{"id":24488,"date":"2021-07-07T21:02:43","date_gmt":"2021-07-07T14:02:43","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=24488"},"modified":"2021-07-07T21:02:45","modified_gmt":"2021-07-07T14:02:45","slug":"talk-show-serial-1-katedral-sejarah-misi-di-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=24488","title":{"rendered":"TALK SHOW Serial 1 : Katedral &#038; Sejarah Misi di Surabaya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misi adalah perutusan dari Tuhan Yesus sendiri. Secara lebih konkret adalah perutusan Gereja bagi para misionaris, untuk pergi ke segala penjuru dunia demi mewartakan Injil dan kabar gembira.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awal kisah perjalanan Paroki Hati Kudus Yesus Surabaya terjadi saat seluruh wilayah Hindia Belanda menjadi lahan misi dari para Romo Ordo Jesuit pada tahun 1859 yang menggantikan para Romo Projo Belanda. Hingga pada tahun 1920 dibelilah tanah di Anita Boulevard (yang sekarang menjadi Jl. Polisi Istimewa) untuk dijadikan gereja. Setahun kemudian diresmikan dan diberkati sebagai Gereja Paroki Hati Kudus Yesus (HKY), Surabaya. Tahun 1923, gereja tersebut diserahkan kepada para Romo dari Kongregasi Misi (CM). Pada tahun 1961, HKY menjadi Katedral dibawah kepemimpinan Mgr. Johannes Antonius Maria Klooster.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Edisi pertama dari 12 Serial Talkshow spesial HUT Paroki Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya ini menceritakan sejarah misi, Gereja hingga menjadi Gereja Katedral, Gereja pusat di Keuskupan Surabaya yang berangkat dari perintah Tuhan Yesus kepada kita untuk pergi dan bermisi. (Komsos-KS\/Teja)<br>Sumber KOMSOS Keuskupan Surabaya<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Misi adalah perutusan dari Tuhan Yesus sendiri. Secara lebih konkret adalah perutusan Gereja bagi para misionaris, untuk pergi ke segala penjuru dunia demi mewartakan Injil dan kabar gembira. Awal kisah perjalanan Paroki Hati Kudus&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14137,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-24488","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/lilin_dan_salib-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/24488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=24488"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/24488\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24489,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/24488\/revisions\/24489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=24488"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=24488"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=24488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}