{"id":10336,"date":"2016-12-29T11:29:22","date_gmt":"2016-12-29T04:29:22","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=10336"},"modified":"2016-12-29T14:46:08","modified_gmt":"2016-12-29T07:46:08","slug":"hari-ini-lahirlah-bagi-kita-yesus-kristus-penyelamat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=10336","title":{"rendered":"HARI INI, LAHIRLAH BAGI KITA, YESUS KRISTUS, PENYELAMAT"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft\" src=\"http:\/\/www.kak.or.id\/sites\/default\/files\/styles\/article\/public\/field\/image\/DSC_1172.jpg?itok=TuKedh08\" alt=\"\" width=\"380\" height=\"420\" \/><\/p>\n<p><strong>Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,<\/strong> Hari Raya Natal tiba kembali dalam perputaran tahun liturgis yang diawali dengan Adventus. Umat beriman bersyukur atas saat iman yang mulia ini. Dalam semangat bersaudara, umat beriman merayakan Natal dengan gembira dan penuh syukur. Kegembiraan ini tumbuh dan berkembang karena anugerah penjelmaan Putra Allah menjadi manusia: \u201c<em>Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud\u201d <\/em>(Lk 2:11). Sebagai manusia, Yesus berjalan bersama sesama dalam hiruk pikuk dunia, seutuhnya dan sepenuhnya, kecuali dosa. Kehadiran-Nya di dunia mewujudkan kepedulian Allah bagi manusia yang berada dalam kerapuhan. Dengan menjelma menjadi manusia, Yesus mewahyukan belaskasihan Bapa-Nya bagi umat manusia.<\/p>\n<p>Selama satu tahun, persekutuan gerejawi kita telah menekuni dan merayakan belaskasihan ilahi atau kemurahan hati Allah bagi manusia. Kita telah belajar kembali bagaimana membangun rukun hidup yang penuh dengan belaskasihan. Dengan mengalami pembaruan hidup sebagai umat beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, kita berupaya menjadi saksi-saksi hidup dari cinta kasih Allah dalam perjalanan bersama. Kita bangkit dan bergerak bersama untuk melanjutkan karya belaskasih Allah. Kita belajar untuk memulihkan hubungan-hubungan yang retak dan rusak, baik secara ekologis maupun secara manusiawi. Kita mengalami kembali perjalanan menuju kemuliaan serta damai-sejahtera alam tercipta: \u201c<em>Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya<\/em>\u201d (Lk 2:14).<\/p>\n<p>Kelahiran Yesus Kristus selalu menarik dan mempesona umat Kristiani. Kristus datang ke dunia untuk memulihkan hubungan dengan Bapa di sorga. Kristus menjadi Allah beserta kita dalam kenyataan manusiawi. Dengan demikian, umat beriman selalu mendapat kesempatan untuk lahir kembali sebagai anak-anak Allah yang baik dan benar. Di dalam pribadi Yesus Kristus yang lahir, persekutuan gerejawi kita mengalami suatu peristiwa iman yang merangkul semua orang. Oleh karena itu, dengan merayakan Natal, kita belajar bagaimana menjadi berbela rasa dengan sesama yang berkekurangan. Kita menemukan kembali perutusan Yesus untuk membangun keseimbangan hidup dengan seluruh ciptaan: \u201c<em>Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannnya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggung jawabnya sendiri<\/em>\u201d (Gal 6:4-5).<\/p>\n<p>Di tengah maraknya kerusakan lingkungan hidup ekologis (fisik, sosial dan manusiawi) kita mendapat undangan serta sentuhan baru dari Yesus yang lahir, agar kita berani melakukan pertobatan serta perubahan dalam gaya hidup kita. Kita menyadari kembali panggilan kita untuk menjadi pelayan satu sama lain, termasuk pelayan alam tercipta. Cobaan-cobaan yang merongrong lingkungan hidup, seperti narkoba, perdagangan manusia, korupsi dan kekerasan harus kita singkirkan dengan kesungguhan hati. Dengan komitmen yang teguh, kita berusaha dan berjuang bersama untuk mengatasinya dengan menemukan cara-cara yang efektif bagi \u00a0pencegahan dan penanganannya. Kita bergandengan tangan dan bergotong-royong dalam upaya menghadirkan ketenteraman hidup bagi semua orang. Kita berdoa dan berharap, agar mereka yang menjadi pelaku dalam kejahatan kemanusiaan ini bertobat demi keluhuran martabat sesama dan dirinya sendiri: \u201c<em>Kami juga menasehati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang\u201d<\/em> (1Tes 5:14-15).