{"id":11760,"date":"2017-05-27T08:27:37","date_gmt":"2017-05-27T01:27:37","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=11760"},"modified":"2017-05-27T08:58:19","modified_gmt":"2017-05-27T01:58:19","slug":"pesan-paus-fransiskus-di-hari-komunikasi-sedunia-ke-51-tahun-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=11760","title":{"rendered":"Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017"},"content":{"rendered":"<div class=\"td-post-featured-image\">\n<figure><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-fransiskus-dikalungi-kambing-by-cnn.jpg\" data-caption=\"Paus Fransiskus (Courtesy of CNN)\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"entry-thumb td-animation-stack-type0-1\" title=\"paus fransiskus dikalungi kambing by cnn\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-fransiskus-dikalungi-kambing-by-cnn.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"277\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus Fransiskus (Courtesy of CNN)<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p><strong>Pengantar Redaksi<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Paus Fransiskus telah merilis pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-51 pada tahun 2017 untuk kemudian dibacakan secara serentak di seluruh dunia pada saat Hari Komunikasi Sedunia yang biasanya terjadi pada bulan Mei setiap tahunnya.<\/em><\/p>\n<p><em>Redaksi menerjemahkan teks pesan Sri Paus tersebut dari naskah aslinya berbahasa Inggris dengan sedikit perbandingannya dari bahasa Perancis. Kami berusaha menerjemahkan sesuai konteks aslinya. Editing hanya kami lakukan pada tata letak alinea agar lebih enak dibaca.<\/em><\/p>\n<p>__________________<\/p>\n<p><strong>\u201cJanganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau.\u201d (Yes 43: 5)<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0Mengkomunikasikan Harapan dan Kepercayaan pada Masa Kini<\/strong><\/p>\n<p><strong>BERKAT<\/strong> kemajuan teknologi, akses ke media kini semakin memungkinkan banyak orang bisa dengan mudah dan cepat berbagi berita dan kemudian menyebarkannya kepada publik secara massif. Berita-berita itu bisa saja berupa kabar baik atau buruk; juga bisa berupa kabar benar atau kabar bohong.<\/p>\n<p>Umat kristiani perdana sering mengidentikkan pikiran manusia layaknya batu kilangan yang tiada hentinya menggiling; itu terserah kepada pemilik batu kilangan apakah dia ingin menggiling biji gandum berkualitas atau biji-bijian lain yang tak berguna. Pikiran kita juga senantiasa \u2018menggiling\u2019, tetapi terserah pada\u00a0 kita sendiri memilih bahan apa yang akan giling. (Lihat:<em> Surat Leontius<\/em> dari Santo Johannes Kasianus).<\/p>\n<p>Saya ingin menyampaikan pesan ini kepada mereka yang karena pekerjaan profesionalnya atau karena relasi pribadinya seperti batu kilangan tersebut, yang sehari-hari \u2018mengolah\u2019 informasi dengan tujuan bisa menyediakan aneka informasi bagus sesuai keinginan pihak dengan siapa mereka menjalin komunikasi.<\/p>\n<p>Saya ingin memotivasi siapa pun agar senantiasa berperilaku secara konstruktif dalam menyikapi cara-cara berkomunikasi yang mengesampingkan segala prasangka terhadap orang lain dan mendorong terciptanya adab perjumpaan, karena ini akan membantu kita memandang dunia di sekitar apa adanya dan penuh kepercayaan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69183\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-fransiskus.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69183 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-fransiskus.jpg\" width=\"600\" height=\"450\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus Fransiskus dan anak kecil. (Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Saya meyakini bahwa kita memang sudah seharusnya memutus mata rantai lingkaran setan kecemasan dan membendung spiral ketakutan yang muncul karena terlalu\u00a0 fokus pada \u201cberita-berita buruk\u201d (perang, terorisme, skandal, dan segala macam berita tentang kegagalan manusia). Ini bukan perkara tentang penyebaran informasi salah yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia, \u00a0juga bukan tentang optimisme buta yang naif terhadap skandal kejahatan.