{"id":22534,"date":"2020-12-20T20:49:29","date_gmt":"2020-12-20T13:49:29","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=22534"},"modified":"2020-12-20T20:49:31","modified_gmt":"2020-12-20T13:49:31","slug":"senin-21-desember-2020-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=22534","title":{"rendered":"Senin, 21 Desember 2020"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2013 lik. Yesaya 7:14; 8:10\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tuhan, Raja Agung akan tiba dengan segera la akan dinamai Emanuel: Allah-Beserta-Kita.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Terpilih untuk pengabdian! Demikianlah kira-kira hidup Bunda Maria. Kebahagiaan atas panggilannya tidak disimpannya dalam lubuk hatinya, tetapi dibagikannya kepada saudarinya, Elisabet. Dan Elisabet, karena Roh Kudus, dapat melihat rahasia apa yang tersimpan dalam hati Bunda Maria. Bacaan pertama menggambarkan dalam bahasa pujangga misteri penjelmaan.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa maha penyayang, dengarkanlah dengan rela doa umat-Mu. Kami bergembira karena kedatangan Putra-Mu sebagai manusia lemah. Semoga kami umat-Mu kelak memperoleh hidup abadi karena kedatangan-Nya sebagai penguasa mulia. Sebab Dialah.. \u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Kidung Agung 2:8-14<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dengarlah! Itulah kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung, meloncat-loncat di atas perbukitan. Kekasihku itu laksana kijang atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap, dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku angkat bicara, katanya kepadaku, \u201cBangunlah, manisku! Jelitaku, marilah! Lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah berlalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah sudah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pokok anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku! Jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, dalam persembunyian di lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab suaramu sungguh merdu, dan jelita nian parasmu!\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Atau<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Nubuat Zefanya 3:14-18a<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cTuhan, Raja Israel, ada di tengah-tengahmu.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bergembiralah, hai Israel! Bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang dijatuhkan atasmu, Ia telah menebas binasa musuh-musuhmu. Raja Israel, yakni Tuhan, ada di tengah-tengahmu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem, \u201cJanganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lunglai. Tuhan Allahmu ada di tengah-tengahmu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bersukaria karena engkau, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, dan Ia bersorak gembira karena engkau seperti pada hari pertemuan raya.\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 33:2-3.11-12.20-21<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ref.&nbsp;<em>Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru!<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru; petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak dan sorai.<\/li><li>Rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun temurun. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!<\/li><li>Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ref. Alleluya<br>Ayat.&nbsp;<em>O Imanuel, Engkau raja dan pemberi hukum. Datanglah dan selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami.<\/em>&nbsp;Alleluya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Lukas 1:39-45<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cSiapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku mengunjungi aku?\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, bergegaslah maria ke pegunungan menuju sebuah kota di wilayah Yehuda. Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu bersru dengan suara nyaring, \u201cDiberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIABAWAKAN OLEH Rm. Antonius Tugiyatno SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Vivat cor Jesu per cor Marie.&nbsp;&nbsp;<\/em>Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui hati Maria.<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara \u2013saudari sahabat Resi Dehonian, jumpa kembali dengan saya Romo Antonius Tugiyatno SCJ dari komunitas Kokonao Papua, dalam Resi renungan singkat Dehonian, edisi&nbsp;<strong>Sabtu 21 November 2020.<\/strong>&nbsp;Hari ini Gereja memperingati santa Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah. Hari ini kita akan mendengarkan dan merenungkan bacaan dari Injil Lukas 20: 27-40. Marilah kita membuat tanda kemenangan Tuhan, dalam &nbsp;. nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Renungan<\/strong>: Saudara-saudari pendengar Resi yang dikasihi oleh Tuhan Allah. Saya merenungkan dua hal unik dari perikop Injil yang kita dengarkan hari ini. Pertama tentang adat perkawinan Levirat. Perkawinan Levirat adalah suatu tradisi Yudaisme dimana seorang lelaki ipar, mempunyai kewajiban membangkitkan keturunan dari istri saudaranya, bilamana seorang suami mati tanpa meninggalkan keturunan. Kita dapat melihat aturan adat ini dari Kitab Ulangan 25: 5-10. Aturan perkawinan inilah yang dirujuk oleh orang-orang Saduki untuk bertanya kepada Yesus perihal hak kepemilikan istri. Lebih dari itu mereka bertanya sangat ekstrim, sampai tujuh kali berturut-turut. Kalau kita berhitung secara matematika, andiakan pernikahan pertama usia istri itu 15 tahun, dan suami bersaudara itu mati berturut-turut setiap 10 tahun sekali, bayangkan Guys, berarti perkawinan terakhir wanita itu sudah berusia 75 tahun. Secara medis pastilah sulit untuk membangkitkan keturunan. Kasihan juga saudara laki-laki terakhir yang beroleh tugas kewajiban adat itu.