{"id":13265,"date":"2017-12-04T17:41:29","date_gmt":"2017-12-04T10:41:29","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13265"},"modified":"2017-12-04T17:41:29","modified_gmt":"2017-12-04T10:41:29","slug":"penjilat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13265","title":{"rendered":"PENJILAT"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_843\">Membaca buku \u201cThe \u00a048 Laws of Power\u201d tulisan Robert Greene, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. \u00a0Ternyata penjilat itu diciptakan oleh para pembesar yang suka dipuji. Karena itu banyak pemuji-pemuja terdapat di lingkungan kebudayaan istana (palace culture).<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_845\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_846\">Penulis buku \u201cstrategi perang\u201d-nya \u00a0Sun Tzu (544 \u2013 496 seb. M) \u00a0maupun \u201cThe Prince\u201d-nya \u00a0Machiavelli (1469 \u2013 1527) mengagungkan para penjilat agar eksis di istana-istana. Dengan adanya para penjilat tersebut, para raja dan \u00a0kaisar termotivasi untuk lebih menguasai dan meluaskan daerah kekuasaannya \u2013 yang tentunya \u2013 dengan menghalalkan segala cara.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_851\">Peribahasa Inggris yang berbunyi, \u201cA rich man\u2019s joke is always funny\u201d \u2013 kelakar orang kaya \u00a0selalu terdengar lucu, ada benarnya juga. Meskipun kelakar orang kaya kadang tidak bermutu, namun orang-orang di sekitarnya selalu tertawa, terutama mereka yang suka menjilat. \u00a0Itulah sebabnya, Grimm Bersaudara menulis kisah tentang \u201cKing\u2019s clothes\u201d \u2013 pakaian sang raja.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sang raja yang dikatakan oleh para penjilat itu sebagai pribadi \u201cyang tidak pernah salah\u201d. Sang raja \u00a0diperdaya oleh pembuat pakaian terkenal di kota itu. Penjahit itu \u201cmembuat\u201d pakaian sang raja yang terindah. Penjahit seolah-olah mengenakannya pakaian kebesaran sang raja, tetapi ternyata tidak ada kain sama sekali. Para penjilat memuji-muji sang raja. Dan pada akhirnya seorang anak kecil, \u201cHa, sang raja telanjang!\u201d<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_852\">Penjilat selalu memuji. Anak monyet disebutnya putri raja dan tulisan \u00a0jelek dipuji seperti puisinya Kahlil Gibran 1883 \u2013 1931). Si penjilat memuji, tidak karena dia mencari keselamatan orang yang dipuji, tetapi sebaliknya karena dia mau menghancurkannya: laudetur ut deleatur.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_853\"><\/div>\n<div>Senin, 4 Desember 2017<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1512382272484_854\">Markus Marlon<\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca buku \u201cThe \u00a048 Laws of Power\u201d tulisan Robert Greene, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. \u00a0Ternyata penjilat itu diciptakan oleh para pembesar yang suka dipuji. Karena itu banyak pemuji-pemuja terdapat di lingkungan kebudayaan istana&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":720,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/pilar-depan.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13265"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13266,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13265\/revisions\/13266"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/720"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}