{"id":23165,"date":"2021-02-17T21:25:40","date_gmt":"2021-02-17T14:25:40","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=23165"},"modified":"2021-02-17T21:25:42","modified_gmt":"2021-02-17T14:25:42","slug":"kamis-18-februari-2021-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=23165","title":{"rendered":"Kamis, 18 Februari 2021"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2014 lih. Mazmur 55:17.20.23\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ketika aku berseru kepada Tuhan, la mendengarkan daku dan membebaskan daku dari musuh-musuhku. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan, dan Dia akan menolong engkau.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Masa Prapaskah bukan hanya masa pantang dan puasa. Sebagai persiapan Paskah, kita perlu memperbarui diri: Siapakah Yesus itu? Sejauh mana kita mengikuti jejak-Nya? Yesus akan men derita dan wafat, tetapi pada hari ketiga akan bangkit. Dialah yang harus kita ikuti dengan memanggul salib kita sehari-hari.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa pangkal dan tujuan kegiatan kami, terangilah hati dan budi kami dalam merencanakan pekerjaan kami. Dampingilah kami dalam melaksanakannya dan berikanlah rahmat-Mu untuk menyelesaikannya dengan baik. Demi Yesus Kristus, \u2026\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU: \u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa, pangkal dan tujuan kegiatan kami, bimbinglah kami selalu, agar hidup kami selaras dengan sabda-Mu. Berkatilah kami dalam usaha mencari damai-Mu. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, \u2026.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Ulangan 30:15-20<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cPada hari ini aku menghadapkan kepadamu: berkat dan kutuk.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Di padang gurun di seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, \u201cIngatlah, pada hari ini aku menghadapkan kepadamu kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan. Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan serta peraturan-Nya. Dengan demikian engkau hidup dan bertambah banyak, dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri yang kau masuki untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, apalagi jika engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka pada hari ini aku memberitahukan kepadamu bahwa pastilah kamu akan binasa, dan tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi Sungai Yordan, untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati, baik engkau maupun keturunanmu, yaitu dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Sebab hal itu berarti hidup bagimu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.\u201d<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 1:1-2.3.4.6<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ref.&nbsp;<em>Bahagia kuterikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhanku<\/em><\/strong><br><strong>atau&nbsp;<em>Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan.<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.&nbsp;<\/li><li>Ia seperti pohon, yang di tanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.&nbsp;<\/li><li>Bukan demikianlah orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>U :&nbsp;Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal<\/em><br>S : (Mat 10:7)&nbsp;<em>Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 9:22-25<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cBarangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Kata-Nya kepada mereka semua, \u201cSetiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?\u201d<br>Demikianlah Injil Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Y.A.M Fridho Mulya, SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Vivat Cor Jesus per Cor Mariae.<\/em>&nbsp;Hidup Hati Jesus melalui Hati Bunda Maria.<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para Pendengar Resi Dehonian yang setia, berjumpa dengan saya Romo Y.A.M Fridho Mulya, SCJ dari Komunitas Dehon Metro, Lampung, dalam RESI (Renungan Singkat) Kamis, 18 Februari 2021. Hati Kudus Yesus menjiwai Anda sekalian.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Mari kita membaca&nbsp;<strong>Lukas 9:22-25<\/strong>&nbsp;<strong><em>Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia<\/em>,<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Yesus berkata: \u201cAnak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.\u201d Kata-Nya kepada mereka semua: \u201cSetiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kita memasuki masa prapaska, masa puasa hari kedua sesudah Rabu Abu. Pada masa puasa ini, oleh Lukas kita diajak untuk merenungkan peristiwa Yesus dan meneladaniNya bagi kehidupan kita.