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ada kemungkinan bahwa angka tujuh yang dimaksud oleh orang-orang Saduki menunjuk pada angka sempurna. Angka tujuh disebutkan berulangkali, misalnya Tuhan Allah yang beristirahat pada hari ke tujuh. Kita harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali dan seterusnya. Hal yang aneh&nbsp; menurut saya adalah mengapa orang Saduki mempersoalkan tentang hal yang mereka sendiri tidak percayai. Maka Yesus menerangkan kepada mereka perbedaan hidup sekarang ketika orang terikat dengan badan jasmani dan kehidupan sesudah kebangkitan, dimana jiwa manusia tidak lagi terikat dengan badan jasmani dengan segala keperluannya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Maka yang kedua kita sebagai seorang beriman yang percaya akan adanya kebangkitan badan, kita merenungkan kehidupan kekal atau kehidupan eskatologis sesudah kebangkitan itu. Jaminan yang pertama mengapa kita yakin dengan adanya kebangkitan adalah Yesus sendiri sudah mengalami kebangkitan itu. Bila kita percaya akan Yesus yang bangkit, maka kita juga percaya bahwa kita juga akan dibangkitkan sesudah kematian kita. Hanya tentang waktunya kapan, memang kita memang tidak ada yang tahu. Saat di dunia ini kita terikat dengan kebutuhan duniawi tetapi saat kita sudah hidup dengan cara lain, kita tidak lagi terikat dengan hal-hal duniawi, termasuk nafsu-nafsu badani.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Meyakini akan kehidupan yang akan datang itulah kita merenungkan hal-hal yang lebih&nbsp; penting sebagai persiapan hidup kudus, bukan lagi berpikir tentang besok akan jadi istrinya siapa, atau suaminya siapa seperti orang saduki. Tidak perlu berpikir pula bakso yang paling enak di warung mana dan kendaraan yang paling bagus jenisnya apa dan seterusnya. Yang lebih penting adalah kita berusaha untuk hidup kudus sejak dari sekarang. Kita sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran dapat mengontrol nafsu dan keinginan-keinginan yang seluruhnya dapat kita arahkan pada kebaikan.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada peringatan Bunda Maria yang dipersembahkan hari ini, Bunda Maria telah memberi teladan bagi kita semua. Bunda Maria sebagai orang yang dipilih dan dipersiapkan Tuhan melalui cara yang tidak asal pilih begitu saja, akan tetapi bunda Maria diberkati Allah sejak awal hidupnya. Selain dari itu Bunda Maria dalam kisah hidupnya juga berusaha menjaga kekudusan diri dengan melalui cara hidup doa yang tekun. Maka kita mensyukuri rahmat Allah yang melalui Bunda Maria telah turut berperan dalam karya keselamatan. Bunda Maria yang selalu menjadi pengantara dan pendoa bagi kita untuk sampai kepada Puteranya, karena bunda Maria dan Puteranya menyatu&nbsp; kekal tak terpisahkan. Semoga hati kudus Yesus selalu merajai hati kita.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa mahakuasa, sudilah menerima roti anggur yang dapat kami unjukkan berkat belas kasih-Mu. Semoga Kauubah dengan kuasa-Mu menjadi tanda keselamatan kami. Demi Kristus,\u2026\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU<\/strong>\u2063<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa sumber damai, berkat kehadiran-Mu dalam roti anggur dengan perantaraan Yesus Kristus, sumber kedamaian kami, curahkanlah berkat-Mu kepada kami sekalian. Demi Kristus, \u2026.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 Lukas 1:45\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Berbahagialah engkau, Maria. sebab Engkau percaya bahwa akan terlaksana apa yang disampaikan Tuhan kepadamu.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PENUTUP\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa Yang Mahakudus, kiranya sakramen ilahi yang telah kami terima tetap melindungi umat-Mu. Semoga kami takluk kepada-Mu dengan tulus ikhlas. serta memperoleh keselamatan lahir batin yang berlimpah Demi Kristus, \u2026\u2063<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ATAU:<\/strong>\u2063<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2063<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa mahamulia,&nbsp; terpujilah Engkau karena kebaikan yang telah Kaulimpahkan kepada umat manusia: terpujilah Engkau karena Putra-Mu terkasih. yang mengajar kami meluhurkan nama-Mu, serta rukun bersatu dengan sesama kami. Demi Kristus,\u2026&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Link Audio http:\/\/katolikindonesia.com\/2020\/12\/20\/senin-21-desember-2020\/<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.com\/?powerpress_pinw=33333-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2013 lik. Yesaya 7:14; 8:10\u2063 Tuhan, Raja Agung akan tiba dengan segera la akan dinamai Emanuel: Allah-Beserta-Kita.\u2063 \u2063 PENGANTAR\u2063 Terpilih untuk pengabdian! Demikianlah kira-kira hidup Bunda Maria. Kebahagiaan atas panggilannya tidak disimpannya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-22534","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/logo-keadilan-min.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22534","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22534"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22534\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22535,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22534\/revisions\/22535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22534"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22534"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22534"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}