<\/p>\n<p>Lebih dari itu, saya ingin mengajak kita semua berusaha mengatasi ketidakpuasan dann sikap tarik diri yang makin \u00a0berkembang \u00a0sehingga menimbulkan apatisme, ketakutan atau gagasan bahwa \u00a0kejahatan tidak ada batasnya. Apalagi, di industri komunikasi, berita baik diyakini tidak punya nilai jual sementara tragedi kemanusiaan dan misteri kejahatan malah dengan mudah dikemas sebagai hiburan, maka di situ selalu ada godaan yang membuat\u00a0 hati nurani \u00a0tumpul atau terperosok pada pesimisme.<\/p>\n<p>Karenanya, saya ingin menyumbangkan upaya untuk menemukan pola komunikasi terbuka dan kreatif yang tidak berusaha mengagungkan kejahatan, melainkan fokus pada solusi dan menginspirasi pendekatan positif dan bertanggungjawab bagi pihak perima informasi. Saya mengimbau semua orang agar memberi kepada manusia dewasa ini inti cerita yang pada hakekatnya adalah \u201ckabar baik\u201d.<\/p>\n<p><strong>Kabar baik <\/strong><\/p>\n<p>Hidup bukanlah semata-mata rangkaian susul-menyusul aneka peristiwa yang begitu saja \u2018telanjang\u2019, melainkan merupakan sebuah sejarah, sebuah jalinan cerita yang\u00a0 menunggu saat untuk kemudian dikisahkan menggunakan lensa interpretasi\u00a0 tertentu yang\u00a0 bisa menyeleksi dan mengumpulkan data paling relevan.<\/p>\n<p>Di dan pada dirinya sendiri, realitas itu tak punya satu makna yang jelas. Semuanya tergantung pada cara bagaimana orang \u00a0melihat realitas tersebut, pada lensa mana yang dianggapnya \u00a0paling tepat. Kalau saja kita mengganti lensa pandang, maka realitas itu dengan sendirinya juga akan berubah. Lalu, bagaimana kita mesti mulai \u2018membaca\u2019 realitas \u00a0dengan lensa \u00a0yang tepat pula?<\/p>\n<figure id=\"attachment_69184\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/ShareYourGoodNews.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69184 size-full td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/ShareYourGoodNews.jpg\" width=\"520\" height=\"280\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Berbagi kabar baik. (Ilustrasi\/Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bagi kita, segenap umat kristiani, lensa tersebut adalah kabar gembira, berawal\u00a0 dari Kabar Baik yang tak lain tak bukan adalah Sang Kabar Baik itu sendiri: \u201cInilah Injil Yesus Kristus, Anak Allah\u201d (Mk 1: 1). Dengan rumusan kalimat itu, Santo Markus \u00a0mengawali penulisan Injilnya tidak dengan cara mempertautkan kabar baik <em>tentang<\/em> Yesus Kristus, melainkan menegaskan bahwa <em>Kabar Baik itu tidak lain adalah<\/em> <em>Yesus sendiri<\/em>.<\/p>\n<p>Benarlah, dengan membaca teks Injil Markus, \u00a0kita jadi tahu bahwa judul itu memang\u00a0 sesuai dengan isinya dan \u2013lebih dari semua hal\u2014 isinya pun \u00a0juga berkisah tentang pribadi Yesus.<\/p>\n<p>Kabar gembira \u2013Yesus sendiri\u2014 itu baik, bukan karena tidak ada kaitannya dengan penderitaan, melainkan menderita itu sendiri hanyalah bagian kecil dari sebuah gambar yang lebih besar. Hal ini dipandang sebagai bagian integral dari cinta Yesus kepada Bapa-Nya dan kepada seluruh umat manusia. Dalam Kristus, Tuhan telah menunjukkan solidaritas-Nya dengan setiap kondisi manusia. Ia sendiri telah mengatakan kepada kita bahwa kita tidak sendirian, karena kita memiliki Bapa yang senantiasa peduli dengan anak-anak-Nya. \u201cJanganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.\u201d (Yes 43: 5): ini adalah kata-kata hiburan dari Tuhan yang telah merasuk ke dalam sejarah umat manusia.\u00a0 Dalam diri Putera-Nya yang terkasih, janji ilahi\u00a0 \u2013\u201cAku senantiasa bersamamu\u201d itu\u2013 telah menyatu padu dengan semua kelemahan manusia, bahkan sampai saat mati pun.