{"id":214,"date":"2014-01-03T16:33:20","date_gmt":"2014-01-03T09:33:20","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=214"},"modified":"2014-01-03T16:33:20","modified_gmt":"2014-01-03T09:33:20","slug":"waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=214","title":{"rendered":"Waktu"},"content":{"rendered":"<p>WAKTU<\/p>\n<p>(Refleksi Akhir Tahun)<\/p>\n<p>Untuk merenungkan makna akhir tahun ini, saya tercenung dengan\u00a0 dewa Kronos. Dewa ini sungguh jahat sebab menelan anak-anaknya (termasuk Zeus). Dewa Kronos takut kalau tahtanya direbut anak-anaknya. Namun ternyata anak-anak yang ditelan itu tidak mati dalam perut Kronos. Akhirnya pada suatu waktu Zeus (King of kings) itu membalas dan matilah Dewa Kronos.<\/p>\n<p>Kronos adalah waktu. Maka di sana muncul kronik atau kronologi. Namun kita bisa membedakan menjadi waktu kronos dan waktu kharios yang artinya tahun rahmat. Waktu kharios itu muncul sewaktu Yesus berkotbah di bait suci di hadapan jemaat, &#8220;Tahun rahmat sudah datang.&#8221;<\/p>\n<p>Ketika saya ingin tahu hasil gula darah (karena sebagai diabetisi), saya akan ke Prodia. Tetapi ada tempat lain yang mengajak kita supaya segera memeriksakan darah yaitu namanya\u00a0 \u00a0 \u201cCito\u201d dan jika kita\u00a0 buka Kamus Kedokteran dan ternyata cito itu \u00a0berarti \u201csegera\u201d, \u201cdalam waktu singkat\u201d. Cito adalah \u00a0laboratorium klinik \u00a0untuk pemeriksaan darah. Di sana juga ada dokter praktek dan Apotek. Lengkap sudah. Orang yang sedang sakit supaya selamat harus ditangani\u00a0 dengan segera dan dalam waktu singkat, cito.<\/p>\n<p>Waktu memiliki dimensi yang berbeda bagi pelari 100 meter yang sedang bertanding dan mereka yang sedang pacaran. Bagi para pebisnis, waktu dianggap sebagai uang, \u201cTime is money\u201d. Maka, para pebisnis itu selalu sibuk, &#8220;busy&#8221; dan dan penuh kesibukan, &#8220;bussiness&#8221; \u00a0sebab berkejar-kejaran dengan waktu.\u00a0 Maka tidak heranlah jika ada pepatah Latin yang berbunyi, \u201cTempus fugit\u201d\u00a0 yang berarti waktu berlari. Kadang orang lupa untuk refreshing atau kumpul dengan keluarga dan mereka hanya sibuk dengan bisnisnya. Orang-orang juga lupa dengan apa yang telah ditulis oleh Pengkotbah, \u201cUntuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya\u201d (Pkh. 3: 17).<\/p>\n<p>Dalam menyikapi waktu, sering muncul angan-angan seseorang, \u201cNanti kalau aku sudah&#8230;..\u201d. Misalnya, nanti kalau aku sudah menikah, aku akan rajin bekerja. Kalau aku sudah lulus S2, aku akan giat belajar. Nanti kalau aku sudah memiliki rumah mewah, aku akan rajin bersih-bersih rumah bla-bla-bla.\u00a0 Apa artinya sudah menikah? Apa artinya S2 dan apa artinya memiliki rumah mewah? Kita lupa bahwa &#8220;tempus fugit.&#8221; Karena itu, Plautus\u00a0 (251 \u2013 183 seb.M) yang dikenal sebagai penyair termasyur pada zamannya \u2013 dramanya yang paling terkenal: Amphitryon tentang kelahiran Hercules\u00a0 \u2013memiliki moto yang sangat memikat, &#8220;Age si quid agis&#8221; \u00a0\u2013 \u00a0\u201cJika melakukan sesuatu, lakukan segera.\u201d\u00a0 Pepatah Inggris juga mempunyai pepatah yang indah \u00a0&#8220;Don\u2019t put off\u00a0 till tomorrow what you can do today&#8221;\u00a0 \u2013 \u201cJangan tunda sampai besok apa yang bisa Anda dapat kerjakan hari ini\u201d.<\/p>\n<p>Kita memiliki budaya suka menunda \u00a0dan untuk pembenaran diri kita \u00a0berkata,\u00a0 \u201cEsok khan masih ada. Untuk apa tergesa-gesa, santai saja-lah!