{"id":13086,"date":"2017-11-03T13:04:49","date_gmt":"2017-11-03T06:04:49","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13086"},"modified":"2017-11-04T22:27:49","modified_gmt":"2017-11-04T15:27:49","slug":"dengan-menahami-makna-kematian-hidup-jadi-berubah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13086","title":{"rendered":"DENGAN MENAHAMI MAKNA KEMATIAN, HIDUP JADI BERUBAH"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_836\">Tony Snow (1955 \u2013 2008) seorang wartawan dan comentator politik dan pernah menjabat sekretaris di Gedung Putih era George Bush mengalami perubahan drastis setelah menyandang penyakit kanker.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_838\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_839\">Ketika berhadapan dengan \u00a0kefanaan dan keringkihan \u2013 fragile \u2013 tubuh, cara memandang hidupnya pun menjadi lebih bijak. Karena umurnya tidak lama lagi, maka ia mengurangi mengeluh. Relasinya dengan sesama pun menjadi baru: suka menyapa, suka mengunjungi orang sakit dan menjadi penyemangat bagi yang sakit.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_844\"><\/div>\n<div>Dan kini, Snow suka berdiam, \u201csilent noble\u201d. Berdiam diri mensyukuri rahmat Tuhan seperti yang dikatakan Blaise Pascal (1623 \u2013 1662). Dengan berdiam diri, seseorang belajar melihat karunia \u2013 meskipun kecil \u2013 sangat berarti bagi hidupnya.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_847\">Syair Ebit G. Ade, \u201cHidup dan mati ada di tangan-Mu\u201d \u00a0hendak mengingatkan kita bahwa Tuhanlah yang empunya kehidupan. Kemudian kita mengacu dengan apa yang dikatakan Cicero (106 \u2013 43 seb. M), \u201cVita, dulcedo et spes\u201d \u2013 Hidup, kesenangan dan harapan. Meskipun nasib manusia dalam titik nadir, ia harus punya harapan.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_848\">Ketika divonis umurnya \u201csudah hampir selesai\u201d maka hidup yang singkat itu pun menjadi bermakna. Dan kita tidak ingin hari-hari kita hilang percuma, seperti yang dikatakan Kaisar Titus (39 \u2013 81 M), \u201cdiem perdidi\u201d \u2013 saya telah kehilangan satu hari. Sang kaisar pernah mengalami bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan \u00a0untuk melakukan hal-hal yang berguna.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_849\">\u201cTempus edax rerum\u201d \u2013 waktu menggerogoti segalanya seperti yang dikatakan Ovidius (20 seb. M \u2013 17 M). \u00a0Cepat atau lambat hidup kita itu mendekat ke alam kematian. Dalam hal ini pun Publius Syrus (85 \u2013 43 seb. M) pun berkata, \u201cA morte semper homines tantumdem absumus\u201d \u2013 kita ini, manusia, selalu dengan cara yang sama dengan kematian.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Jumat, 3 November 2017<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509688103106_852\">Markus Marlon<\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tony Snow (1955 \u2013 2008) seorang wartawan dan comentator politik dan pernah menjabat sekretaris di Gedung Putih era George Bush mengalami perubahan drastis setelah menyandang penyakit kanker. Ketika berhadapan dengan \u00a0kefanaan dan keringkihan \u2013&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":385,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13086","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/dom.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13086","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13086"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13086\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13087,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13086\/revisions\/13087"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/385"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13086"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13086"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13086"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}