<\/p>\n<p>Dalam Kristus itu, bahkan kegelapan dan kematian menjadi titik pertemuan \u00a0antara Terang dan Hidup. Harapan muncul, sebuah harapan \u00a0yang merengkuh semua orang\u2014terutama di bagian paling persimpangan dimana kehidupan menghadapi pahitnya kegagalan. Harapan ini tidak mengecewakan, karena kasih Tuhan telah dicurahkan kepada hati kita (Roma 5: 5) dan menjadikan hidup baru bersemi, sama seperti tumbuhan baru yang muncul dari benih yang jatuh. Dipandang dari perspektif ini, setiap tragedi baru yang terjadi di sejarah \u00a0umat manusia bisa menjadi wahana bagi munculnya kabar baik, sejauh kasih itu menemukan jalan untuk mendekatkan dan membangkitkan banyak\u00a0 hati yang simpati, wajah yang teguh dan tangan yang siap membangun yang baru.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69186\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/kabar-gembira-injil.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69186 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/kabar-gembira-injil.jpg\" width=\"600\" height=\"338\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi (ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Keyakinan akan benih Kerajaan Allah <\/strong><\/p>\n<p>Guna mengantar para murid-Nya dan kerumunan orang akan cara pandang \u00a0Injil\u00a0 ini dan untuk menyediakan kepada mereka lensa tepat, yang dibutuhkan untuk melihat dan merengkuh kasih yang kadang mati dan bangkit kembali tersebut, maka Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Sering kali Yesus \u00a0membandingkan Kerajaan Allah seumpama benih yang memperlihatkan daya hidupnya manakala \u00a0benih tersebut \u00a0jatuh ke tanah dan mati (Mk 4: 1-34).<\/p>\n<p>Penggunaan \u00a0gambaran \u00a0dan metafor untuk menjelaskan kuasa Kerajaan Allah yang tenang itu tidak mengurangi penting dan urgensi pesan yang ingin disampaikan; lebih dari itu, inilah cara penuh kasih yang\u00a0 bisa \u00a0memberi ruang bagi para pendengar sabda-Nya untuk secara bebas menerima dan menghargai\u00a0 kuasa tersebut. Ini juga merupakan cara paling efektif \u00a0untuk mengungkapkan martabat agung Misteri Paska dengan lebih menggunakan gambaran daripada konsep, untuk mengkomunikasikan keindahan paradoksal akan hidup baru dalam Kristus. Dalam kehidupan tersebut,\u00a0 kesulitan dan salib tidak saling menghalangi, melainkan membawa keselamatan Allah; kelemahan membuktikan diri lebih kuat dibanding semua kekuatan manusiawi; kegagalan bisa menjadi awal bagi pemenuhan akan segala sesuatu dalam kasih.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69187\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Teachings_of_Jesus_5_of_40._parable_of_the_mustard_seed._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69187 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Teachings_of_Jesus_5_of_40._parable_of_the_mustard_seed._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible.gif\" width=\"600\" height=\"459\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Perumpamaan tentang penabur. (Ilustrasi\/Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Ini adalah bagaimana harapan dalam Kerajaan Allah itu akan menjadi matang dan semakin mendalam: ini adalah \u201cSeperti seseorang yang harus menyebarkan benih di tanah, kemudian tidur di malam hari dan ketika bangun keesokan harinya, maka tunas itu telah tumbuh dan berkembang.\u201d (Mk 4: 26-27).<\/p>\n<p>Kerajaan Allah sebenarnya telah hadir di tengah-tengah kita, mirip sebuah benih yang tidak mencolok mata namun kemudian akarnya tumbuh bersemi. Kepada mereka yang oleh Roh Kudus mendapatkan pandangan yang jernih, \u00a0akan dimampukan \u00a0melihat benih itu mekar dan bertumbuh. Mereka tidak membiarkan dirinya terbuai\u00a0 dengan kegirangan akan Kerajaan Allah karena semak belukar pun ikut bermunculan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69189\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-dan-anak-kecil-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-69189 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/paus-dan-anak-kecil-2.jpg\" width=\"600\" height=\"385\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus memberi contoh nyata tentang \u2018cara berkomunikasi\u2019 yang baik. (Ilustrasi\/Ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Cakrawala Roh<\/strong><\/p>\n<p>Harapan kita berdasarkan kabar baik yakni