<\/p>\n<p>Dalam suasana hangatnya suhu politik, persekutuan gerejawi kita semestinya ikut membangun lingkungan bersama yang berselimutkan sikap saling menghormati, saling mempercayai dan saling memberdayakan demi kebaikan bersama dalam keadilan dan perdamaian. Pilihan politik harus menghadirkan perdamaian dan kerukunan dalam perbedaan. Itulah tanda nyata dari kemuridan Yesus Kristus dalam upaya bersama untuk menegakkan kesetaraan martabat dalam merajut kebaikan bersama, yaitu damai sejahtera.Di tengah proses demokrasi ini, kita membangun budaya politik, yaitu berjuang untuk kebaikan bersama. Dalam upaya bersama untuk memilih pemimpin publik, kita memberikan suara kepada calon yang berjiwa kepelayanan sosial dan bermutu dalam bingkai keberagaman demi kebaikan bersama: \u201c<em>Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tenang, seperti yang telah kupesankan kepada kamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka\u201d <\/em>(1Tes 4:11-12).<\/p>\n<p>Kemajemukan rukun hidup kita saat ini sedang berada dalam pelbagai cobaan. Kita mudah-mudahan menyadarinya dengan hati berbelaskasih. Tujuannya adalah bahwasanya kita punya daya untuk menghadirkan kerukunan hidup dalam perbedaan. Kita memperbesar serta memperluas hubungan sosial dalam semangat saling menghormati dan saling menghargai. Kita menjadi warga yang berfaedah dalam memelihara, menjaga dan merawat kerukunan hidup secara dinamis, aktif dan kreatif. Kita berjuang bersama agar kehadiran kita menjadi penggerak dan penjiwa bagi rukun hidup dalam kemajemukan. Dengan demikian kita menjadi pemeran dalam rukun hidup yang menyatukan menurut pelbagai bidang kehidupan baik di perkotaan maupun di perdesaan: \u201c<em>Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mersa dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu<\/em>\u201d (Ef 4:32).<\/p>\n<p>Hari ini Yesus Kristus lahir kembali dalam lingkungan hidup kita. Dia lahir kembali untuk menyapa dan mengundang kita kepada praktek hidup Kristiani yang sejati. Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, kelahiran Yesus mengajak kita untuk memanfaatkannya dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab dalam kemurahan hati. Kita menggunakan kemajuan teknologi dalam semangat penjelmaan: Sabda menjadi daging. Artinya, praktek hidup Kristiani kita semakin sesuai dengan tujuan kelahiran Yesus, yaitu membangun kembali kerukunan hidup dengan Bapa-Nya dan sesama. Kelahiran Yesus mengingatkan kita kembali bahwa martabat manusiawi kita adalah anugerah yang paling luhur: \u201c<em>Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam KristusYesus<\/em>\u201d (Fil 4:7). Kita mempunyai panggilan serta perutusan untuk menjaga, merawat dan mengembangkan keluhurannya dalam kebenaran, keadilan dan perdamaian. Dengan demikian perayaan kelahiran Tuhan Yesus Kristus menjadi berfaedah dan kreatif dalam menumbuhkan serta menyuburkan hidup iman Kristiani ini, khususnya dalam keluarga dan lingkungan hidup kita: \u201c<em>Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit.\u201d<\/em> (Kol 1:23).<\/p>\n<p>Pada akhir renungan ini, marilah kita saling mengucapkan \u201c<strong>Selamat Hari Raya Natal 2016 dan selamat Tahun Baru 2017\u201d<\/strong>. Berkat kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus melimpah dalam perjalanan hidup kita, karena \u201c<em>Kasih karunia menyertai kamu\u201d<\/em> (Kol 4:18).<\/p>\n<p><strong>Kupang, 8 Desember 2016<\/strong><br \/>\n<strong><em>Salam Hormat dan Berkat,<\/em><\/strong><br \/>\nMgr. Petrus Turang<\/p>\n<p>Sumber http:\/\/www.kak.or.id\/surat-gembala-natal-2016\/hari-ini-lahirlah-bagi-kita-yesus-kristus-penyelamat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, Hari Raya Natal tiba kembali dalam perputaran tahun liturgis yang diawali dengan Adventus. Umat beriman bersyukur atas saat iman yang mulia ini. Dalam semangat bersaudara, umat beriman merayakan Natal&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10337,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-10336","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/Petrus-Turang.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10336"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10336\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10338,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10336\/revisions\/10338"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}