{"id":13550,"date":"2018-01-18T11:06:48","date_gmt":"2018-01-18T04:06:48","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13550"},"modified":"2018-01-18T11:06:48","modified_gmt":"2018-01-18T04:06:48","slug":"kerjakankah-segala-sesuatu-sebaik-mungkin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13550","title":{"rendered":"KERJAKANKAH SEGALA SESUATU SEBAIK MUNGKIN"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1516248108130_788\">Ada seorang ayah yang memberi nasihat kepada putranya yang mulai bekerja untuk pertama kalinya, \u201cJika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik!\u201d \u00a0Pada waktu itu, saya langsung ingat apa yang dikatakan Plautus (254 \u2013 184 seb. M) sastrawan Romawi yang berkata, \u201cAge quod agis\u201d \u00a0&#8211; \u00a0\u201cJika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik!\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1516248108130_795\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1516248108130_796\">Kata-kata seorang ayah tersebut pada putranya di atas tadi, mengingatkan kita akan buku yang berjudul, \u201cEveryday greatness\u201d yang ditulis oleh David Hatch. Ia berkata, \u201cAku ingin menghayati kehidupan ini dengan keyakinan bahwa karyaku yang terpenting selalu belum kukerjakan. Inilah yang sering kita dengar, \u201cSemoga hari ini lebih baik daripada kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini\u201d. Di sini orang diandaikan adanya progress \u2013 kemajuan dari hari ke hari.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Hidup yang singkat ini, kita harus sungguh-sungguh berarti. Chairil Anwar (1922 \u2013 1949) pernah berpuisi, \u201cSekali berarti, sesudah itu mati!\u201d \u00a0Dan kata-kata ini pernah didengungkan oleh Shakespeare (1564 \u2013 16161) dalam dramanya yang berjudul Hamlet. \u00a0Hidup itu suatu pertanyaan terus-menerus, \u201cTo be or not to be\u201d \u2013 Menjadi sesuatu atau tidak menjadi apa-apa. Kita ingin menjadi pelaku, pengubah dunia atau sekadar menjadi alat, lelucon yang tidak lucu.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1516248108130_803\">Masing-masing kita mendapat amanah yang harus kita kerjakan secara bertanggung jawab. Inilah caranya untuk \u201cmenjadi apa-apa\u201d (Shakespeare) atau untuk menjadi \u201csekali berarti\u201d (Chairil Anwar). Dari sana pula kita ingat kata-kata Helen Keller (1880 \u2013 1968), \u201cAku ingin sekali menyelesaikan tugas mulai yang istimewa, tetapi tugas utamaku adalah menyelesaikan tugas-tugas kecil seakan-akan semuanya mulia dan istimewa.\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1671279689yMail_cursorElementTracker_1516242032348\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1671279689yMail_cursorElementTracker_1516242033494\">Kamis, 18 Januari 2018<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1671279689yMail_cursorElementTracker_1516242033995\">Markus Marlon<\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada seorang ayah yang memberi nasihat kepada putranya yang mulai bekerja untuk pertama kalinya, \u201cJika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik!\u201d \u00a0Pada waktu itu, saya langsung ingat apa yang dikatakan Plautus (254 \u2013&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":665,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/tampak-samping.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13550"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13551,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13550\/revisions\/13551"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/665"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}