{"id":170,"date":"2013-12-27T13:20:25","date_gmt":"2013-12-27T06:20:25","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=170"},"modified":"2014-01-03T16:49:40","modified_gmt":"2014-01-03T09:49:40","slug":"ij-kasimo-ignatius-joseph-kasimo-hendrowahyono","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=170","title":{"rendered":"IJ Kasimo (Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono)"},"content":{"rendered":"<p><b>Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono<\/b>\u00a0(lahir pada tahun\u00a0<a title=\"1900\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1900\">1900<\/a>\u00a0\u2013 meninggal\u00a0<a title=\"1 Agustus\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1_Agustus\">1 Agustus<\/a>\u00a0<a title=\"1986\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1986\">1986<\/a>)<sup id=\"cite_ref-Kompas8Oktober2010_1-1\"><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ignatius_Joseph_Kasimo_Hendrowahyono#cite_note-Kompas8Oktober2010-1\">[1]<\/a><\/sup>\u00a0adalah salah seorang pelopor kemerdekaan\u00a0<a title=\"Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Indonesia\">Indonesia<\/a>. Ia juga merupakan salah seorang pendiri\u00a0<a title=\"Partai Katolik (Indonesia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partai_Katolik_(Indonesia)\">Partai Katolik Indonesia<\/a>. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai beberapa Menteri setelah\u00a0<a title=\"Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Indonesia\">Indonesia<\/a>\u00a0merdeka. Ia jugalah yang memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai\u00a0<i>beginsel<\/i>\u00a0atau prinsip yang harus dipegang teguh. Seperti yang disampaikan oleh pemimpin umum harian\u00a0<a title=\"Kompas (surat kabar)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kompas_(surat_kabar)\">Kompas<\/a>,\u00a0<a title=\"Jakob Oetama\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jakob_Oetama\">Jakob Oetama<\/a>, ia adalah salah satu tokoh yang menjunjung tinggi moto\u00a0<i>salus populi supremalex<\/i>, yang berarti kepentingan rakyat, hukum tertinggi, yang merupakan cermin etika berpolitik yang nyaris klasik dari tangan dirinya.<sup id=\"cite_ref-Kompas8Oktober2010_1-2\"><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ignatius_Joseph_Kasimo_Hendrowahyono#cite_note-Kompas8Oktober2010-1\">[1]<\/a><\/sup><\/p>\n<p>Kasimo Hendrowahyono dilahirkan di\u00a0<a title=\"Yogyakarta\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yogyakarta\">Yogyakarta<\/a>. Ia adalah anak kedua dari sebelas bersaudara. Orangtuanya adalah Dalikem dan Ronosentika, seorang prajurit\u00a0<a title=\"Keraton Yogyakarta\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Keraton_Yogyakarta\">Keraton Yogyakarta<\/a>, dan seorang tokoh yang memperjuangkan hak-hak anak jajahan.<sup id=\"cite_ref-Kompas8Oktober2010_1-3\"><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ignatius_Joseph_Kasimo_Hendrowahyono#cite_note-Kompas8Oktober2010-1\">[1]<\/a><\/sup>\u00a0Maka sejak kecil IJ Kasimo dididik sesuai dengan tradisi keraton. Dengan demikian, ia merasakan dan paham benar dengan cara hidup keraton yang semuanya berpusat pada Sultan.<\/p>\n<p>Ketika kakak tertuanya dipersiapkan mengganti ayahnya, maka Kasimo menggantikan posisi dan sekaligus bertanggung jawab sebagai anak laki-laki tertua. Ia harus bekerja keras membantu ibunya mengurus rumah tangga. Setelah lulus dari Bumi Putra Gading, Kasimo masuk sekolah di\u00a0<a title=\"Muntilan\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Muntilan\">Muntilan<\/a>\u00a0yang didirikan oleh\u00a0<a title=\"Romo\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Romo\">Romo<\/a>\u00a0<a title=\"Van Lith\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Van_Lith\">van Lith<\/a>. Kasimo saat itu tinggal di asrama. Kasimo kemudian tertarik untuk belajar agama Katolik. Maka pada hari raya\u00a0<a title=\"Paskah\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paskah\">Paskah<\/a>\u00a0pada bulan\u00a0<a title=\"April\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/April\">April<\/a>\u00a0<a title=\"1913\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1913\">1913<\/a>\u00a0pada usia 13 tahun, Kasimo dibaptis secara Katolik dan mendapat nama baptis\u00a0<i><a title=\"Ignasius dari Loyola (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Ignasius_dari_Loyola&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Ignatius<\/a>\u00a0<a title=\"Yusuf\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yusuf\">Joseph<\/a><\/i>.<\/p>\n<p>Setelah dewasa, beliau menjadi guru pertanian di\u00a0<a title=\"Kota Tegal\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Tegal\">Tegal<\/a>\u00a0dan\u00a0<a title=\"Kota Surakarta\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Surakarta\">Surakarta<\/a>.<\/p>\n<p>Kasimo Hendrowahyono adalah salah satu pendiri partai politik\u00a0<b>Katholiek Djawi<\/b>\u00a0yang lalu berubah nama menjadi\u00a0<b>Perkoempoelan Politiek Katholiek di Djawa<\/b>\u00a0dan lalu menjadi\u00a0<b>Partai Politik Katolik Indonesia<\/b>\u00a0(PPKI) yang kelak pada tahun 1949 Kasimo akan menjadi ketua umumnya.<\/p>\n<p>Sebagai anggota PPKI, Kasimo diangkat menjadi anggota\u00a0<i><a title=\"Volksraad\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Volksraad\">Volksraad<\/a><\/i>\u00a0antara tahun\u00a0<a title=\"1931\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1931\">1931<\/a>\u00a0&#8211;\u00a0<a title=\"1942\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1942\">1942<\/a>. Ia ikut menandatangani\u00a0<a title=\"Petisi Soetardjo\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Petisi_Soetardjo\">petisi Soetardjo<\/a>\u00a0yang menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda.