{"id":232,"date":"2014-01-05T18:24:09","date_gmt":"2014-01-05T11:24:09","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=232"},"modified":"2014-02-18T11:37:44","modified_gmt":"2014-02-18T04:37:44","slug":"senen-6-januari-2014","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=232","title":{"rendered":"Senin, 6 Januari 2014"},"content":{"rendered":"<div>Didakus Yosef dr Sadiz<\/div>\n<div><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Yoh3:22-99;1Yoh4:1-6;\" target=\"_blank\">1Yoh. 3:22 &#8211; 4:6<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm2:7-8;Mzm2:10-11;\" target=\"_blank\">Mzm. 2:7-8,10-11<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mat4:12-17;Mat4:23-25;\" target=\"_blank\">Mat. 4:12-17,23-25<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<div>\n<p align=\"justify\">Kaspar, Melkior dan Balthasar, Tiga Raja<br \/>\nPeristiwa kelahiran Yesus dilukiskan dengan berbagai cerita manarik. Salah satu cerita itu adalah kisah kunjungan orang &#8211; orang Majus dari Timur ke Betlehem dalam Injil Mat2:1-18.<\/p>\n<p align=\"justify\">Mulanya istilah Majus (dari kata Magus) dikenakan pada sekelompok imam yang dikenal sebagai ahli &#8211; ahli perbintangan dan pada orang &#8211; orang bijak di kalangan suku bangsa Medes dan Persia. Pada zaman Yesus, istilah majus berarti ahli nujum dan ahli sihir yang terdapat di semua bangsa. Terdapat banyak cerita mengenai orang &#8211; orang itu, seperti cerita tentang tiga sarjana atau Raja Timur: Kaspar, Melkior dan Balthasar. Dalam tradisi Kristen, Kaspar, Melkior dan Balthasar dikenal sebagai sarjana &#8211; sarjana dari Timur yang datang ke Betlehem untuk menyembah Kanak &#8211; Kanak Yesus.<\/p>\n<p align=\"justify\">Nama ketiga orang ini tidak ada dalam naskah &#8211; naskah Kitab Suci. Injil Matius yang dipakai sebagai sumber cerita dalam tradisi Kristen tidak membeberkan nama ketiga orang itu. Matius hanya secara umum mengatakan: &#8220;Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang &#8211; orang Majus dari Timur Yerusalem dan bertanya &#8211; tanya: &#8220;Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.&#8221;(Mat2:1-2). Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupakan refleksi lebih lanjut dari orang &#8211; orang Kristen atas kisah Injil Matius tersebut. Dalam kaitannya perlu dicatat maksud Matius dengan kisah ini. Matius menulis Injilnya kepada orang &#8211; orang Yahudi yang telah berabad &#8211; abad mengharapkan datangnya sang Mesias Terjanji, figur raja yang akan memperbaharui kerajaan Israel dan menyemarakkan kembali kebanggaan nasional Israel atas bangsa &#8211; bangsa lain. Maksud Matius dengan kisah ini adalah, bahwa seperti orang &#8211; orang Majus, semua orang harus mencari dan menemukan Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala bangsa dan jaman; Kristus datang tidak hanya untuk bangsa Yahudi\/Israel saja tetapi juga untuk semua orang dari segala bangsa yang merindukan keselamatan dari Allah.<\/p>\n<p align=\"justify\">Biasanya pada tanggal 6 Januari, huruf pertama dari ketiga nama orang Majus itu bersama dengan tahun yang sedang berlangsung (&#8220;19 + K = M = B + 91&#8221;) dituliskan pada pintu &#8211; pintu rumah untuk mengenyahkan malapetaka dari rumah dan penghuninya.<\/p>\n<p align=\"justify\">Sumber\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/6Jan.html\">http:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/6Jan.html<\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Didakus Yosef dr Sadiz 1Yoh. 3:22 &#8211; 4:6;\u00a0Mzm. 2:7-8,10-11;\u00a0Mat. 4:12-17,23-25 Kaspar, Melkior dan Balthasar, Tiga Raja Peristiwa kelahiran Yesus dilukiskan dengan berbagai cerita manarik. Salah satu cerita itu adalah kisah kunjungan orang &#8211; orang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-232","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/2014-01-05-09.54.25.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=232"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":691,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232\/revisions\/691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}