{"id":21303,"date":"2020-09-11T21:52:41","date_gmt":"2020-09-11T14:52:41","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21303"},"modified":"2020-09-11T21:52:43","modified_gmt":"2020-09-11T14:52:43","slug":"antara-kopi-pandemi-dan-rejeki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21303","title":{"rendered":"&#8220;Antara Kopi, Pandemi dan Rejeki&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p>&#8220;Antara Kopi, Pandemi dan Rejeki&#8221;<br>Cerpen karya: Sr. Sesilia Sri Susanthy, C.P.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa disadari awan hitam yang bergerak mengambang di langit mengubah siang yang cerah menjadi semuram hati seorang laki-laki yang tengah duduk dengan gelisah di atas motornya di pinggir jalan. Berkali-kali ia melihat HP untuk memastikan apakah ada pelanggan yang memesan jasanya. Sejak pagi tadi belum juga ia berhasil mendapatkan rupiah. Semenjak wabah virus Corona melanda negeri ini pendapatannya berkurang. Ternyata wabah ini tidak hanya menyerang kesehatan masyarakat, melainkan juga mengganggu hidup perekonomian rakyat. Pengemudi ojol seperti dia, sopir angkot, pemilik warung makanan, para pekerja harian paling merasakannya. Padahal sebelum wabah Corona muncul pendapatannya telah menurun oleh karena persaingan dengan sesama pengemudi ojol yang semakin banyak jumlahnya.<br>Ia bertekad untuk tidak menyerah karena ia bertanggungjawab pada kehidupan anak dan isterinya. Apalagi seminggu yang lalu isterinya di-PHK oleh perusahaan di mana ia bekerja. Ia memang tahu bahwa pemerintah menghimbau agar semua orang tinggal di rumah. Kalau ia menurutinya, bagaimana ia bisa mendapat penghasilan untuk memberi makan anak dan istrinya?<br>Betapa senang hatinya ketika lewat telefon genggamnya ia mendapat pesanan dari saya. Ia segera mengendarai motornya setelah buru-buru menutup kembali plastik pembungkus kopi yang baru setenggah ia hirup. Ia menuju kantin di samping parkiran rumah sakit di mana saya menunggu. Begitu sampai ia menyapa saya dan mengulurkan helm penumpang kepada saya. Sambil menerimanya saya melihat kopi panas berbungkus plastik tergantung pada stang sepeda motornya.<br>\u201cDiminum dulu kopinya, pak. Nanti kopinya jadi dingin. Saya tidak buru-buru kok,\u201d kata saya kepadanya.<br>Sambil tersenyum dan dengan sedikit sungkan ia menolak,\u201dAh, nanti saja, mbak. Ini sudah mendung. Keburu hujan. Monggo!\u201d<br>Setelah mengenakan helm saya kemudian duduk di jok motor. Dalam perjalanannya ia berkeluh kesah tentang hidup yang semakin terasa pahit di tengah-tengah wabah Corona. Isterinya kena PHK. Pendapatannya sendiri menurun banyak. Padahal ia masih harus membayar cicilan motor. Satu-satunya HP yang dimiliki dipakai bergiliran olehnya dan anak-anak yang harus belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah secara on-line. Namun ia berkata pada saya bahwa untuk bertahan hidup pekerjaan apa pun akan ia lakukan asalkan halal.<br>\u201cSaya yakin, rezeki tidak akan pernah tertukar. Setiap orang punya rezekinya sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki porsinya sendiri asalkan kita mau bekerja keras dan sabar. Bukan begitu, mbak?\u201d Saya terdiam sejenak. Kemudian sambil tersenyum padanya saya berkata,\u201dBenar, pak. Kita harus sabar dan tidak lelah untuk berusaha.\u201d<br>Tidak terasa motor mang ojol yang mengantar saya telah tiba di depan rumah. Sambil menengok HPnya ia berkata,\u201dOngkosnya Rp 12.000. saja, mbak.\u201d Buru-buru saya merogoh saku dan mengambil uang yang telah saya siapkan. Saya menyerahkan kepadanya Rp 30.000.<br>\u201cBapak ambil semua saja,\u201d. Semula ia menolak tetapi karena saya sedikit memaksa akhirnya ia mau menerimanya. Berkali-kali ia mengucapkan terimakasih tetapi saya sengaja tidak mau menoleh ke arahnya. Walaupun demikian saya sempat melihat sesekali ia menghapus air mata di sudut matanya. Dalam hati saya memohon kepada Tuhan agar ia diberi kesehatan karena selama pandemi virus Corona ini ia tidak bisa tinggal di rumah. Ia harus keluar untuk bekerja demi keluarganya. Resiko tertular menjadi lebih besar dan bukan tidak mungkin ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.<br>Sesampai di beranda rumah gerimis mulai turun. Saat menoleh dari balik pintu tampak pak ojek sedang menyiapkan mantelnya. Sebelum menyalakan motornya ia menyempatkan diri meminum kopi yang terbungkus dalam plastik transparan. Pasti kopinya telah menjadi dingin. Pasti kopinya berubah menjadi pahit sepahit perjuangannya mengais rezeki di masa yang sulit ini. Namun, paling tidak kopi itu dapat mengusir rasa kantuk. Sambil melangkah menuju kamar saya membatin,\u201dYa Tuhan, semoga Engkau perhitungkan segala usahanya yang gigih dalam menafkahi keluarganya. Semoga dibenarkan perkataannya bahwa rezeki tak akan pernah tertukar. Amin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sr. Sesilia Sri Susanthy, C.P.<\/p>\n\n\n\n<p>Diproduksi oleh: Carmel Vision Productions<br>\u00a9 Malang 2020<br>Music in this video<br>Learn more<br>Listen ad-free with YouTube Premium<br>Song<br>Sad Romance (a.k.a. Sad Violin)<br>Artist<br>Ji Pyeong Kwon<br>Album<br>Drama Sonatina<br>Licensed to YouTube by<br>Collab Asia Music (on behalf of Leeway Music &amp; Media, Inc); LatinAutor &#8211; SonyATV, Exploration Group (Music Publishing), LatinAutor, UMPI, Broma 16, UNIAO BRASILEIRA DE EDITORAS DE MUSICA &#8211; UBEM, and 12 Music Rights Societies<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber Indonesian Carmelites<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Antara Kopi, Pandemi dan Rejeki&#8221;Cerpen karya: Sr. Sesilia Sri Susanthy, C.P. Tanpa disadari awan hitam yang bergerak mengambang di langit mengubah siang yang cerah menjadi semuram hati seorang laki-laki yang tengah duduk dengan gelisah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14126,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-21303","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-campur-sari","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/gelang_kbki_2018-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21303"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21304,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21303\/revisions\/21304"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}