{"id":11762,"date":"2017-05-27T08:29:37","date_gmt":"2017-05-27T01:29:37","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=11762"},"modified":"2017-05-27T08:58:26","modified_gmt":"2017-05-27T01:58:26","slug":"alur-pikir-pesan-paus-fransiskus-di-hari-komunikasi-sedunia-ke-51-tahun-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=11762","title":{"rendered":"Alur Pikir Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017"},"content":{"rendered":"<div class=\"td-post-featured-image\">\n<figure><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/good-news-bad-news.jpg\" data-caption=\"Bad news are good news (ist)\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"entry-thumb td-animation-stack-type0-1\" title=\"good news bad news\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/good-news-bad-news.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"392\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Bad news are good news (ist)<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p><strong>BANYAK<\/strong> pembaca merespon baik atas rilis pesan Bapa Suci Paus Fransiskus menyambut Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017. Namun, sejumlah orang juga mengaku \u2018sulit\u2019 memahami persis inti pesan Sri Paus tersebut.<\/p>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0 <a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-admin\/post.php?post=69237&amp;action=edit\">Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Berikut ini kami mencoba paparkan alur pikir Sri Paus. Ini murni merupakan pendapat pribadi penulis.<\/p>\n<p>Tampaknya Paus memakai alur pikir sebagai berikut: paparan data, refleksi sosial, refleksi biblis, refleksi teologis tentang sejarah keselamatan, dan akhirnya memberi semacam kesimpulan tentang bagaimana kita semestinya bersikap dan bertindak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69241\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/produksi-berita.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69241 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/produksi-berita.jpg\" width=\"607\" height=\"341\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus mengajak segenap orang untuk bijak menggunakan semua kemajuan iptek untuk membangun budaya berkomunikasi positif dengan mengutamakan kabar baik daripada kabar buruk dan apalagi kabar bohong. (Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Paparan data <\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Kemajuan iptek, utamanya bidang teknologi komunikasi, telah menjadikan semua orang mampu \u2018memproduksi\u2019 kabar, berita, informasi.<\/li>\n<li>Otak atau pikiran manusia bekerja layaknya seperti mesin batu kilangan yakni \u2018menggiling\u2019 semua informasi yang masuk ke dalam benak atau pikiran orang.<\/li>\n<li>Tergantung kita sendiri bahan (informasi) apa yang akan kita \u2018giling\u2019 (baca: serap) dan kemudian hasilnya kita sebarkan (diseminasi informasi).<\/li>\n<li>Hasil olah pikir dalam penyerapan informasi itu bisa berupa kabar baik, kabar buruk, dan juga kabar bohong (<em>hoax).<\/em><\/li>\n<li>Jadi, nurani atau hati nurani setiap oranglah yang akhirnya akan memberi warna akan informasi apa yang ingin kita \u2018produksi\u2019 dari olah pikiran kita dan kemudian kita bagikan dan sebarkan ke orang lain melalui medsos, media massa, atau blog pribadi.<\/li>\n<li>Semua itu menjadi mungkin, karena peradaban iptek di bidang komunikasi yang semakin memudahkan orang bisa \u2018melahirkan\u2019 informasi, berita baik, kabar bagus, dan tentu saja juga ternasuk kabar bohong (<em>hoax<\/em>).<\/li>\n<\/ul>\n<figure id=\"attachment_69242\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/citizen-journalism.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-69242 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/citizen-journalism.jpeg\" alt=\"\" width=\"2000\" height=\"1496\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Setiap orang kini bisa menjadi \u2018wartawan\u2019 berkat tersedianya aneka gadget modern untuk penyebaran informasi secara cepat dan gampang serta murah. (Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Refleksi sosiologis<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Kita di zaman modern ini hidup dalam suasana persebaran informasi yang sering mendatangkan kegaduhan, kesedihan, tipisnya harapan, dan kecemasan. Itu terjadi karena media massa memainkan \u2018adagium\u2019 yang berlaku di panggung bisnis informasi yakni <em>bad news are good news<\/em>.<\/li>\n<li>Yang malah laris dan suka didengarkan, dilihat, dicermati oleh hampir kebanyakan orang melalui radio, televisi, internet, dan sekarang medsos adalah berita perang, kekacauan politik, kegaduhan di masyarakat, dan sekarang ini juga <em>hoax<\/em>.<\/li>\n<li>Berita-berita \u2018negatif\u2019 telah sedemikan rupa dikemas sehingga malah menjadi semacam tontonan yang \u2018menghibur\u2019.<\/li>\n<li>Itu adalah sesuatu hal yang semestinya \u2018tidak demikian\u2019. Lalu kita mesti menyikapi bagaimana?<\/li>\n<li>Daripada menyebarkan informasi yang hanya melahirkan kecemasan, mengapa kita tidak fokus saja pada berita-berita yang mampu melahirkan adab perjumpaan antar pribadi manusia dan memotivasi antar orang untuk bisa saling percaya satu sama lain.<\/li>\n<li>Kita diajak Paus untuk memproduksi berita-berita \u2018positif\u2019 yang membangun masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<figure id=\"attachment_69240\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pope-Francis-first-selfie.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69240 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pope-Francis-first-selfie.jpg\" width=\"600\" height=\"400\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus Fransiskus diajak ber-selfie. (Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>\u00a0Refleksi biblis berdasarkan Kitab Suci<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Realitas itu tidak bebas \u2018nilai\u2019 karena tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Jadi, pikiran kita sepertinya sudah memasang \u2018lensa\u2019 dengan apa kita akan memandang realitas itu. Karena itu, peristiwa sama akan punya nilai berbeda bagi setiap orang; itu tergantung dari sudut pandang mana ia \u2018memahami\u2019 sebuah peristiwa kehidupan.