{"id":1548,"date":"2014-05-20T11:46:24","date_gmt":"2014-05-20T04:46:24","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=1548"},"modified":"2014-05-20T11:46:24","modified_gmt":"2014-05-20T04:46:24","slug":"jejak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=1548","title":{"rendered":"Jejak"},"content":{"rendered":"<p><b id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_887\"><span id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_886\" style=\"text-decoration: underline;\">JEJAK<\/span><\/b><b><\/b><\/p>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_847\" align=\"center\">(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_884\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_856\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Beberapa hari lalu \u2013 tepatnya \u2013\u00a0\u00a0hari Sabtu, 17\u00a0\u00a0Mei\u00a0\u00a02014, saya jalan-jalan di halaman SMP-SMA Muhammadiyah, Jl. KH. Ahmad Dahlan \u2013 Luwuk (Sulawesi Tengah). Di sana ada seorang siswa memegang bendera\u00a0\u00a0<i>semapore<\/i>\u00a0(cara untuk mengirim dan menerima berita dengan menggunakan bendera, batang, dayung atau tangan kosong). Kemudian saya mendekati satu regu yang sedang \u201cmencari jejak.\u201d\u00a0\u00a0Kegiatan ini menarik sekali bagi kaum remaja untuk membina sikap mental yang positif. Dalam beraksi mereka bagaikan MacGyver, sebuah petualangan\u00a0\u00a0<i>action<\/i>\u00a0\u00a0gaya\u00a0Amerika yang digarap oleh Lee David Zlotoff.\u00a0\u00a0Untuk memecahkan suatu problem, perlu dicari jejak-jejak langkah pelakunya.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_858\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Pada saat-saat tertuntu, orang ingin sekali menghilangkan jejak jika ternyata masa lalunya kurang baik\u00a0<i>.\u00a0<\/i>Bahkan dalam dunia kriminalitas ada suatu gerakan memutuskan mata rantai, semacam menghilangkan jejak dengan cara membunuh saksi, misalnya.\u00a0Kalau seseorang ingin menghilangkan sejarah, berarti membunuh pembuat sejarah itu, seperti\u00a0\u00a0<i>Malin Kundang<\/i>\u00a0yang tidak mengakui bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya.\u00a0\u00a0Akibatnya, ia dikutuk menjadi batu.<\/div>\n<div>Namun dalam dunia\u00a0\u00a0nyata, tidak\u00a0\u00a0seorang pun\u00a0\u00a0mampu menghilangkan masa lalunya. Bung Karno (1901 \u2013 1970) pernah mengatakan, \u201cJasmerah\u201d yang berarti Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.\u00a0\u00a0Dan memang untuk menjadi\u00a0<i>pengayom<\/i>\u00a0masyarakat, syarat utama adalah memiliki rekam jejak\u00a0\u00a0<i>(track record)<\/i>\u00a0\u00a0yang baik dalam hidupnya.\u00a0\u00a0Mungkin kita bertanya, \u201cBagaimana mungkin akan membawa domba ke tempat rumput yang hijau\u00a0\u00a0jika orang yang sama pernah membantai domba-domba tersebut?\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_860\">Dalam dunia kuno,\u00a0\u00a0ada suatu kebiasaan yang disebut\u00a0<i>damnatio memoriae<\/i>, kutukan terhadap cacatan nama baik seseorang.\u00a0\u00a0Seseorang yang telah banyak menunjukkan pengabdian kepada negara, namanya akan tercantum dalam buku-buku peringatan dan dalam prasasti-prasasti serta\u00a0\u00a0buku-buku sejarah.\u00a0\u00a0Tetapi jika ternyata, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang hina dan tidak terpuji, maka nama orang orang itu akan dikutuk. Pada waktu itu, kehancuran secara total akan menimpanya yaitu bahwa namanya akan disirnakan dari semua buku atau prasasti yang pernah memuatnya (Bdk. William Barclay dalam bukunya yang berjudul\u00a0\u00a0<i>\u201cMemahami Alkitab: Surat Galatia dan Efesus\u201d<\/i>\u00a0\u00a0hlm. 105).<\/div>\n<div>Pepatah Latin menulis,\u00a0<i>\u201cVestigia, nulla retrorsum\u201d<\/i>\u00a0\u2013 Jejak kaki itu tidak ada yang mundur.\u00a0\u00a0Namun bagi para gerilyawan\u00a0\u00a0untuk mengelabuhi musuh-musuh,\u00a0\u00a0mereka harus membalik jejak-jejak sandal atau sepatu yang mereka pakai. Dan ini tentunya akan membingungkan bahkan bagi tentara yang memiliki peralatan secanggih Amerika. Kisah seperti ini dapat dilihat pada jejak perang Vietnam di\u00a0<i>War Remnants Museum<\/i>\u00a0\u00a0yang di sana berdiri Patung\u00a0<i>Om<\/i>\u00a0\u00a0Ho Chi Minh (1890 \u2013 1969).<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_861\">Ketika sedang menulis \u201cJejak\u201d ini saya menjadi geli sendiri sebab kucing yang selalu menemaniku kerja, jika sehabis membuang hajat, dia selalu menutupinya dan mengendus-endus\u00a0\u201cjejak\u201d itu. Hal tersebut dibuat supaya tidak ada kucing lain\u00a0\u00a0atau anjing yang mengetahui jejaknya.\u00a0\u00a0Lalu pikiran saya terbang ke<i>toilet<\/i>\u00a0di pelabuhan kapal terbang\u00a0<i id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_875\">(Airport),<\/i>\u00a0\u00a0di sana tertulis, \u201cJangan tinggalkan Jejak. Kering itu Sehat.\u201d\u00a0\u00a0Saya tidak mengerti maksudnya.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_873\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_863\"><i>Senin, 19 Mei 2014<\/i>\u00a0\u00a0\u00a0Rm.\u00a0<b id=\"yui_3_15_0_1_1400561016043_864\">Markus Marlon, MSC<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JEJAK (Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Beberapa hari lalu \u2013 tepatnya \u2013\u00a0\u00a0hari Sabtu, 17\u00a0\u00a0Mei\u00a0\u00a02014, saya jalan-jalan di halaman SMP-SMA Muhammadiyah, Jl. KH. Ahmad Dahlan \u2013 Luwuk (Sulawesi Tengah). Di sana ada seorang siswa memegang bendera\u00a0\u00a0semapore\u00a0(cara&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":329,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1548","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/samping-gereja.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1548"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1548\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1549,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1548\/revisions\/1549"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/329"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}