{"id":14353,"date":"2018-06-18T21:29:59","date_gmt":"2018-06-18T14:29:59","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=14353"},"modified":"2018-06-18T21:29:59","modified_gmt":"2018-06-18T14:29:59","slug":"hon-maaf-lahir-dan-batin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=14353","title":{"rendered":"HON MAAF LAHIR DAN BATIN"},"content":{"rendered":"<p>Di kampung halamanku, Gunung Kidul (Yogyakarta), ada ritual yang tidak pernah tergantikan dari generasi ke generasi \u00a0yakni mudik. \u00a0Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, ratusan bus dari Jakarta ber-mudik. Kepulangan mereka tidak tanpa perjuangan. Mereka harus membeli tiket (bus, KA dan pesawat) dengan harga yang melambung tinggi dan sesampainya di air-port, stasiun dan stamplat para pemudik harus berdesak-desakan mencari tempat duduk. Banyak dari mereka menggunakan kendaraan bermotor untuk mudik. \u00a0Tetapi semuanya itu \u00a0dipandang sebagai ibadah yang akhirnya bisa berjumpa dengan kerabat di kampung halaman.<\/p>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020887131\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020888499\">Meminta dan memberi maaf itu \u00a0bukan perkara yang gampang. Mohandas Karamchand Gandhi atau yang \u00a0dikenal sebagai Mahatma Gandhi (1869 \u2013 1948) berkata, \u00a0\u201cMereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh.\u201d \u00a0Ritual tahunan untuk kembali ke kampung halaman merupakan niat yang tulus untuk menuju sebagai manusia yang \u00a0fitrah.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020889561\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020891676\">Minta \u00a0maaf saja tidak cukup, tetapi harus dilakukan dalam tindakan nyata. \u00a0Kata maaf \u00a0(dari bahasa Arab, ma\u2019 fuw) \u00a0itu memiliki arti: dibebaskan dari dosa. \u00a0Rabindranath Tagore (1861-1941), penulis dari Calcutta dalam buku yang berjudul, \u201cKisah-Kisah Tagore\u201d membeberkan seorang pembantu, yang bernama \u00a0Raicharan \u00a0yang menghilang anak kesayangan majikannya, ketika mengasuhnya di sekitar sungai Padma. Ia sangat menyesal dan kembali ke rumah. Di rumahnya sendiri ia tinggal bersama istrinya dan lahirlah seorang bayi untuknya. \u00a0Dengan kesungguhan hati, Raicharan \u00a0menjadikan anaknya sendiri dididik, dibentuk seperti anak majikannya. Setelah menjelang remaja, anak itu pun diberikan kepada majikannya. Dalam dirinya ada usaha untuk \u201cmengembalikan\u201d yang sudah retak dan kembali menjadi \u00a0silaturahim. \u00a0Inilah cerpen yang berjudul, \u201cKembalinya seorang anak\u201d.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020901459\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020907420\">Dalam memberi maaf pun kita harus tulus dan akhirnya tidak ada dendam lagi. \u00a0Saya jadi ingat wasiat Rosulullaoh Muhammad \u00a0S.A.W. \u00a0kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah. \u00a0Dalam suatu peperangan Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah berhasil menjatuhkan musuhnya. Dengan sigap beliau langsung menindih dengan tubuhnya siap dengan pedang terhunus untuk memenggal. Dalam kondisi terjepit musuh Allah tersebut meludahi wajah Ali Karomallahu Wajhah. Seketika itu juga pedang yang sudah siap dihunus diturunkan untuk membatalkan niatnya menghabisi musuh Allah tersebut. \u00a0Ketika ditanya, \u201d Mengapa engkau tidak melanjutkan niatmu untuk memenggal kepalaku?\u201d Ali bin Abi Thalib menjawab,\u201dKetika aku menjatuhkanmu aku ingin membunuhmu karena Allah akan tetapi ketika engkau meludahiku maka niatku membunuhku karena amarahku kepadamu\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020908683\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020910628\">Orang-orang Jawa memiliki banyak tradisi tentang saling memaafkan \u00a0(Di pulau Jawa itu pula muncullah Walisongo \u00a0yang berarti sembilan orang wali). \u00a0 Ketika lebaran, mereka berjumpa saling berkata, \u201cnjaluk pangapura\u201d \u00a0artinya meminta maaf atau pengampunan. \u00a0Setelah ditelusuri ternyata kata itu berasal dari \u201cghafura\u201d (bahasa Arab) yang berarti tempat pengampunan. \u00a0Kemudian kita kenal juga tradisi makan ketupat. \u00a0Konon, menurut orang tua tua ketupat berasal dari kata pat atau lepat \u00a0(bahasa Jawa) yang berarti kesalahan. Orang yang makan ketupat akan kembali di ingatkan bahwa mereka sudah terlepas dan terbebas dari kesalahan. Kita diharapkan akan saling mema\u2019afkan dan saling melebur dosa dengan simbol tradisi kupatan.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020912033\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020917121\">Untuk itu, pada bulan yang penuh berkah ini, kami sampaikan, \u00a0\u201cMinaladin walfaizin, semoga Anda termasuk golongan orang yang kembali kepada fitrah dan memperoleh kemenangan\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020947962\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020948587\">Jumat, 15 Juni 2018<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-902256932yMail_cursorElementTracker_1529020942982\">Markus Marlon<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di kampung halamanku, Gunung Kidul (Yogyakarta), ada ritual yang tidak pernah tergantikan dari generasi ke generasi \u00a0yakni mudik. \u00a0Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, ratusan bus dari Jakarta ber-mudik. Kepulangan mereka tidak tanpa perjuangan. Mereka&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14164,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-14353","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/bangku_umat_k7_1-min.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14353"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14354,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14353\/revisions\/14354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}