{"id":10678,"date":"2017-01-20T11:28:36","date_gmt":"2017-01-20T04:28:36","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?page_id=10678"},"modified":"2017-01-20T11:28:36","modified_gmt":"2017-01-20T04:28:36","slug":"pantang-dan-puasa","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?page_id=10678","title":{"rendered":"Pantang dan Puasa"},"content":{"rendered":"<p class=\"style21\" align=\"center\">Pantang dan Puasa<\/p>\n<p class=\"v style377\" align=\"justify\">Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus. Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.<a class=\"style379\" href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/khk.php?q=1251-1252\" target=\"_blank\">(KHK 1251-1252)<\/a><\/p>\n<p class=\"v style377\" align=\"justify\">Jadi sebagai orang Katolik <strong>wajib<\/strong> berpuasa pada hari <strong>Rabu Abu<\/strong> dan <strong>Jumat Agung.<\/strong> Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja. <strong>Yang wajib berpuasa<\/strong> adalah semua orang beriman yang <strong>berumur antara delapan belas (18) tahun sampai awal enam puluh (60) tahun.<\/strong><\/p>\n<p><strong>PUASA berarti:<\/strong><br \/>\nmakan kenyang hanya satu kali dalam sehari.<br \/>\nUntuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih<br \/>\n\u2022 <strong>Kenyang<\/strong>, tak kenyang, tak kenyang, atau<br \/>\n\u2022 Tak kenyang, <strong>kenyang<\/strong>, tak kenyang, atau<br \/>\n\u2022 Tak kenyang, tak kenyang, <strong>kenyang<\/strong><\/p>\n<p>Orang Katolik <strong>wajib berpantang<\/strong> pada hari <strong>Rabu Abu<\/strong> dan <strong>setiap hari Jumat sampai Jumat Suci.<\/strong> Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah.<br \/>\n<strong>Yang wajib berpantang<\/strong> adalah semua orang katolik yang <strong>berusia empat belas (14) tahun ke atas.<\/strong><\/p>\n<p><strong>PANTANG<\/strong> berarti<br \/>\n\u2022 Pantang <strong>daging<\/strong>, dan atau<br \/>\n\u2022 Pantang <strong>rokok<\/strong>, dan atau<br \/>\n\u2022 Pantang <strong>garam<\/strong>, dan atau<br \/>\n\u2022 Pantang <strong>gula dan semua manisan<\/strong> seperti permen, dan atau<br \/>\n\u2022 Pantang <strong>hiburan<\/strong> seperti radio, televisi, bioskop, film.<\/p>\n<p>Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang,<br \/>\nsesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun,<br \/>\numat beriman,<br \/>\nbaik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok,<br \/>\ndianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. <em>Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.<\/em><\/p>\n<p>Dalam rangka masa tobat, maka pelaksanaan perkawinan juga disesuaikan. Perkawinan tidak boleh dirayakan secara meriah.<\/p>\n<h1 class=\"v style377\" align=\"justify\">ARTI PUASA dan PANTANG<\/h1>\n<p class=\"v style377\" align=\"justify\"><strong>PUASA<\/strong> adalah <strong>tindakan sukarela Tidak makan atau tidak minum Seluruhnya<\/strong>, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun <strong>Atau sebagian<\/strong>, yang berarti mengurangi makan atau minum.<\/p>\n<div class=\"style151\" align=\"justify\">\n<ul type=\"disc\">\n<li class=\"style152\">Secara kejiwaan, Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.<\/li>\n<li class=\"style152\">Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan.<\/li>\n<li class=\"style152\">Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.<\/li>\n<li class=\"style152\">Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau.<\/li>\n<li class=\"style152\">Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p class=\"v style377\" align=\"justify\">Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan <strong>doa<\/strong> dan <strong>derma<\/strong>, yang terwujud dalam <strong>Aksi Puasa Pembangunan.<\/strong><br \/>\nSemangat yang sama berlaku pula untuk laku PANTANG.<br \/>\nYang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah:<\/p>\n<div class=\"style151\" align=\"justify\">\n<ul type=\"disc\">\n<li class=\"style152\">Berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu.<\/li>\n<li class=\"style152\">Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h4 class=\"v style377\" align=\"justify\">SABDA TUHAN SEHUBUNGAN DENGAN PUASA<\/h4>\n<p class=\"v style377\" align=\"justify\">\n<span class=\"v style151\"><em>&#8220;Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:<br \/>\nBerpuasa yang Kukehendaki ialah,<br \/>\nSupaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman<br \/>\nDan mematahkan setiap kuk<br \/>\nSupaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya<br \/>\nDan mematahkan setiap kuk,<br \/>\nSupaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar<br \/>\nDan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah<br \/>\nDan apabila kamu melihat orang telanjang<br \/>\nSupaya engkau memberi dia pakaian<br \/>\nDan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.<br \/>\nPada waktu itulah<br \/>\nEngkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab<br \/>\nEngkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku<br \/>\nApabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu<br \/>\nDan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah<br \/>\nApabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri<br \/>\nDan memuaskan hati orang tertindas<br \/>\nMaka terangmu akan terbit dalam gelap<br \/>\nDan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari&#8221;<\/em> <\/span><\/p>\n<h4 class=\"v style151\" align=\"justify\">Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:<\/h4>\n<p class=\"v style151\" align=\"justify\"><em>\u201cApabila kamu berpuasa,<br \/>\nJanganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.<\/p>\n<p><strong>Tetapi apabila engkau berpuasa,<br \/>\nminyakilah kepalamu<br \/>\nDan cucilah mukamu<br \/>\nSupaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa<\/strong><\/p>\n<p>Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.\u201d<\/em><\/p>\n<p class=\"v style151\" align=\"justify\">Sumber http:\/\/imankatolik.or.id\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pantang dan Puasa Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":10671,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-10678","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/10678","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10678"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/10678\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10679,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/10678\/revisions\/10679"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/10671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10678"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}