Selasa, 11 Maret 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 11 Maret 2025
Matius 6:9-10 (Mat 6:7-15)
”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga…”
Doa Yesus Menjadi Doa Kita
Sesungguhnya doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus bagi kita, adalah doaNya sendiri. Dalam doaNya Yesus datang kepada Allah sebagai BapaNya. Ia tahu persis siapakah Bapa di surga dan bagaimana keadaan di surga.
Sebagaimana Yesus telah menjadi manusia, Ia pun tahu apa yang kita perlukan karena Ia-pun mengalami yang sama seperti yang kita alami. Oleh karena itu Yesus mengajak kita untuk meminta, mencari, mengetuk pintu hati Allah.
Namun di atas segalanya kita memohon agar kehendak Allah Bapa kita, itulah yang terjadi. Kita ingat bahwa di taman Getsemani, betapa Yesus ingin lepas dari derita yang sudah di depan mata. Karena itu Ia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39).
Salah satu yang dikehendaki Bapa bagi kita adalah mengampuni orang yang bersalah pada kita saat kita juga mohon ampun atas kesalahan kita. Jangan biarkan ada dendam dan simpan marah dalam hati.
Dan ingatlah bahwa jawaban utama doa kita tak lain adalah Roh Kudus yang dianugerahkan Allah untuk tinggal di hati kita, menggerakkan hati kita untuk selalu berseru “Abba ya Bapa.”
Ia memberi kita kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup, menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin, dan memampukan kita untuk berserah dan bersandar pada ksih Bapa.
Selamat hari Selasa. Tiada hari tanpa doa “Bapa Kami.”❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 11 Mar 2025
Selasa Prapaskah I
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mat 4:4b
Bacaan Injil: Mat 6:7-15
**************
Bait Pengantar Injil
Mat 4:4b
Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
Bacaan Injil
Mat 6:7-15
Yesus mengajar murid-Nya berdoa.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
“Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele
seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.
Mereka menyangka bahwa
karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.
Jadi janganlah kamu seperti mereka,
karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,
sebelum kamu minta kepada-Nya.
Karena itu berdoalah begini:
“Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,
Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang,
Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***************
ℍ
“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” (Mat 6: 9 – 13).
Bagaimanakah anda berdoa? Doa yang sejati tidak mencoba untuk memaksa Tuhan. Doa yang diajarkan oleh Yesus adalah contoh terbaik. Kita berdoa pertama-tama untuk “urusan” Allah agar Kerajaan-Nya datang dan bertumbuh, serta kasih-Nya menguasai seluruh alam semesta. Kita berdoa agar kehendak-Nya terlaksana, bukan kehendak kita. Søren Kierkegaard berkata: “Doa tidak mengubah Tuhan, tetapi mengubah orang yang berdoa.”
Setelah semuanya itu barulah kita dapat menyampaikan permohonan sederhana kita, makanan, rejeki yang secukupnya, pengampunan atas dosa-dosa kita karena kita telah mengampuni orang lain sehingga Kerajaan-Nya dapat tumbuh dalam diri kita. Untuk masa depan kita, kita meminta perlindungan dari jerat si jahat yang berusaha terus-menerus untuk menjauhkan kita dari Kerajaan-Nya.
Doa yang sejati berkaitan dengan Allah, bukan dengan “saya”. Doa sejati mengarah kepada-Nya, bukan mengarah pada diri sendiri. Doa sejati mengubah saya.
Akhirnya, apa yang dikatakan oleh seorang penulis ini patut menjadi permenungan kita:
“Anda tidak dapat berdoa Bapa Kami dan anda sekali saja berkata “Saya”.
Anda tidak dapat berdoa Bapa kami dan tidak berdoa untuk orang lain.
Sebab saat anda memohon rejeki sehari-hari, anda harus menyertakan sesama anda.
Sebab sesama disertakan dalam setiap permohonan:
dari awal sampai akhir doa itu, tak pernah sekalipun anda berkata “saya.”
Tuhan, terima kasih telah menyadarkanku kembali bahwa doaku sering kali tidak berkenan di hati-Mu. Seperti Engkau mengajar murid-murid-Mu bagaimana cara berdoa, ajarlah aku lagi dan lagi. Amin.
Selamat pagi, selamat beraktivitas dalam kepercayaan akan kasih-Nya. ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC