{"id":13079,"date":"2017-11-03T09:07:57","date_gmt":"2017-11-03T02:07:57","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13079"},"modified":"2017-11-03T12:43:47","modified_gmt":"2017-11-03T05:43:47","slug":"sebelum-mati-hiduplah-dengan-penuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=13079","title":{"rendered":"SEBELUM MATI, HIDUPLAH DENGAN PENUH"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_817\">Mengenai Fransiskus Asisi (1182 \u2013 1226) \u2013 mungkin dalam sebuah legenda \u2013 ada kisah demikian. \u00a0Ketika Fransiskus \u00a0yang sudah mulai tua menanam pohon, datanglah seseorang dan berkata, \u201cSeandainya bapa tahu bahwa hari ini akan mati, apakah yang akan bapa lakukan?\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_833\">Jawabnya, \u201cTentu saja saya tetap akan menanam pohon juga!\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_473\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_474\">Orang ini berkata lagi, \u201cApa tidak baik jika bapa mulai bersiap-siap menghadap Tuhan dengan berdoa tanpa henti?\u201d<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Fransiskus berkata, \u201cSaya sudah siap kapan saja Dia memanggil saya.\u201d<\/div>\n<div>Apa yang dikatakan Fransiskus ini oleh John Powell (1925 \u2013 2009), disebut dengan ungkapan, \u00a0\u201cFully human, fully alive\u201d.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_476\">Memang, kematian itu datangnya seperti pencuri, tidak dapat disangka-sangka. Paulus bahkan menyebut kematian dengan kata \u201cecthros\u201d \u2013 musuh yang terakhir (1 Kor 15: 26), \u201cThe last enemy\u201d. \u00a0Maka harus disiapkan terus-menerus.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Tak heranlah \u00a0di Glasgow (Skotlandia) ada suatu alat penunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari (sundial) dengan motto, \u201cPerhatikanlah waktu sebelum waktu itu berakhir.\u201d Janganlah kita sekali-kali mengundurkan sesuatu untuk lain kali (waktu) karena waktu lain itu mungkin tidak akan datang. \u201cPericulum in mora\u201d \u2013 ada bahaya dalam penundaan.<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_479\">Di sinilah \u00a0Jean d\u2019Arc (1412 \u2013 1431) memunyai prinsip hidupnya untuk Tuhan. Dia tidak pernah mau menunda. Dan ketika teman-temannya menganjurkan agar ia tidak \u201cngoyo\u201d \u2013 menyibukkan diri berlebihan, ia malah berkata, \u201cAdalah lebih baik bernyala sampai padam daripada karatan sampai mati\u201d. Jean d\u2019Arc mengetahui bahwa musuh-musuhnya kuat, sedangkan waktu sudah amat pendek, dia berdoa kepada Tuhan, \u201cAku akan hidup hanya untuk satu tahun pakailah aku jika Engkau berkenan.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_478\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1509674055369_477\">Kaisar Maximinus (circa 173 \u2013 238 M) pernah berkata, \u201cMelius mori quam sibi vivere\u201d \u2013 lebih baik mati daripada hidup tapi hanya untuk diri sendiri. Hidup dengan penuh, fully alive di sini diartikan sebagai hidup yang dipersembahkan kepada sesama, \u201cSekali berarti, mati!\u201d<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Kamis, 2 November 2017<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-654494427yMail_cursorElementTracker_1509638172653\">Markus Marlon<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengenai Fransiskus Asisi (1182 \u2013 1226) \u2013 mungkin dalam sebuah legenda \u2013 ada kisah demikian. \u00a0Ketika Fransiskus \u00a0yang sudah mulai tua menanam pohon, datanglah seseorang dan berkata, \u201cSeandainya bapa tahu bahwa hari ini akan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":304,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-13079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/altar-utama.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13079"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13079\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13083,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13079\/revisions\/13083"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}