Paroki Hati Kudus (Palembang)

Alamat dan Sekretariat:

Palembang – Hati Kudus
Nama Pelindung : Hati Kudus
Buku Paroki         : Sejak 01-04-1925 (sebelumnya di
Jumlah umat       : 1.230 jiwa (statistik 2015)
Stasi                       :
Alamat                  : Jl. Kol. Atmo132 Kotak Pos 241 Palembang 30001 (30125)
Tel                         : (0711) 350413 / 320396
E-mail                   : [email protected]

Visi Misi Paroki

Paroki Hati Kudus Palembang mempunyai Visi-Misi sebagai berikut:

Visi:

Umat Allah yang berziarah, terus-menerus memperbaharui diri, mandiri, tangguh dan misioner

Misi:

  1. Mewujudkan iman umat dalam kehidupan sehari-hari, dengan selalu memperbaharui diri dengan meningkatkan hidup imannya sehingga menjadi orang Katolik yang mengenal Allah secara pribadi dan menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidupnya.
  2. Didasari dengan baptisan lebih bertanggung jawab dalam memberikan kesaksian hidup sebagai umat beriman dan bersama masyarakat dalam persaudaraan yang tulus senantiasa memperjuangkan Kerajaan Allah demi terwujudnya kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bersama.

Sejarah

27 Desember 1923 Sumatera Selatan dipisahkan dari Prefektur Apostolik Sumatera, yang sejak awal dinamakan Prefektur Apostolik Padang. Daerah itu diberi nama Prefektur Apostolik Bengkulu. Tanjungsakti yang pada waktu itu termasuk wilayah Bengkulu dijadikan pos utama. Mgr. H.L. Smeets, yang telah lima tahun lamanya bekerja di Konggo (Zaire) diangkat menjadi Prefek Apostolik, sedangkan untuk jabatan kepala misi diserahkan pada Pastor H.J.D. Van Ort SCJ.

Para misionaris di bawah pimpinan pastor van Ort menjelajah seluruh daerah mencari kemungkinan yang bisa dikerjakan. Dalam pengamatan mereka, kota Palembang menjadi tempat yang strategis untuk menjadi pos utama, sebab kota ini merupakan kota terbesar dan terpenting di seluruh Sumatera Selatan.

Sejak hari raya Paskah 1925, Palembang menjadi pos tetap kegiatan para misionaris, meskipun Tanjung Sakti tetap menjadi pos utama. Pos ini didirikan berkat jasa para pater kapusin beberapa tahun sebelumnya. Sebagai pos di Palembang dipilih dua daerah yaitu Talang Jawa sekarang jalan Kolonel Atmo dihuni orang Tionghoa dan Talang Semut dihuni orang-orang Eropa. Saat itu di Palembang kira-kira baru ada 200 orang Katolik. Rumah yang dibeli menjadi tempai ibadat.

Sekitar tahun 1930-an di Palembang terdapat 16.000 orang Tionghoa, kebanyakan orang Tionghoa totok. Pastor van Gisbergen SCJ yang tiba di Palembang September 1933 bersama adiknya Br. Odolphus SCJ dari Nederland, dikirim ke Tiongkok tahun 1934 untuk belajar bahasa Tionghoa, dan dipilihnya bahasa Hokkian, sebab orang Tionghoa di Palembang berasal dari propinsi yang berbahasa Hokkian. Setahun belajar di Tiongkok, beliau kembali ke Palembang. Dan ternyata orang Tionghoa yang masuk Katolik bukan berbahasa Hokkian tapi Kanton. Beliau tidak putus asa bahkan dengan penuh semangat belajar bahasa Kanton. Sejak dimulainya misi di antara orang-orang Tionghoa ada perayaan ekaristi dalam bahasa Mandarin.

Menurut kesaksian umat, pelayanan awal Paroki Hati Kudus masih bersifat pastor sentris, semua urusan ditangani oleh pastor. Pelayanan pastoral antara lain perayaan ekaristi, mengirim komuni, kunjungan keluarga. Pelayanan sosial mencakup perawatan rumah sakit dan bantuan karitatif. Di bidang pendidikan meliputi pastoral sekolah, sumbangan pendidikan.

Pada mulanya paroki ini belum memiliki Dewan Paroki (Dewan Pastoral Paroki), jadi semua kegiatan dikoordinir team liturgi dan DBS (Dana Bantuan Sosial). Team Liturgi mengurus hal yang berkaitan dengan ibadat dan DBS mengurusi berbagai bidang (bantuan keluarga miskin, kematian, pinjaman modal usaha, pelayanan orangtua dan sakit (OST) dan majalah paroki, Soli Deo).

Berdasar Buku Petunjuk Gereja, Paroki Hati Kudus berdiri pada 01 April 1925. Jauh sebelum itu, pada 26 September 1872 Franciscus Laurentinus tercatat sebagai orang yang pertama kali dibaptis di Paroki Hati Kudus, dalam buku baptis (LM I No. 9).

Pertumbuhan umat Katolik di Palembang semakin cepat, maka diadakan pemekaran paroki, paroki St. Paulus Plaju, Paroki St. Yoseph dan Paroki St. Fransiskus de Sales. Kuatnya ikatan perasaan dan budaya membuat umat dari paroki lain tetap aktif berkegiatan di Paroki Hati Kudus. Maka muncullah kelompok Mandarin. Pada 1988 terbentuklah pelayanan kelompok Mandarin yang terorganisir seperti kelompok doa, legio Maria Mandarin.

Sumber https://phkplg.wordpress.com/