{"id":10827,"date":"2017-01-31T21:29:14","date_gmt":"2017-01-31T14:29:14","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=10827"},"modified":"2017-01-31T21:29:14","modified_gmt":"2017-01-31T14:29:14","slug":"rabu-1-februari-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=10827","title":{"rendered":"Rabu, 1 Februari 2017"},"content":{"rendered":"<div class=\"idx_kal_perayaan\">Kandelaria dr st Yosef, Marua Aba Vaillot, Odilia Vaymgarten<\/div>\n<div class=\"idx_kal_perayaan\"><\/div>\n<div class=\"idx_kal_alkitab\">\n<div><a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Ibr12:4-7;Ibr12:11-15;\" target=\"_blank\">Ibr. 12: 4-7,11-15<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm103:1-2;Mzm103:13-14;Mzm103:17-18;\" target=\"_blank\">Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mrk6:1-6;\" target=\"_blank\">Mrk. 6:1-6<\/a>.<br \/>\nBcO <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Rm14:1-23;\" target=\"_blank\">Rm 14:1-23<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"idx_kal_pakaian\">\n<div>warna liturgi Hijau<\/div>\n<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=10827-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/div>\n<div>\n<p class=\"style136\" align=\"justify\"><span class=\"style137\">Santa Brigida, Biarawati<\/span><\/p>\n<p class=\"style136\" align=\"justify\">Brigida lahir di Umeras, Kildare, Irlandia pada tahun 453. Ayahnya, Dubthach adalah seorang pangeran yang masih kafir. Sedangkan ibunya, Borcessa adalah seorang budak belian yang sudah menganut agama Kristen. Brigida dibesarkan dan dididik menjadi seorang Kristen. Setelah dewasa, ia bercita-cita menjadi seorang biarawati. Namun keinginannya ini mendapat banyak rintangan. Pertama-tama karena pada waktu itu belum ada biara khusus untuk wanita. Lagi pula wanita budak belian dan anak-anaknya tidak mempunyai hak apapun bahkan seringkali mereka tidak diperkenankan mengikuti ibadat.<br \/>\nMeskipun demikian, keinginannya tidak terpatahkan oleh rintangan- rintangan tersebut. ia berusaha mendirikan sebuah biara khusus untuk para wanita di Kildare. Ia berhasil membujuk ayahnya untuk memberikannya status sebagai wanita bebas (bukan budak lagi). Ternyata ia menjadi seorang biarawati yang luar biasa. Ia bersemangat tinggi dan rajin dalam karyanya, kuat ingatannya, ramah dan terampil. Ia dapat bergaul dengan siapa saja dan siap menolong orang-orang yang datang kepadanya., bahkan menerima mereka dalam biaranya. Ia memusatkan perhatiannya pada para penderita kusta dan budak belian.<br \/>\nKecuali itu, ia juga memulai usahanya di bidang pendidikan. Conleth, seorang imam, dipercayakan memimpin sekolah Kildare. Sekolah ini semenjak awal terkenal sebagai sekolah ketrampilan. Dikemudian hari, setelah Brigida wafat pada tahun 523, sekolah itu dibagi menjadi dua, satu untuk pria dan yang lain untuk wanita. Hal ini menampakkan suatu keistimewaan pada saat itu.<br \/>\nPenghormatan kepada santa Brigida masih berlangsung hingga kini. Di Irlandia, Brigida dikenal sebagai salah satu orang kudus terkenal selain Santo Patrik dan Columba. Ia dihormati sebagai pelindung negara Irlandia dan tokoh teladan bagi para petani, artis dan pelajar.<\/p>\n<p class=\"style136\" align=\"justify\"><span class=\"style137\">Santo Severus, Uskup<\/span><\/p>\n<p class=\"style136\" align=\"justify\">Severus dikenal sebagai seorang penenun kain di Ravenna, Italia pada abad ke\u00a04. Ia beranak isteri dan menjabat sebagai diakon. Sewaktu ia menghadiri pemilihan uskup baru, sekonyong-konyong seekor merpati hingga diatas kepalanya. Dan secara aklamasi umat memilihnya menjadi Uskup. Mayatnya dan mayat isterinya Santa Vinsensia dan anaknya Santo Inosensius dicuri pada tahun 836 dan dibawa ke Mainz, Jerman.<\/p>\n<p class=\"style136\" align=\"justify\">Sumber<br \/>\nhttp:\/\/imankatolik.or.id\/kalender\/1Feb.html<br \/>\nhttp:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_8124\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-10827-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3\">http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=10827-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"FJ2017-02-01-KESETIAAN-ITU-RM-JOHN-LABA-SDB.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kandelaria dr st Yosef, Marua Aba Vaillot, Odilia Vaymgarten Ibr. 12: 4-7,11-15; Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a; Mrk. 6:1-6. BcO Rm 14:1-23 warna liturgi Hijau Santa Brigida, Biarawati Brigida lahir di Umeras, Kildare, Irlandia pada tahun 453.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10283,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10827","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/LogoAPP-KAJ-2017.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10827"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10827\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10832,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10827\/revisions\/10832"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10283"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}