{"id":21115,"date":"2020-08-28T22:18:50","date_gmt":"2020-08-28T15:18:50","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21115"},"modified":"2020-08-28T22:18:51","modified_gmt":"2020-08-28T15:18:51","slug":"nyala-api-cinta-luka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21115","title":{"rendered":"NYALA API CINTA: &#8220;LUKA&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">LUKA<br>Hampir semua orang pernah terluka. Janin yang ditolak oleh orang tuanya pun terluka secara psikologis sejak dalam kandungan. Perjalanan hidup manusia membawa sertanya luka-luka, baik luka jasmani maupun luka rohani. Ada orang yang mengenalnya dengan luka batin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara spontan orang ingin menyembuhkan luka-lukanya. Ada pelbagai upaya dan obat untuk menyembuhkan luka, mulai dari obat tradisional berupa ramuan hingga penyembuhan dengan ilmu kedokteran dan obat kimia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menyembuhkan luka jasmani jauh lebih mudah daripada memulihkan hati dari luka-lukanya. Ada yang membekas sepanjang hidup. Bahkan saat di ranjang kematian pun orang tidak ikhlas melepaskan. Dendamnya kesumat, tapi tidak pernah menyala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian orang malah menyembunyikan luka-lukanya karena malu. Yang lain yakin bahwa luka itu rahasia pribadi; tidak perlu dibagi. Akibatnya, sepanjang hidup membebani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbeda dengan Sang Guru Kehidupan. Tatkala berjumpa dengan murid-murid sesudah kebangkitan-Nya justru Dia menunjukkan luka-luka-Nya. Mengapa? Karena luka-luka-Nya tidak memalukan, tetapi menyembuhkan. Oleh luka-luka itu umat manusia diselamatkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wabah, penyakit dan kematian adalah bagian dari luka-luka manusia. Luka itu mengancam dan menakutkan. Banyak orang mula-mula menyangkalnya. Setelah terpojok barulah mengakuinya. Hanya dengan mengakui bahwa punya luka, barulah orang dapat disembuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rakyat negeri ini memang penuh luka: mulai dari luka fisik, budaya, sosial, ekonomi dan politik. Perpecahan antar kelompok politik hanyalah satu contoh luka yang mengancam persatuan. Tanpa menyembuhkan luka itu proses penanganan Covid19 sebagai luka sosial makin rumit. Semoga Dia yang memperlihatkan luka-luka-Nya memberanikan seluruh rakyat negeri ini untuk mengakui lukanya sehingga lebih cepat disembuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Vulnerability is the birthplace of connection and the path to the feeling of worthiness. If it doesn&#8217;t feel vulnerable, the sharing is probably not constructive&#8221; (Brene Brown).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Romo Albertus Herwanta, O. Carm.<br>Universitas Katolik Widya Karya Malang<br>16 April 2020<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber Indonesian Carmelites<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LUKAHampir semua orang pernah terluka. Janin yang ditolak oleh orang tuanya pun terluka secara psikologis sejak dalam kandungan. Perjalanan hidup manusia membawa sertanya luka-luka, baik luka jasmani maupun luka rohani. Ada orang yang mengenalnya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14171,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-21115","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-kateketik","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/salib_sakristi_k7-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21115"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21115\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21116,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21115\/revisions\/21116"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}