{"id":13956,"date":"2018-04-11T15:51:13","date_gmt":"2018-04-11T08:51:13","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13956"},"modified":"2018-04-11T15:51:13","modified_gmt":"2018-04-11T08:51:13","slug":"today-11-april-from-blaming-to-forgiving-dari-menyalahkan-menjadi-mengampuni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13956","title":{"rendered":"TODAY, 11 April: From Blaming to Forgiving (Dari Menyalahkan Menjadi Mengampuni)"},"content":{"rendered":"<p><strong><u>From Blaming to Forgiving (Dari Menyalahkan Menjadi Mengampuni)<\/u><\/strong><\/p>\n<table width=\"653\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Our most painful suffering often comes from those who love us and those we love. The relationships between husband and wife, parents and children, brothers and sisters, teachers and students, pastors and parishioners &#8211; these are where our deepest wounds occur. Even late in life, yes, even after those who wounded us have long since died, we might still need help to sort out what happened in these relationships.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penderitaan yang paling menyakitkan seringnya datang dari mereka yang mencintai kita dan yang kita cintai. Relasi antara suami dan istri, orangtua dan anak, saudara lelaki dan perempuan, guru dan murid, pastor dan umat paroki \u2013 ini adalah tempat di mana luka yang paling dalam terjadi pada kita. Bahkan sampai nanti, ya, bahkan ketika mereka yang melukai kita sudah meninggal dunia, kita masih membutuhkan bantun untuk menyelesaikan apa yang sudah terjadi dalam relasi-relasi ini.<\/p>\n<p><strong><br \/>\nThe great temptation is to keep blaming those who were closest to us for our present, condition saying: &#8220;You made me who I am now, and I hate who I am.&#8221; The great challenge is to acknowledge our hurts and claim our true selves as being more than the result of what other people do to us. Only when we can claim our God-made selves as the true source of our being will we be free to forgive those who have wounded us. (From Blaming to Forgiving &#8211; Henry Nouwen Society)<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Godaan terbesar adalah untuk tetap menyalahkan mereka yang dekat dengan kita dikarenakan keadaan kita saat ini dengan berkata, \u201c Kamulah yang membuat saya seperti hari ini, dan saya benci diriku.\u201d Tantangan terbesar adalah untuk mengakui luka-luka kita dan menyatakan bahwa diri kita yang sesungguhnya lebih dari sekadar sebuah hasil dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kita. Hanya ketika kita menyatakan bahwa diri kita yang sudah dijadikan Allah adalah sumber sejati dari pribadi kita, kita akan memiliki kebebasan untuk mengampuni mereka yang sudah melukai kita. (From Blaming to Forgiving \u2013 Henry Nouwen Society).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saya kira, apa yang saya baca dan bagikan hari ini sangat relevan dan terjadi pada setiap kita.<\/p>\n<p>Tidak banyak kata yang bisa terucap, hanyalah sebuah kesadaran bahwa memang kita sering terlanjur menyalahkan orang lain atas keadaan yang menimpa diri kita.<\/p>\n<p>Meskipun nampaknya itu adalah suatu kesalahan, percayalah bahwa segala sesuatu itu ada maksud-Nya.<\/p>\n<p>Hanya mungkin saat ini kita belum melihat, ada apa di balik ini semua?<\/p>\n<p>Tetap bersabar, tetap percaya\u2026<\/p>\n<p>Berhenti menyalahkan dan belajar mau mengampuni\u2026<\/p>\n<p>Semoga secara berproses kita menjadi lebih baik dalam tuntunan Allah dan Roh Kudus-Nya.<\/p>\n<p>Amin<\/p>\n<p>(-fon-)\/ Fonny Jodikin<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: &#8220;Marilah dekat-dekat.<sup>\u00a0<\/sup>&#8221; Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: &#8220;Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.\u00a0<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/verse.php?book=Kej&amp;chapter=45&amp;verse=5\" data-rapid_p=\"8\"><strong>45:5<\/strong><\/a>\u00a0Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati<sup>\u00a0<\/sup>\u00a0dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku<sup>\u00a0\u00a0<\/sup>mendahului kamu.<sup>\u00a0\u00a0<\/sup><a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/verse.php?book=Kej&amp;chapter=45&amp;verse=6\" data-rapid_p=\"10\"><strong>45:6<\/strong><\/a>\u00a0Karena telah dua tahun ada kelaparan<sup>\u00a0\u00a0<\/sup>dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai.\u00a0<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/verse.php?book=Kej&amp;chapter=45&amp;verse=7\" data-rapid_p=\"12\"><strong>45:7<\/strong><\/a>Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu<sup>\u00a0<\/sup>\u00a0di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.<\/p>\n<p>&#8212; Kejadian 45:4-7<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Fonny Jodikin &lt;fjodikin@gmail.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>From Blaming to Forgiving (Dari Menyalahkan Menjadi Mengampuni) Our most painful suffering often comes from those who love us and those we love. The relationships between husband and wife, parents and children, brothers and&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":513,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13956","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/kursi-romo.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13956"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13957,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13956\/revisions\/13957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}