{"id":14359,"date":"2018-06-18T21:34:05","date_gmt":"2018-06-18T14:34:05","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=14359"},"modified":"2018-06-18T21:34:05","modified_gmt":"2018-06-18T14:34:05","slug":"kata-kata-adalah-doa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=14359","title":{"rendered":"KATA-KATA ADALAH DOA"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_634\">Ada seorang ibu yang selalu marah-marah pada anaknya, \u201cGoblok kamu, selalu salah mengerjakan ini dan itu!\u201d Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telinganya dan terus terngiang-ngiang. Lama kelamaan, anak itu mengamini apa yang dikatakan ibunya, \u201cMemang, aku goblok!\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_647\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_648\">Ibu tadi itu sebenarnya \u201cmengutuk\u201d karena dirinya tidak memahami efek dari apa yang dilontarkan pada anaknya. Ahli pidato Romawi \u2013 Cicero (106 \u2013 43 seb. M) pernah berkata, \u201cDamnant quod non intelligunt\u201d \u2013 \u00a0mereka menghakimi (sesuatu) yang mereka tidak ketahui. Ia menggoblok-nggoblokan anaknya sendiri.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_651\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_652\">Mungkin baik, kita ingat akan tulisan Antony de Mello (1931 \u2013 1987) dalam bukunya yang berjudul, \u201cBurung Berkicau\u201d. \u00a0Dalam tulisan itu secara gamblang, Mello melukiskan \u00a0seorang pemuda yang frustrasi karena disuruh berubah (menjadi baik). Semakin disuruh untuk berubah, maka pemuda itu samakin tidak mau berubah. Namun, ketika ada orang yang \u00a0mencintai secara tulus berkata, \u201cJangan berubah, jangan berubah, seperti ini saja. Aku tetap mencintaimu!\u201d \u00a0Aneh bin ajaib, pemuda itu berubah.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Kisah di atas dalam bahasa Jawa dikatakan sebagai \u201csabda merta\u201d \u2013 orang yang dapat membangkitkan semangat juang dengan kata-kata positif. Itulah sebabnya, penulis Romawi \u2013 Horatius (65 \u2013 8 seb. M) berkata, \u201cFavete linguis\u201d \u2013 jangan mengucapkan kata-kata yang mengandung alamat kurang baik.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_653\">Mulai sekarang, berhati-hatilah dalam mengeluarkan kata-kata kepada liyan, karena \u201cNescit vox missa reverti\u201d \u2013 Kata-kata yang telah dilontarkan tidak bisa ditarik kembali. Itulah nasihat dari Horatius.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-475365361yMail_cursorElementTracker_1529280484372\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-475365361yMail_cursorElementTracker_1529280485496\">Senin, 18 Juni 2018<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1529332388750_654\">Markus Marlon<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada seorang ibu yang selalu marah-marah pada anaknya, \u201cGoblok kamu, selalu salah mengerjakan ini dan itu!\u201d Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telinganya dan terus terngiang-ngiang. Lama kelamaan, anak itu mengamini apa yang dikatakan ibunya,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14145,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-14359","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/dinding_samping_k7-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14359"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14359\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14360,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14359\/revisions\/14360"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14145"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}