{"id":13185,"date":"2017-11-17T15:09:01","date_gmt":"2017-11-17T08:09:01","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13185"},"modified":"2017-11-18T09:06:42","modified_gmt":"2017-11-18T02:06:42","slug":"guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13185","title":{"rendered":"GURU"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_743\">GURU<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_797\">(Asal-usul Kata)<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_798\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_782\">Di desa-desa zaman dulu, yang namanya guru itu sungguh luar biasa. Guru, menjadi jujugan (tempat yang dituju), digugu lan ditiru (orang yang dapat dipercaya dan diteladani), bahkan \u00a0seperti dhalang, yang wedhar piwulang (mewejang pengajaran). Tetapi zaman now, kita tahu sendiri siapa itu guru.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_786\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_785\">Guru sebenarnya adalah sapaan bagi guru spiritual dalam agama Hindu dan Sikh. Kata in diambil dari bahasa Hindu, gur\u016b dan dari bahasa Sansekerta, guruh yang berarti berat atau berbobot. Dengan kata berbobot, hal ini menandakan bahwa seorang guru itu pandai dan berilmu, sehingga ia menjadi pakar dan tokoh yang amat menonjol.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_783\"><\/div>\n<div>Dari zaman Yunani kuno hingga zaman now, guru memiliki sejarahnya yang sangat panjang (Bdk. Samuel Smith dalam bukunya yang berjudul, \u201cGagasan-gagasan Besar Tokoh-tokoh dalam Pendidikan\u201d). Lihat saja nama-nama yang berkaitan dengan guru, misalnya: \u00a0pendidik, pengajar, educator, teacher, mentor, master, pendeta, coaching, dosen, \u00a0dan pedagog.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Mungkin kita pernah mendengar Tai Chi Master. \u00a0Master \u00a0yang berarti guru itu dari Prancis kuno, maistre dan bahasa Latin, Magister. \u00a0Magister \u00a0atau magistra untuk guru-guru novisiat. Magister dari kata magis yang berarti lebih dari yang lainnya. Yesus bersabda, \u201cA student is not above his teacher&#8230;\u201d \u2013 seorang murid tidak lebih dari pada gurunya (Mat 10: 24).<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1430310768yMail_cursorElementTracker_1510884730729\">Kita juga kenal dengan tokoh pewayangan yang bernama Pendhita Durna. Dinamakan \u00a0pendhita \u00a0karena dia adalah guru yang sangat disegani oleh Pandawa dan Kurawa. Kata pendhita itu dipinjam dari bahasa Hindi, pandit dan dari bahasa sansekerta pandhita yang berarti seorang yang terpelajar atau cendekiawan. Dari kata pandita ini muncul istilah pendeta yang diartikan sebagai pemuka agama.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_784\">Hanya sayang nama Pendhita Dorna tidak begitu baik. Dia memunyai murid kesayangan bernama Arjuna. Dan ketika ada orang lain yang melebihi keahlian Arjuna, Dorna berlaku curang. Dorna meminta Ekalaya memberikan jempolnya kepada Arjuna, sehingga Ekalaya tidak bisa memanah lagi seperti sedia kala.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1510905755458_837\">Jumat, 17 November 2017<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1430310768yMail_cursorElementTracker_1510884726269\">Markus Marlon<\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>GURU (Asal-usul Kata) Di desa-desa zaman dulu, yang namanya guru itu sungguh luar biasa. Guru, menjadi jujugan (tempat yang dituju), digugu lan ditiru (orang yang dapat dipercaya dan diteladani), bahkan \u00a0seperti dhalang, yang wedhar&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":738,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/LG-191.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13185"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13186,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13185\/revisions\/13186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/738"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}