\u201d\u00a0 Orang Romawi dalam setiap pekerjaannya selalu berkata, \u201chic et nunc\u201d \u2013 kini dan di sini. Sebuah tindakan yang terjadi dalam ruang dan waktu. Orang yang sudah terbiasa menghargai waktu akan mengerjakan dengan segera dengan apa yang sudah diprogramkan. Benar kata Eckhart Tolle, \u201cAuthentic human power is found by surrending to the now\u201d \u2013 kekuatan autentik manusia bisa ditemukan ketika manusia ikhlas total pada masa kini. Mental &#8220;hic et nunc&#8221;\u00a0 di sini untuk meretas budaya instant \u2013 orang ingin segera cepat selesai atau ingin cepat ahli tanpa adanya belajar yang membutuhkan waktu. \u00a0Kualitas dari karya seseorang diukur dari keseriusan \u201cmenikmati\u201d waktu demi waktu secara terus-menerus. Mengontemplasikan makna waktu tersebut, kita bisa merujuk pada Pepatah Latin,\u201dGutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo\u201d\u00a0 \u2013 \u00a0Tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tetapi karena menetes terus-menerus.<\/p>\n<p>&#8220;Tempus fugit!&#8221;\u00a0 Dan sebagai manusia kita tidak boleh ketinggalan waktu tersebut, ibaratnya hidup kita selalu di-update atau upgrade. Ovidius (43 \u2013 17 seb.M) berkata, \u201cTempora mutantur, et nos mutamur in illis\u201d \u2013 waktu berubah dan kita pun berubah karenanya. Ovidius mengajak kita untuk menyadari pentingnya melakukan perubahan pola pikir, mindset ataupun bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Suatu keharusan agar kita tidak ketinggalan zaman harus berani berubah. Orang bijak berkata, \u201cTidak ada yang abadi dalam hidup ini kecuali perubahan itu sendiri.\u201d\u00a0 \u00a0Kita tidak dapat menyangkal bahwa kasih,\u00a0 perasaan, pekerjaan dan hidup itu sendiri selalu berubah.<\/p>\n<p>&#8220;Tempus fugit!&#8221; Kehidupan manusia berlalu dengan cepatnya:<br \/>\nBanyak sekali yang telah dilalui.<br \/>\nAda yang lancar.<br \/>\nAda yang \u00a0penuh rintangan.<br \/>\nAda yang \u00a0penuh kegembiraan.<br \/>\nAda pula yang \u00a0penuh kegetiran.<\/p>\n<p>Semua pasti mengalaminya. Itulah kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Semua ada waktunya.\u00a0 Umur produktif manusia pun ada batasnya. Ada waktunya kita berani melepaskan, &#8220;letting go&#8221; dan memberikan tongkat estafet kepada generasi muda. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Alexander Agung (354 &#8211; 323 seb. M) ketika meninggal dunia pada usia muda, berpesan jika mangkat, supaya tangannya dibiarkan terbuka. Ini menunjukkan bahwa ketika orang wafat tidak membawa apa-apa (tangan kosong). Dalam sebuah renungan,\u00a0 Rm. Gregorius Hertanto Dwi Wibowo,MSC, berkotbah tentang, &#8220;Nunc dimittis&#8221;. Simeon berani mengucapkan kata-kata, &#8221; Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu&#8221; (Luk 2 : 29). Kitab Pengkhotbah menulis, &#8220;Ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam&#8221; (Pkh 3:2).<\/p>\n<p>Saat kita berumur 20 tahun merasa sungguh enak kalau kita tampan atau cantik.<br \/>\nSaat kita 30 tahun merasa sungguh enak andaikan kita kembali muda lagi.<br \/>\nSaat kita 40 tahun merasa sungguh enak andai kita punya banyak uang.<br \/>\nSaat kita 50 tahun merasa ada kesehatan sungguh enak sekali.<br \/>\nSaat kita 60 tahun merasa untuk dapat hidup saja sudah sangat bagus.<br \/>\nSaat kita 70\/80 tahun \u00a0merasa kenapa hidup ini serasa sangat singkat \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0sekali. &#8220;Tempus fugit!!&#8221;<\/p>\n<p>Selasa, 31 Desember 2013 &#8211;\u00a0 Rm.\u00a0 Markus Marlon MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WAKTU (Refleksi Akhir Tahun) Untuk merenungkan makna akhir tahun ini, saya tercenung dengan\u00a0 dewa Kronos. Dewa ini sungguh jahat sebab menelan anak-anaknya (termasuk Zeus). Dewa Kronos takut kalau tahtanya direbut anak-anaknya. Namun ternyata anak-anak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-214","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/214","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=214"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/214\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/214\/revisions\/215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=214"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=214"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=214"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}