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ketika kita mendengar sabda Yesus ini, para MuridNya dan juga kita, penuh tanda tanya. Kita adalah pengikut dan murid Yesus. Yesus adalah Andalan hidup. Penyelamat, Manusia Pilihan, Manusia Tuhan. Tetapi mengapa mengalami nasib yang \u201ctragis\u2019, \u201cAnak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.\u201d Menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam Kepala dan Ahli Taurat, dibunuh. Sungguh tidak bisa dimengerti. Lalu timbul pertanyaan lain, masihkah mau ikut Yesus dan jadi muridNya, bisa bisa kita juga akan mengalami situasi sama seperti Yesus.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tetapi dalam kenyataan, kadang kita juga mengalami situasi sama seperti Yesus, meski tidak persis sama. Pengalaman kecil, di awal saya sebagai orang Katolik sekitar 1967, pada suatu hari Minggu ketika orang-orang Katolik pergi ke Gereja, pada jalan yang dilewati ada sekelompok orang kerja bakti\/gotong royong. Mereka mengecap kami sebagai gerombolan pemalas, tak mau bermasyarakat, tidak mau kerja bakti. Dan di laporkan ke Kodim, Kodim memanggil dan menyidang, dan dicap untuk hal yang sama. Perwakilan Katolik dengan berani mengatakan, \u201cHari Minggu adalah hari Tuhan, kami harus beribadah kepada Tuhan lebih dahulu. kami cinta Tuhan lebih dari segala sesuatu, dari Tuhan kami menimba kekuatan. Kami bukan pemalas, bukan tidak mau gotong royong\/kerja bakti. Kerja bakti dan bermasyarakat bisa dilakukan sesudah ibadah atau hari lain. Kodim tak bisa melarang apapun\u201d Sejak saat itu, ibadah Minggu lancar-lancar saja. Ada juga orang Katolik yang mengalami kesulitan jadi Kepala Sekolah, naik pangkat dalam pekerjaan, dikucilkan dalam pergaulan, karena imannya kepada Yesus. Bahkan pandemi covid-19 ini juga dialami bagai badai yang menggoncang semdi-sendi kehidupan, yang siapa saja tidak bisa menghindar. Takut, stress, bingung, depresi, tertekan, tidak bahagia. Menghantui hidup manusia, gelam dan gelap.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Jika mengalami situasi seperti itu, apa lalu mundur dari Yesus, menolak Yesus, bila \u201ciya\u201d berarti imannya bagai \u201cbenih yang jatuh di bebatuan atau semak duri. Tumbuh sebentar, karena kurang air atau tanaman dihimpit semak duri lalu mati.. Memang ada pengikut Yesus yang demikian. Iman tidak mengakar dalam hidup. Iman dangkal dan mudah luntur, karena itu \u201cluntur\u201d tidak ditanggung.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tetapi banyak dan banyak sekali, milyaran Pengikut Yesus, termasuk saya dan Anda para Pencinta Hati Kudus ini, yang imannya kokoh kuat yang tertancap, disemen dengan beton. Mendarah-daging, \u201cmbalung-sumsum\u201d sama sekali tidak tergoncangkan oleh badai apapun. Meniru dan meneladani Yesus Sang Guru, \u201c<strong>dibangkitkan pada hari ketiga<\/strong>.\u201d Setelah mengalami berbagai badai kehidupan dan tantangan ada kebangkitan. \u201cHabis gelap terbitlah terang\u201d (R.A Kartini).<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sabda Yesus,&nbsp; \u201cbarangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya\u201d, &nbsp;mengajak, siapapun yang mau mengikuti-Nya untuk:<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Menyangkal diri, dengan mengutamakan dan menomor satukan kehendak Tuhan. Membangun pemahaman iman bahwa keselamatan hanya berasal dari Tuhan, tidak bisa dilakukan dengan cara sendiri. Tuhanlah yang menjadi penguasa (tuan) di dalam kehidupan kita. Kita &nbsp;tidak melakukan apa yang menjadi keinginan diri sendiri, tetapi keinginan Tuhan. Berani mengesampingkan apa yang menjadi kepentingan sendiri demi mengarahkan kehidupannya pada apa yang menjadi kepentingan Tuhan, kepentingan Kerajaan Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Memanggul salib. Pada zaman Romawi, seorang yang dijatuhi hukuman salib dipaksa untuk memikul sendiri salibnya dari tempat hukuman sampai ke tempat penyaliban. Dia dipertontonkan bahwa telah berrsalah pada negara dan tunduk pada negara, yang telah menjatuhkan hukuman mati pada mereka.Gambaran ini bagi Lukas dipakai&nbsp; untuk menyatakan bahwa pengikut Yesus&nbsp; harus menjalani hidup seolah-olah&nbsp; dijatuhi \u201chukuman mati,\u201d yaitu mati terhadap nilai-nilai dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan tunduk pada nilai-nilai dalam Kerajaan Allah. Apa yang kita lakukan harus selaras dengan apa yang dikehendaki Allah. &nbsp;Yesus telah menjadi teladan kita dengan memikul salib demi patuh pada kehendak Allah dan keselamatan umat Allah yang dikasihiNya. Maka, &nbsp;kita sebagai murid Yesus, hendaknya selalu memanggul salib supaya kita mampu mengungkapkan kasih Allah secara nyata. Segala bentuk pengorbanan kita, penderitaan kita, sekecil apapun yang kita lakukan demi terwujudnya ungkapan kasih Allah, itulah salib kita. Pengorbanan yang kita lakukan untuk keluarga, untuk suami\/istri, anak-anak kita, untuk komunitas, untuk sesama kita yang membutuhkan uluran tangan kita, itulah salib kita. Semua yang kita lakukan berdasarkan pada kasih dan patuh kepada kehendak Tuhan.