{"id":17659,"date":"2019-10-23T11:29:27","date_gmt":"2019-10-23T04:29:27","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=17659"},"modified":"2019-10-23T11:29:29","modified_gmt":"2019-10-23T04:29:29","slug":"today-22-oktober-2019-lancang-mulut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=17659","title":{"rendered":"TODAY, 22 Oktober 2019: Lancang Mulut"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Lancang Mulut<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Anggaplah saya terlalu serius dalam hal ini&#8230;<br>Meskipun saya tahu, tidaklah mudah&#8230;<br>Tetapi saya berusaha sedapat mungkin untuk tidak lancang mulut&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena omongan yang sembarangan dapat melukai hati&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti tusukan pedang&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menikam dan menghujam pendengarnya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika kata-kata itu diarahkan kepada dia&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan tak jarang itu mengakibatkan luka batin yang parah&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Yang mungkin berlarut-larut dan berkepanjangan&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena pada suatu ketika dulu&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya pun pernah berada pada kondisi tersebut&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya yang lancang kepada orang lain&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena merasa dengan omongan yang menyayat hati&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya bisa menang&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya terlihat sedikit lebih baik&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya terlihat sedikit lebih hebat&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal di dalam&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya hancur.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya rapuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya stress&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Tekanan hidup membawa saya kepada jalan-jalan defensif yang mungkin menyakiti orang lain&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak jarang kelancangan mulut adalah disebabkan mungkin karena memang hebat di dunia&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Punya jabatan, punya harta, tetapi maaf: tidak punya sopan-santun dan jauh dari kasih Tuhan&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Berusaha menutupi tekanan hidup yang dirasakan dengan menghujamkan kata-kata pedas kepada orang lain&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan merasa enak, merasa nyaman sesudahnya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam Tuhan, kita sadari lancang mulut tidaklah menyenangkan hati-Nya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan berarti kita tidak boleh punya prinsip&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Para Nabi di zamannya dulu pun berkata-kata tentang kebenaran yang sulit diterima di sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan di dunia&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan mereka terus melakukan tugasnya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi jika setiap kali menghujam dan menikam&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin kita harus meneliti diri&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin kita harus lebih banyak introspeksi&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan&#8230;<br>Hendaknya kata-kata bijaksana berlaku sebagai obat yang memulihkan&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimanakah saya hari ini?<br>Lancang mulut? Atau lidah bijak?<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga Roh Kudus menuntun kita kepada jalan-jalan kebijaksanaan-Nya&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Dan terus introspeksi diri karena ini tidaklah mudah.<\/p>\n\n\n\n<p>Amin.<\/p>\n\n\n\n<p>(-fon-)\/ Fonny Jodikin<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang,&nbsp;tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8212; Amsal 12:18<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Omongan yang sembarangan dapat melukai hati seperti tusukan pedang; kata-kata bijaksana bagaikan obat yang menyembuhkan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8212; Amsal 12:18 (BIS\/Bahasa Indonesia Sehari-hari)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\n\nSumber&nbsp;KatolikIndonesia@yahoogroups.com&nbsp;penulis Fonny Jodikin (fjodikin@gmail.com)\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lancang Mulut Anggaplah saya terlalu serius dalam hal ini&#8230;Meskipun saya tahu, tidaklah mudah&#8230;Tetapi saya berusaha sedapat mungkin untuk tidak lancang mulut&#8230; Karena omongan yang sembarangan dapat melukai hati&#8230; Seperti tusukan pedang&#8230; Yang menikam dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14170,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-17659","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/pintu_dalam_sakristi_k7-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17659"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17659\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17660,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17659\/revisions\/17660"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}