<\/p>\n<p>Pada masa kemerdekaan awal,\u00a0<a title=\"Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Panitia_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia\">PPKI<\/a>\u00a0yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi\u00a0<a title=\"Partai Katolik (Indonesia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partai_Katolik_(Indonesia)\">Partai Katolik Republik Indonesia<\/a>. Antara tahun 1947-1949 ia duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri. Kasimo pun juga pernah ikut menjadi anggota\u00a0<a title=\"Delegasi Perundingan Republik Indonesia (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Delegasi_Perundingan_Republik_Indonesia&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Delegasi Perundingan Republik Indonesia<\/a>.<\/p>\n<p>Pada masa Agresi Militer II (<i>Politionele Actie<\/i>) ia bersama menteri lainnya yang tidak dikurung Belanda bergerilya di\u00a0<a title=\"Jawa Tengah\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Tengah\">Jawa Tengah<\/a>\u00a0dan\u00a0<a title=\"Jawa Timur\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Timur\">Jawa Timur<\/a>. Lalu ketika bisa kembali ke Yogyakarta ia memprakarsai kerja sama seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi\u00a0<i>Partai Katolik<\/i>.<\/p>\n<p>Pada masa\u00a0<a title=\"Republik Indonesia Serikat\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Republik_Indonesia_Serikat\">Republik Indonesia Serikat<\/a>\u00a0(RIS), Kasimo duduk sebagai wakil\u00a0<a title=\"Republik Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Republik_Indonesia\">Republik Indonesia<\/a><sup>[<i><a title=\"Wikipedia:Kutip sumber tulisan\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan\">rujukan?<\/a><\/i>]<\/sup>\u00a0dan kemudian setelah RIS dilebur sebagai anggota DPR<sup>[<i><a title=\"Wikipedia:Kutip sumber tulisan\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan\">rujukan?<\/a><\/i>]<\/sup>. Dalam\u00a0<a title=\"Kabinet Burhanuddin Harahap\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabinet_Burhanuddin_Harahap\">Kabinet Burhanuddin Harahap<\/a>\u00a0ia menjabat sebagai\u00a0<a title=\"Daftar Menteri Perdagangan Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daftar_Menteri_Perdagangan_Indonesia\">Menteri Perdagangan<\/a>. Kasimo juga ikut berjuang merebut\u00a0<a title=\"Papua\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Papua\">Irian Barat<\/a>.<\/p>\n<p>Kasimo menyatakan pendiriannya untuk menolak gagasan\u00a0<a title=\"Nasakom\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nasakom\">Nasakom<\/a>\u00a0yang ditawarkan Bung Karno. Kasimo pun juga menolak Kabinet yang diprakarsai\u00a0<a title=\"Soekarno\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Soekarno\">Soekarno<\/a>\u00a0dan terdiri dari empat partai pemenang pemilu 1955:\u00a0<a title=\"Partai Nasional Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partai_Nasional_Indonesia\">PNI<\/a>,\u00a0<a title=\"Majelis Syuro Muslimin Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Majelis_Syuro_Muslimin_Indonesia\">Masyumi<\/a>,\u00a0<a title=\"Nahdlatul Ulama\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nahdlatul_Ulama\">NU<\/a>\u00a0dan\u00a0<a title=\"Partai Komunis Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partai_Komunis_Indonesia\">PKI<\/a>. Kala itu Masyumi dan Partai Katolik Indonesia yang satu-satunya menolak bekerja sama dengan PKI di kabinet.<\/p>\n<p>Pada masa\u00a0<a title=\"Orde Baru\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Orde_Baru\">Orde Baru<\/a>, Kasimo diangkat sebagai anggota\u00a0<a title=\"Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Dewan_Pertimbangan_Agung_Republik_Indonesia\">Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia<\/a>.<\/p>\n<p>IJ Kasimo meninggal pada Jumat Kliwon, 1 Agustus 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.<\/p>\n<p>Karena perjuangannya, Kasimo mendapat anugerah Bintang Ordo Gregorius Agung dari\u00a0<a title=\"Paus Yohanes Paulus II\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paus_Yohanes_Paulus_II\">Paus Yohanes Paulus II<\/a>\u00a0dan diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari\u00a0<a title=\"Ordo Gregorius Agung (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Ordo_Gregorius_Agung&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Ordo Gregorius Agung<\/a>.<\/p>\n<p>Sementara oleh\u00a0<a title=\"Pemerintah Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pemerintah_Indonesia\">Pemerintah Indonesia<\/a>, beliau diangkat menjadi\u00a0<a title=\"Pahlawan Nasional\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pahlawan_Nasional\">Pahlawan Nasional<\/a>.<\/p>\n<p>Sumber\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ignatius_Joseph_Kasimo_Hendrowahyono\">http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ignatius_Joseph_Kasimo_Hendrowahyono<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono\u00a0(lahir pada tahun\u00a01900\u00a0\u2013 meninggal\u00a01 Agustus\u00a01986)[1]\u00a0adalah salah seorang pelopor kemerdekaan\u00a0Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri\u00a0Partai Katolik Indonesia. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai beberapa Menteri setelah\u00a0Indonesia\u00a0merdeka. Ia jugalah yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":174,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-170","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/ij-kasimo.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=170"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/170\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":176,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/170\/revisions\/176"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}