{"id":21066,"date":"2020-08-24T21:56:20","date_gmt":"2020-08-24T14:56:20","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21066"},"modified":"2020-08-24T21:56:22","modified_gmt":"2020-08-24T14:56:22","slug":"nyala-api-cinta-lepas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=21066","title":{"rendered":"NYALA API CINTA: &#8220;LEPAS&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">LEPAS<br>Dalam hidupnya manusia mengenal dan menaati beberapa hukum. Antara lain: hukum positif, hukum sosial dan hukum ekonomi. Manusia juga mesti taat kepada hukum alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu bentuk konkret hukum alam itu adalah lepas. Tatkala gigi tetap pada anak-anak muncul, gigi susu mesti lepas. Demikian pula ketika orang hendak menerima kedudukan lebih tinggi, dia dituntut melepas yang kini didudukinya. Seorang mahasiswa berindeks prestasi paling tinggi pun meninggalkan status mahasiswa teladan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Dengan demikian, dia akan meraih prestasi yang lebih tinggi lagi daripada yang telah diraihnya selama ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para pendaki gunung menikmati pohon dan bunga yang indah sepanjang perjalanan. Namun untuk mendapat pemandangan yang jauh lebih indah, luas dan memesona mereka mesti terus berjalan hingga puncak gunung. Tidak boleh lekat pada nikmatnya bunga-bunga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hidup rohani juga mengikuti hukum alam. Untuk meraih yang tertinggi, orang mesti melepaskan semua yang selama ini dianggapnya paling baik dan sempurna. Sang Guru Kehidupan berfirman, &#8220;Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperoleh kembali&#8221; (Mat 10: 37.39).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentu, Sang Guru tidak mengajar orang untuk meremehkan orang tuanya. Tetapi menempatkan Tuhan di atas segalanya; bahkan di atas nyawanya sendiri. Siapa yang mempertahankan yang kini ada di tangannya justru akan kehilangan semua kualitas hidup yang jauh lebih baik daripada semua yang telah dimilikinya. Sebaliknya, yang melepaskannya demi Tuhan akan memperoleh jauh lebih banyak. Tidak ada yang hilang bagi mereka yang melekat pada Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hanya dengan melepaskan, orang akan mendapatkan. Dengan meninggalkan dan menanggalkan, orang akan dapat mengenakan yang jauh lebih indah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah hukum alam kehidupan. Hanya yang siap melepaskan seluruh dunia ini demi Tuhan akan mendapatkan kembali yang melampauinya. Melepaskan yang duniawi adalah syarat utama untuk menerima yang surgawi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malang, 13 Juli 2020<br>RP Albertus Herwanta, O. Carm<br>@Suara Karmel @Komsos Gereja Maria Bunda Karmel @Suara Karmel @Komsos Malang @Komsos Katedral Jakarta @KOMSOS Keuskupan Agung Semarang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber Indonesian Carmelites<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LEPASDalam hidupnya manusia mengenal dan menaati beberapa hukum. Antara lain: hukum positif, hukum sosial dan hukum ekonomi. Manusia juga mesti taat kepada hukum alam. Salah satu bentuk konkret hukum alam itu adalah lepas. Tatkala&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14126,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-21066","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-kateketik","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/gelang_kbki_2018-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21066"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21067,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21066\/revisions\/21067"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}