{"id":12977,"date":"2017-10-21T10:08:32","date_gmt":"2017-10-21T03:08:32","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=12977"},"modified":"2017-10-21T19:35:30","modified_gmt":"2017-10-21T12:35:30","slug":"dari-jurang-yang-dalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=12977","title":{"rendered":"DARI JURANG YANG DALAM"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_787\">Pernah suatu kali saya mengunjungi seorang ibu yang sekarang berjualan kelontong di sebelah toko swalayan.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_834\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_833\">\u00a0\u201cSetahun yang lalu\u201d katanya, \u201cSaya yang mengelola toko besar itu. Tetapi karena kematian suamiku \u2013 bapaknya anak-anaknya \u2013 Saya harus bergeser dan sekarang ini, toko swalayan dikelola oleh ipar-iparku\u201d<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_852\">Menyaksikan apa yang dialami ibu itu, ia kini amat sedih dan betapa berat hidupnya. Dan yang paling menyedihkan yaitu tempat duduknya, kini diduduki orang lain dan sekarang ia \u00a0ndhepis (duduk di warung yang sempit sekali). \u00a0Seolah-olah, ia mengeluh, \u201cOut of the depths I cry to you, o Lord\u201d \u2013 Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! (Mzm 130: 1).<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_853\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_846\">Jurang berarti lembah yang dalam dan sempit, serta curam dindingnya. Di lain tempat disebut juga sebagai tubir yang gelap gulita. Barangkali seperti itulah yang dilukiskan Dante Alighieri (1265 \u2013 1321) sastrawan Italia ketika menerangkan inferno dalam novelnya yang berjudul, \u201cDivina Comedia\u201d. \u00a0Yang ada hanyalah ratapan, seperti kata-kata pemazmur, \u201cIllic sedimus et flevimus\u201d \u2013 di sanalah kita tinggal dan meratap (Mzm 137: 1).<\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_854\">Kita semua tentu \u00a0pernah mengalami situasi \u201cDe profundis\u201d \u2013 Dari jurang yang dalam, seperti: penyakit yang tak tersembuhkan, relasi dengan sesama yang terganggu dan tak mungkin pulih kembali, gali lubang untuk menutup lubang (pinjam sana, pinjam sini) serta kematian orang yang dicintai, terlebih karena menjadi andalan keluarganya.<\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_831\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_2_1508555167808_832\">Sabtu, 21 Oktober 2017<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-480490072yMail_cursorElementTracker_1508541202523\">Markus Marlon<\/div>\n<div>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah suatu kali saya mengunjungi seorang ibu yang sekarang berjualan kelontong di sebelah toko swalayan. \u00a0\u201cSetahun yang lalu\u201d katanya, \u201cSaya yang mengelola toko besar itu. Tetapi karena kematian suamiku \u2013 bapaknya anak-anaknya \u2013 Saya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":843,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-12977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/altar-maria-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12977"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12978,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12977\/revisions\/12978"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/843"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}