{"id":20962,"date":"2020-08-16T21:35:10","date_gmt":"2020-08-16T14:35:10","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=20962"},"modified":"2020-08-16T21:35:28","modified_gmt":"2020-08-16T14:35:28","slug":"nyala-api-cinta-trilogi-jiwa-prapaskah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=20962","title":{"rendered":"NYALA API CINTA: &#8220;Trilogi Jiwa Prapaskah&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agama berperan mengarahkan manusia kepada kebaikan. Berbalik dari menuruti menuruti keinginan manusiawi mengarah ke sikap taat kepada Allah disebut bertobat.<br>Masa Prapaskah yang diawali dengan RABU ABU, adalah masa pertobatan. Manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.<br>Gereja menawarkan tiga kunci (trilogi) kehidupan menuju Allah: SEDEKAH, BERDOA &amp; BERPUASA.<br>SEDEKAH: berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Sedekah dilakukan dengan tersembunyi agar manusia tetap rendah hati karena dia hanya penyalur rahmat dan bukan sumber.<br>BERDOA: menjalin relasi dengan Tuhan. Di hadapan-Nya manusia kecil, rapuh dan lemah. Berdoa dilakukan secara tersembunyi agar manusia berjumpa dengan Allah dalam lubuk hati yang sepi, sunyi dan penuh kerendahan hati.<br>BERPUASA: Tempat manusia mengendalikan dirinya. Ia melepaskan keinginan ragawi yang sering menjauhkan diri dari Allah. Dengan demikian lebih mudah bagi Allah mengisi hidup orang itu dengan rahmat-Nya.<br>Sedekah, berdoa dan berpuasa itulah trilogi masa Prapaskah.<br>Music in this video<br>Learn more<br>Listen ad-free with YouTube Premium<br>Song<br>Inspiration<br>Artist<br>bdProductions<br>Licensed to YouTube by<br>HAAWK for a 3rd Party; HAAWK Publishing<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber Indonesian Carmelites<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Agama berperan mengarahkan manusia kepada kebaikan. Berbalik dari menuruti menuruti keinginan manusiawi mengarah ke sikap taat kepada Allah disebut bertobat.Masa Prapaskah yang diawali dengan RABU ABU, adalah masa pertobatan. Manusia berasal dari debu dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14171,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-20962","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-kateketik","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/salib_sakristi_k7-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20962"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20962\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20963,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20962\/revisions\/20963"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}