Yesus sendiri itu telah membuat kita mengangkat pandangan dalam merenungkan Tuhan saat perayaan liturgis Kenaikan. Sekalipun Tuhan sekarang ini tampak makin jauh, namun cakrawala harapan justru berkembang makin luas. Di dalam Kristus, yang membawa kemanusiaan kita semakin ilahi, maka setiap laki-laki dan perempuan sekarang bebas \u201cmasuk ke dalam tempat kudus berkat darah Yesus, di jalan baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri\u201d (Ibr 10: 19-20). Oleh \u201ckekuatan Roh Kudus\u201d, \u00a0kita menjadi saksi dan \u201ckomunikator\u201d akan kemanusiaan kita yang baru dan tertebus \u201cbahkan sampai ke ujung bumi\u201d (Kis 1: 7-8).<\/p>\n<p>Keyakinan akan benih Kerajaan Allah dan Misteri Paska itu seharusnya juga membentuk cara kita berkomunikasi.\u00a0 Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita \u2013dalam segala cara berkomunikasi di zaman modern ini\u2014dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya\u00a0 kabar baik di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.<\/p>\n<figure id=\"attachment_69188\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"td-modal-image\" href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/sick-boy-pope-feature.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-69188 td-animation-stack-type0-1\" src=\"http:\/\/www.sesawi.net\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/sick-boy-pope-feature.jpg\" alt=\"\" width=\"620\" height=\"470\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Paus Fransiskus memeluk anak sakit bernama Dominic Gondreau (8) yang mampu membetot atensi masyarakat internasional. (Courtesy of Gregoria Borgia\/AP)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mereka yang dalam iman \u00a0mempercayakan kepada bimbingan Roh Kudus akan menyadari betapa Allah hadir dan bekerja di setiap saat dalam hidup dan sejarah kita, dengan sabar membawa kita kepada \u00a0sejarah keselamatan. Harapan adalah untaian benang dengan apa sejarah suci ini ditenun, dan sang penenun itu tidak lain adalah Roh Kudus, Sang Penghibur.<\/p>\n<p>Harapan merupakan kebajikan paling bersahaja, karena ia tetap tersembunyi di relung kehidupan;\u00a0 namun harapan itu mirip ragi yang mengolah semua adonan. Kita memeliharanya dengan cara membaca Injil lagi dan lagi, \u201cdicetak ulang\u201d ke banyak edisi dalam rupa \u00a0hidup para kudus yang telah menjadi simbol akan kasih Tuhan di dunia ini.<\/p>\n<p>Sekarang ini pun, Roh Kudus masih terus menabur dalam diri kita hasrat akan Kerajaan Allah, terima kasih kepada semua orang yang bisa mengambil inspirasi dari Kabar Gembira di tengah hiruk pikuknya \u00a0peristiwa dramatik sekarang ini, karena Roh Kudus senantiasa memancarkan cahaya seperti mercusuar di tengah gelapnya dunia, mencurahkan sinar terangnya itu sepanjang waktu dan membuka jalan baru \u00a0menuju keyakinan dan harapan senantiasa.<\/p>\n<p>Dari Vatikan, 24 Januari 2017<\/p>\n<p><strong>FRANSISKUS<\/strong><\/p>\n<p>Sumber http:\/\/www.sesawi.net\/2017\/02\/22\/pesan-paus-fransiskus-di-hari-komunikasi-sedunia-ke-51-tahun-2017\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paus Fransiskus (Courtesy of CNN) Pengantar Redaksi Paus Fransiskus telah merilis pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-51 pada tahun 2017 untuk kemudian dibacakan secara serentak di seluruh dunia pada saat Hari Komunikasi Sedunia yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3171,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-11760","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/sinode.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11760","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11760"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11760\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11761,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11760\/revisions\/11761"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11760"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11760"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11760"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}