<\/li>\n<li>Yesus adalah Anak Allah yang hadir dan masuk dalam sejarah riil umat manusia: misteri Inkarnasi Ilahi dimana Yesus memang pernah eksis dalam sejarah manusia. Ia lahir dari Bunda Maria di Israel dan berkarya selama tiga tahun, mati disalib, namun kemudian bangkit dari kematian mengalahkan \u2018maut\u2019: Sejarah Keselamatan Perjanjian Baru dan Misteri Paska.<\/li>\n<li>Paskah menjadi dasar iman kristiani.<\/li>\n<li>Yesus itu sendiri adalah Kabar Gembira yang \u2018dihadiahkan\u2019 oleh Allah kepada umat manusia.<\/li>\n<li>Meski Yesus sudah \u2018tidak ada\u2019 lagi dalam sejarah manusia karena telah bangkit dan naik ke surga, namun ia tetap eksis di hati setiap manusia beriman (kristiani) melalui hadirnya Roh Kudus yang menerangi hidup setiap orang beriman.<\/li>\n<li>Hal itu telah disampaian Nabi Yesaya dengan kata-kata: \u201cJanganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.\u201d (Yes 43: 5) dan juga oleh Yesus sendiri yang mengatakan: \u201cAku senantiasa menyertai kamu.\u201d<\/li>\n<li>Refleksi orang beriman ketika menyikapi penderitaan, kematian adalah munculnya harapan kepada pertolongan Tuhan. Dari tubir putus asa, orang berpaling dari dirinya sendiri kepada kuasa Tuhan.<\/li>\n<li>Itulah pengalaman beriman sebagaimana terjadi pada para murid ketika hidup bersama dengan Yesus hingga akhirnya memahami siapa Dia itu sebenarnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Teologi biblis tentang Kerajaan Allah<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Yesus sering kali sengaja memakai perumpamaan-perumpamaan untuk menerangkan hal-hal yang barangkali susah diterima dengan mudah oleh khalayak ramai, termasuk para murid-Nya yang mayoritas hanya \u2018orang-orang biasa\u2019 karena profesi mereka adalah nelayan.<\/li>\n<li>Iman itu ibarat benih yang ditabur di tanah dan kemudian harus \u2018rela mati\u2019 agar kemudian muncullah tunas kehidupan baru dari benih yang telah ditaburkan dan \u2018rela mati\u2019 demi kehidupan baru.<\/li>\n<li>Mengapa Yesus suka memakai perumpamaan daripada konsep-konsep teoritis? Yesus sengaja memberi \u2018ruang kebebasan\u2019 bagi manusia untuk mencecap pesan penting di balik perumpamaan-perumpamaan itu. Adalah kebebasan manusia sendiri untuk mau menerima atau menolaknya.<\/li>\n<li>Harapan akan Allah menjadi semakin matang oleh \u2018olah diri\u2019 manusia yang merefleksikan imannya kepada Tuhan: Teologi Harapan.<\/li>\n<\/ul>\n<figure id=\"attachment_69245\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/003-parable-sower.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69245 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/003-parable-sower.jpg\" width=\"604\" height=\"453\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Perumpamaan tentang penabur. (Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Teologi biblis akan Peristiwa Kenaikan Tuhan<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Kerajaan Allah itu ada di dalam sejarah hidup manusia. Tergantung kita sendiri apakah iman kita mampu \u2018menangkap\u2019 kehadiran Tuhan itu dalam segala hal.<\/li>\n<li>Roh Kudus ada menerangi hidup manusia dan menjadi \u2018cahaya hati\u2019 bagi setiap orang beriman kristiani.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/good-news.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-69239 size-full td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/good-news.gif\" width=\"415\" height=\"206\" \/><\/a>Konklusi iman<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Pengalaman iman akan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan keyakinan bahwa Roh Kudus itu selalu menjadi \u2018cahaya hati\u2019 setiap orang seharusnya menjadi modal bagi setiap orang beriman kristiani dalam berkomunikasi.<\/li>\n<li>Adab berkomunikasi inilah yang akhirnya mampu memotivasi orang beriman dalam berkomukasi atau berproses memroduksi informasi dengan mengutamakan \u2018kabar baik\u2019 daripada \u2018kabar buruk\u2019.<\/li>\n<li>Menjalani keseharian hidup dalam suasana harapan akan Allah itu hendaknya menjadi \u2018cara bertindak\u2019 setiap orang beriman.<\/li>\n<li>Itulah ragam hidup yang pernah dilakoni oleh para kudus: Santo-Santa dalam sejarah panjang Gereja Universal.<\/li>\n<li>Roh Kudus masih tetap bekerja menerangi hati dan pikiran setiap orang beriman kristiani bagaikan mercusuar di tengah kegelapan dan membuka jalan baru menuju keyakinan dan harapan senantiasa.<\/li>\n<li>Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita \u2013dalam segala cara berkomunikasi di zaman modern ini\u2014dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya \u2018 kabar baik\u2019 di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber http:\/\/www.sesawi.net\/2017\/02\/23\/alur-pikir-pesan-paus-fransiskus-di-hari-komunikasi-sedunia-ke-51-tahun-2017\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bad news are good news (ist) BANYAK pembaca merespon baik atas rilis pesan Bapa Suci Paus Fransiskus menyambut Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017. Namun, sejumlah orang juga mengaku \u2018sulit\u2019 memahami persis inti pesan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3171,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-11762","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/sinode.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11762"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11763,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11762\/revisions\/11763"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}