-09-KUJAWAB-YA-TUHAN-JOHAN-NG.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/FJ2014-09-09-KUJAWAB-YA-TUHAN-JOHAN-NG.mp3\">http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/FJ2014-09-09-KUJAWAB-YA-TUHAN-JOHAN-NG.mp3<\/a><\/audio><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petrus Klaver, Frederik Ozanam 1Kor. 6:1-11;\u00a0Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b;\u00a0Luk. 6:12-19. BcO\u00a02Ptr. 2:1-8 Santo Petrus Klever, Pengaku Iman Imam Yesuit dari Spanyol ini lahir di Verdu, Katalonia pada tahun 1581. Selama 40 tahun ia berkarya sebagai misionaris&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":835,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2520","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/dipilih-untuk-melayani.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2520","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2520"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2521,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions\/2521"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}