{"id":13502,"date":"2018-01-10T15:41:56","date_gmt":"2018-01-10T08:41:56","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13502"},"modified":"2018-01-10T15:41:56","modified_gmt":"2018-01-10T08:41:56","slug":"pesimistis-hidup-di-jaman-now","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13502","title":{"rendered":"PESIMISTIS HIDUP DI JAMAN NOW"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1515573444636_797\">Ada seorang ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah di TK, pandangannya menerawang jauh. Lalu lamat-lamat, ibu itu berkata kepada teman sebelahnya, \u201cSaya koq pesimistis dengan anak-anak saya di kemudian hari.\u201d Tambahnya lagi, \u201cTahun 2040 tentunya dunia sudah berubah drastis. Jaman now saja, saya \u00a0merasa keponthal-ponthal mengejar ketinggalan.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1515573444636_798\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1515573444636_799\">Ibu muda yang merasa pesimistis itu memang bisa dipahami. Kita hidup di jaman now yang serba kompleks. Kemajuan tehnologi yang tak terkendali ini mengubah gaya hidup. Mungkin benar apa yang ditulis oleh Aldous Huxley (1894 \u2013 1963) dalam bukunya yang berjudul, \u201cBrave New World\u201d. \u00a0Ia meramalkan sebuah masyarakat yang sudah berubah total di bawah pengaruh teknologi.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Jauh sebelum itu, pesimisme sudah dialami \u00a0dari zaman ke zaman. Lihat saja dunia para filsuf yakni Yunani. Karena kemiskinan, sakit, pedih dan derita-derita umum yang lain, \u201cbanyak orang bijak memandang hidup ini sebagai hukuman dan lahir sebagai malapetaka yang paling besar\u201d (John Wijngaards dalam bukunya yang berjudul, \u201cPersaudaraan Bersama Yesus\u201d hlm. 21). Kata pesimis itu sangat peyoratif, yakni pessimus (Bhs. Latin artinya: buruk).<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201cThose whom the gods love die young\u201d \u2013 Mereka yang disayang Tuhan mati muda, adalah peribahasa Inggris yang patut untuk kita renungkan. Peribahasa ini bisa kita sejajarkan dengan kata-kata ini, \u201cBagi manusia yang hidup di dunia ini, hal yang terbaik adalah kalau tidak dilahirkan dan bagi orang-orang yang sudah lahir di dunia ini, hal yang terbaik adalah meninggal secepat-cepatnya (Bdk. Pkh 4: 2 \u2013 3).<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-438639530yMail_cursorElementTracker_1515544205976\">Rabu, 10 Januari 2018<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1515573444636_811\">Markus Marlon<\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada seorang ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah di TK, pandangannya menerawang jauh. Lalu lamat-lamat, ibu itu berkata kepada teman sebelahnya, \u201cSaya koq pesimistis dengan anak-anak saya di kemudian hari.\u201d Tambahnya lagi, \u201cTahun 2040&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":478,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/pilar.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13502"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13502\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13503,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13502\/revisions\/13503"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/478"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}