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dengan menyangkal diri dan memikul salib, berarti kita berani kehilangan nyawa, seperti Yesus \u201cdibangkitkan pada hari ketiga\u201d, kita juga memperolah nyawa, memperoleh kehiodupan dan kelesalamatan. Dalam situasi \u2013 kondisi apapun dalam hidup kita, Yesuslah Andalan kita. Hati Yesus sumber kasih utama.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Nasi dikukus dibumbui kelapa&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sesudahnya dipindahkan ke panci&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Murid Yesus menghidupi Dia&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pikul salib sangkal diri&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">&nbsp; &nbsp; &nbsp; Baru bepergian dari kota<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">&nbsp; &nbsp; &nbsp; Membeli oleh-oleh dibawa teman<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">&nbsp; &nbsp; &nbsp; Siap sedia kehilangan nyawa<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">&nbsp; &nbsp; &nbsp; Demi peroleh nyawa kehidupan<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Orang Kudus suka pergi<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pergi ke Yogya trus Kediri<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Jadilah Murid Yesus sejati<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Demi bahagia kini dan nanti<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Demikian resi. Semoga bermanfaat. Moga hati kita semakin seperti hati- Nya. Tuhan memberkati.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa mahamulia, lihatlah roti anggur dan pengampunan dosa kami. yang kami letakkan di altar suci ini. Terimalah kiranya untuk kemuliaan nama-Mu. Demi Kristus, \u2026\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU:\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa mahakudus, ajarilah kami hidup seturut teladan yang kami peringati dalam roti anggur ini. Semoga salib Kristus menjadi tanda hidup kami terutama pada masa Prapaskah ini. Sebab Dialah ..\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI&nbsp; \u2014&nbsp; Mazmur 51:12\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ya Allah, buatlah hatiku suci. Tanamkanlah semangat baru di dalam batinku.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PENUTUP\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa mahakuasa dan kekal kami telah menerima rahmat-Mu dalam perjamuan ini. Kami mohon dengan rendah hati, semoga sakramen-Mu menjadi sumber pengampunan dan keselamatan bagi kami. Demi Kristus, \u2026.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU: \u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa sumber pengharapan, jadikanlah kami pengikut Putra-Mu. Tanamkanlah dalam hati kami harapan, bahwa Engkaulah yang mendampingi kami dan membimbing langkah laku kami menuju tanah air surgawi yang Kaujanjikan. Demi Kristus, \u2026.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p>Link Audio http:\/\/katolikindonesia.com\/2021\/02\/17\/kamis-18-februari-2021\/<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=23165-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_2647\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-23165-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3\">http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=23165-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"KI-2021-02-18-RP-YAM.-Fridho-Mulya-SCJ.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2014 lih. Mazmur 55:17.20.23\u2063 Ketika aku berseru kepada Tuhan, la mendengarkan daku dan membebaskan daku dari musuh-musuhku. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan, dan Dia akan menolong engkau.\u2063 PENGANTAR\u2063 Masa Prapaskah bukan hanya masa&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-23165","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23165","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=23165"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23165\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23166,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23165\/revisions\/23166"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=23165"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=23165"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=23165"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}